Search

andr4pratama

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

LAPORAN AKHIR PRATIKUM “TEKNOLOGI BENIH”

Gambar

 

PRAKTIKUM 1       

Judul : Struktur benih dikotil dan monokotil

Latar Belakang

Perkecambahan merupakan tahap awal perkembangan suatu tumbuhan , khususnya tanaman berbiji. Tahap perkembangan ini disebut perkecambahan. Perkecambahan biji monokotil dan dikotil memiliki perbedaan. Baik dari segi struktur maupun  pertumbuhannya.

Pertumbuhan dan perkembangan pada pertumbuhan biji dimulai dengan perkecambahan. Perkecambahan  adalah munculnya plantula (tanaman kecil dari biji). Embrio yang merupakan calon individu baru terdapat di dalam biji. Jika suatu biji tanaman ditempatkan pada lingkungan yang menunjang dan memadai,biji tersebut akan berkecambah.

 

Tujuan Pratikum

  • mempelajari struktur benih dikotil dan monokotil

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Dikotil

Adapun yang dimaksud dengan biji keeping dua (dikotil) adalah tumbuhan yang apabila kita belah, pada biji itu akan terdapat dua keeping. Namun, ada kalanya antara keeping yang satu dengan yang lain tidak sama besarnya. Apabila tumbuhan mempunyai banyak dahan dan ranting, maka dapat dipastikan tumbuhan tersebut memiliki biji berkeping dua (dikotil). Tumbuhan biji berkeping dua memiliki jenis akar yang berbeda dengan tumbuhan biji berkeping satu (monokotil). Tumbuhan biji berkeping dua akan memiliki akar tunggang. Tumbuhan monokotil dikelompokkan menjadi 5 suku, yaitu:

  • Rumput-rumputan (Graminae), ex : jagung, padi
  • Pinang-pinangan (Palmae), ex : kelapa, sagu
  • Pisang-pisangan (Musaceae), ex : pisang ambon, raja
  • Anggrek-angrekan (Orchidaceae), ex : anggrek, vanili
  • Jahe-jahean (Zingiberaceae), ex : jahe, kunyit

 

Pegertian Monokotil 

Monokotil adalah tumbuhan berkeping biji 1…seperti pada jagung,padi,dll……Ciri monokotil, yaitu (1) tulang daun umumnya sejajar (2) batang tak berkambium (3) akar serabut (4) bagian-bagian bunga kelipatan 3.Tumbuhan monokotil dikelompokan menjadi 5 suku, :Rumut-rumputan (Graminae), ex : jagung, padiPinang-pinangan (Palmae), ex : kelapa, saguPisang-pisangan (Musaceae), ex : pisang ambon, rajaAnggrek-angrekan (Orchidaceae), ex : anggrek, vaniliJahe-jahean (Zingiberaceae), ex : jahe, kunyit. Tumbuhan dikotil dikelompokkan menjadi 5 suku, yaitu:

  • Jarak-jarakan (Euphorbiaceae), ex : jarak, ubi, karet
  • Polong-polongan (Leguminoceae), ex : pete, kacang
  • Terung-terungan (Solanaceae), ex : terong, cabe, tomat
  • Jambu-jambuan (Myrtaceae), ex : jambu biji, jambu air
  • Komposite (Compositae), ex : bunga matahari

 

Perbedaan ciri pada tumbuhan monokotil dan dikotil berdasarkan ciri fisik pembeda yang dimiliki :

1. Bentuk akar
– Monokotil : Memiliki sistem akar serabut
– Dikotil : Memiliki sistem akar tunggang

2. Bentuk sumsum atau pola tulang daun
– Monokotil : Melengkung atau sejajar
– Dikotil : Menyirip atau menjari

3. Kaliptrogen / tudung akar
– Monokotil : Ada tudung akar / kaliptra
– Dikotil : Tidak terdapat ada tudung akar

4. Jumlah keping biji atau kotiledon
– Monokotil : satu buah keping biji saja
– Dikotil : Ada dua buah keping biji

5. Kandungan akar dan batang
– Monokotil : Tidak terdapat kambium
– Dikotil : Ada kambium

6. Jumlah kelopak bunga
– Monokotil : Umumnya adalah kelipatan tiga
– Dikotil : Biasanya kelipatan empat atau lima

7. Pelindung akar dan batang lembaga
– Monokotil : Ditemukan batang lembaga / koleoptil dan akar lembaga / keleorhiza
– Dikotil : Tidak ada pelindung koleorhiza maupun koleoptil

8. Pertumbuhan akar dan batang
– Monokotil : Tidak bisa tumbuh berkembang menjadi membesar
– Dikotil : Bisa tumbuh berkembang menjadi membesar

 

Pada umumnya biji terdiri atas bagian-bagian seperti berikut.
a. Kulit biji
b. Tali pusar
c. Inti biji atau isi biji

Kulit biji merupakan bagian terluar biji dan berasal dari selaput bakal biji.Pada umumnya, kulit biji dari tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) terdiri atas dua lapisan sebagai berikut.

 

 

 

 

Berdasarkan posisi kotiledon dalam proses perkecambahan dikenal perkecambahan hipogeal dan epigeal. Hipogeal adalah pertumbuhan memanjang dari epikotil yang meyebabkan plumula keluar menembus kulit biji dan muncul di atas tanah.Kotiledon relatif tetap posisinya.Contoh tipe ini terjadi pada kacang kapri dan jagung.Pada epigeal hipokotillah yang tumbuh memanjang, akibatnya kotiledon dan plumula terdorong ke permukaan tanah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

METODE PRATIKUM

 

Waktu dan Tempat

 pelaksanaan pratikum kali ini di lakukan pada :

            Tempat        :di lab teknologi benih pertanian fakultas pertanian universitas jambi

            Hari/tanggal : kamis/4-april -2013

            Waktu         : 12.30 wib-13.30

 

Bahan dan Alat

A. Bahan

      benih jagung

      benih kedelai

      benih kacang tanah

      benih padi

      buah tomat

      buah cabe

      buah coklat

      buah pinang

      buah mentimun

B.Alat

      pisau cater/silet

      tissue gulung

      kamera

      alat tulis

 

Cara Kerja

           

  • ambil benih yang akan di amati seperti jagung,kedelai,kacang tanah,dan padi
  • kemudian benih di belah secara melintang dan membujur
  • kemudian di lihat bagian-bagian dalam benih dan di dokumentasikan
  • ambil buah dan biji yang akan di amati
  • kemudian buah dan biji di buat irisan melintnag dan membujur
  • kemudian buah dan biji di amati struktur dari bentuk morfologi dan di dokumentasikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Gamabar benih jagung, padi, kacang tanah dan kedelai

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pembahasan

Pada struktur buah monocotyl seperti : jagung dan padi kulit buahnya dapat terlihat secara terpisah – pisah dan dapat dibedakan secara jelas, sedangkan pada struktur buah dikotil memiliki system perkecambahan perkepingan dua, jadi letak pericarp nya lebih spesifik lagi dan sulit untuk dibedakan secara visual.

Pada benih jagung terdapat seed coat, endosperm, koleoptil, plumule, radicle, coleorhiza dan embrio. Pada serealia dan rumputan monocot seperti embrio terdiri atas kotiledon (skutellum) dan embryonic axis.

Embryonic axis terdiri atas koleoptile, plumule, seminal roots (seperti jagung), radicle dan koleorhiza. Pada beberapa species yang termasuk serealia dan rumputan monocot seperti padi, gandum, sorgum, oats dan barley tidak terdapat seminal roots dan endosperm merupakan bagian yang terbesar. Endosperm dan embrio dibungkus oleh kulit biji.

 

PERTANYAAN

Dilihat dari struktur buahnya,apa perbedaan yang prinsip antara struktur benih dicotyil dan monokotil?

“Pada buah dikotil memiliki struktur benih pada saat perkecambahan ialah berkeping dua, sedangkan pada monocotyl ia memiliki satu keeping lembaga dan pada bagain buah nya terdapat serabut sebagai penguhubung lapisan dalam sehingga memudahkan kita untuk membedakan antar lapisan baik itu mesocarp, endocarp, maupun eksocarpnya.”

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://www.wikipedia.com./perkecambahan Perbedaan-monokotil-dan-dikotil.html

Pujiyanto, Sri.2008. Menjelajah Dunia Biologi 3. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

Sudjadi, Bagod. 2005. Biologi, Sains dalam Kehidupan 3A. Surabaya: Yudhistira.

Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. Malang: Fakultas Pertanian UNIBRAW

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM  II

Judul  : Struktur biji dan buah

Latar Belakang

Buah dan biji adalah bagian dari organ reproduksi tumbuhan tingkat tinggi. Pada hakekatnya keberadaan buah hanya dapat dijumpai pada tumbuhan yang memiliki fungsi dan tujuan yang sama yaitu untuk menjamin kehindupannya. Tumbuhan berbiji terbagi menjadi dua kelas yakni angiospermae (tumbuhan berbiji terbuka) dan gymnospermae (tumbuhan berbijitertutup).Angiospermae terdiri dari monokotiledon dan dikotiledon.

Struktur biji dikotil dan monokotil memiliki struktur biji yang berbedadengan fungsinya masing-masing.Struktur biji erat kaitannya dengan cadangan makanan karenaakumulasi cadangan makanan berhubungan dengan tempat dimanacadangan tersebut akan disimpan. Derajat dan macam variasi komponen dalam perkembangannya sama atau tidak semua tergantung denganbeberapa struktur dasar yang berbeda untuk masing-masing tipe biji.Pengetahuan tentang struktur biji akan memberikan pemahaman yang baik tentang perbedaan struktur biji antara tanaman monokotil dan dikotil.Maka dari itu, diadakan praktikum mengenai struktur biji.

Buah adalah suatu hasil dari proses akhir yang mulai dari penyerbukan atau persarian. Pada hakikatnya buah hanya dibedakan kedalam 2 jenis, yang pertama adalah buah semu dan yang kedua adalah buah sejati. Tak lepas dari penamaan buah tersebut menjadi buah sejati dan buah semu dapat dilihat dari struktur buahdan bagian-bagian buah yang ada pada buah.

Misalnya dikatakan buah sejati atau buah sebenarnya adalah ketika bentuk buah tidak terhalangi oleh bagian-bagianbuah yang ada, pengecualian tetap ada, seperti pada buah jambu mete terlihat tangkai bunga yang membesar seperti buah, padahal bagian yang membesar itu bukan buah tapi tangkai buah.. Dikatakan buah semu karena terlihat bagian-bagian yang menghalangi ataumembungkus buah yang sebenarnya, seperti pada buah ciplukan bagian buahnyaterhalang oleh kelopak bunga yang ikut tumbuh dalam proses pembuahan dankemudian tumbuh dan membungkus bagian buah yang sebenarnya .Selain itu, ada juga pengkhususan-pengkhususan pada buah, seperti buahsemu dibagi lagi menjadi buah semu tunggal, buah semu ganda, dan buah semu majemuk. pada buah semu kadangkala bentuknya dapat menipu dan membuat keliru khususnya bagi orang-orang awam yang tidak mengenal bagian mana yangdisebut buah pada buah semu, kadang kita juga suka tertipu oleh bentuk buah.

Teknologi benih adalah suatu ilmu pengetahuan mengenai cara-cara untuk dapat memperbaiki sifat- sifat genetic dan fisik dari benih yang mencakup kegiatan seperti pengembangan varietas, penilaian dan pelepasan varietas, produksi benih, pengolahan, penyimpanan, serta sertifikasi benih. Benih memiliki tipe perkecambahan yang berbeda-beda. Terdapat dua tipe perkecambahan yaitu epigeal dan hipogeal. Pada tanaman dikotil kebanyakan memiliki tipe perkecambahan epigeal sedangkan tanaman monokotil mempunyaitipe perkecambahan hipogeal.

 

Tujuan           : Untuk mempelajari struktur biji dan buah.  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TINJAUAN PUSTAKA

Buah adalah organ pada tumbuhan berbunga yang merupakan perkembangan lanjutan dari bakal buah (ovarium). Buah biasanya membungkus dan melindungi biji. Aneka rupa dan bentuk buah tidak terlepas kaitannya dengan fungsi utama buah, yakni sebagai pemencar biji tumbuhan.

Pengertian buah dalam lingkup pertanian (hortikultura) atau pangan adalah lebih luas daripada pengertian buah di atas dan biasanya disebut sebagai buah-buahan. Buah dalam pengertian ini tidak terbatas yang terbentuk dari bakal buah, melainkan dapat pula berasal dari perkembangan organ yang lain. Karena itu, untuk membedakannya, buah yang sesuai menurut pengertian botani biasa disebut buah sejati.

Dalam pandangan botani, buah adalah sebagaimana tercantum pada paragraf pertama di atas. Pada banyak spesies tumbuhan, yang disebut buah mencakup bakal buah yang telah berkembang lanjut beserta dengan jaringan yang mengelilinginya. Bagi tumbuhan berbunga, buah adalah alat untuk menyebar luaskan biji-bijinya; adanya biji di dalam dapat mengindikasikan bahwa organ tersebut adalah buah, meski ada pula biji yang tidak berasal dari buah.

Dalam batasan tersebut, variasi buah bisa sangat besar, mencakup buah mangga, buah apel, buah tomat, cabai, dan lain-lain. Namun juga bulir (kariopsis) padi, ‘biji’ (juga merupakan bulir!) jagung, atau polong kacang tanah. Sementara, dengan batasan ini, buah jambu monyet atau buah nangka tidak termasuk sebagai buah sejati.

Buah-buah itu sedemikian beragam, sehingga sukarlah rasanya untuk menyusun suatu skema pengelompokan yang dapat mencakup semua macam buah yang telah dikenal orang. Belum lagi adanya kekeliruan-kekeliruan yang mempertukarkan pengertian biji dan buah (misal: ‘biji’ jagung, yang sesungguhnya adalah buah secara botani).

Baik buah sejati (yang merupakan perkembangan dari bakal buah) maupun buah semu, dapat dibedakan atas tiga tipe dasar buah, yakni:

  • buah tunggal, yakni buah yang terbentuk dari satu bunga dengan satu bakal buah, yang berisi satu biji atau lebih.
  • buah ganda, yakni jika buah terbentuk dari satu bunga yang memiliki banyak bakal buah. Masing-masing bakal buah tumbuh menjadi buah tersendiri, lepas-lepas, namun akhirnya menjadi kumpulan buah yang nampak seperti satu buah. Contohnya adalah sirsak (Annona).
  • buah majemuk, yakni jika buah terbentuk dari bunga majemuk. Dengan demikian buah ini berasal dari banyak bunga (dan banyak bakal buah), yang pada akhirnya seakan-akan menjadi satu buah saja. Contohnya adalah nanas (Ananas), bunga matahari (Helianthus).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat  

Praktikum Teknologi Benih ini dilaksanakan pada :

Hari                :Kamis, 4 april 2013,pukul 13:00 s/d 14:30 wib

Tempat            :Di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian universitas jambi.

Alat dan Bahan        

 Alat                 : Pisau Silet, LUP, Cutter

 Bahan             : Buah coklat, timun, jagung, padi, kedelai, kacang tanah, tomat.

Cara Kerja  : Gambarkan pandangan luar dan pandangan dalam dengan membuat irisan melintang atau membujur dari buah-buah serta biji yang diamati. Kemudian beri nama bagian-bagiannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar buah coklat, mentimun, jagung, padi,kedelai, kacang tanah, dan pinang

 

 

 

 

 

PERTANYAAN

Kelompokkanlah buah-buah yang saudara amati, berdasarkan type buahnya !

      Jawaban    :

  1. Buah basah :mentimun, coklat, tomat,jagung
  2. Buah kering :kedelai,kacang tanah dll

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM III

Judul : Tipe Pemunculan Bibit dan Struktur Bibit

Latar Belakang

Benih disni adalah biji tanaman yang digunakan untuk tujuan pertanaman. Sehingga masalah teknologi benih berada dalam ruang lingkup agronomi. Agronomi sendiri diartikan sebagain suatu gugus ilmu pertanian yang mempelajari pengelolaan lapang produksi dengan segenap unsur alam (iklim, tanah, air), tanaman, hewan, dan manusia untuk mencapai produksi tanaman secara maksimal. Berarti benih yang baik disini merupakan salah satu sarana untuk mendapatkan produksi yang setinggi-tingginya.Benih adalah simbol dari suatu permulaan, ia merupakan inti dari kehidupan di alam semesta dan yang paling penting adalah kegunaannya sebagai penyambung dari kehidupan tanaman. Untuk itu sangat dibutuhkan benih-benih yang berkualitas. Berbicara mengenai kualitas benih, istilah ini dapat ditafsirkan secara umum bahwa kualitas benih harus mewakili penampilan kemampuan pada faktor-faktor seperti kebenaran varietas, presentase perkecambahan, presentase biji rerumputan, kekuatan tumbuh, bebas dari hama dan penyakit serta kontaminan-kontaminan lainnya.

Perkecambahan adalah munculnya plantula (tanaman kecil) dari dalam biji yang merupakan hasil pertumbuhan dan perkembangan embrio. Pada perkembangan embrio saat berkecambah, bagian plumula tumbuh dan berkembang menjadi batang, sedangkan radikula menjadi akar. Menurut Kamil., (1982) perkecambahan merupakan pengaktifan kembali aktivitas pertumbuhan embryonic axis didalam biji yang terhenti untuk kemudian membentuk bibit. Berdasarkan letak kotiledon pada saat perkecambahan dikenal dua tipe perkecambahan yaitu hypogeal dan epigeal.

Tujuan Pratikum

      Melihat tipe pemunculan bibit yang epigeal dan hypogeal.

      Mengetahui struktur-struktur penting dari bibit.

TINJAUAN PUSTAKA

Perkecambahan adalah munculnya plantula (tanaman kecil) dari dalam biji yang merupakan hasil pertumbuhan dan perkembangan embrio. Pada perkembangan embrio saat berkecambah, bagian plumula tumbuh dan berkembang menjadi batang, sedangkan radikula menjadi akar.

Tipe perkecambahan ada dua macam, tipe itu sebagai berikut.

  1. Tipe perkecambahan di atas tanah (Epigeal)
    Tipe ini terjadi, jika plumula dan kotiledon muncul di atas permukaan tanah
  2.  (perhatikan Gambar 1.2)
    Contoh: perkecambahan kacang hijau (Vigna radiata)

 

 

b. Tipe perkecambahan di bawah tanah (Hipogeal)
Tipe ini terjadi, jika plumula muncul ke permukaan tanah sedangkan kotiledon tinggal di dalam tanah (perhatikan Gambar 1.3)
Contoh: perkecambahan kacang kapri (Pisum sativum), Jagung (Zea mays)

 

Makanan untuk pertumbuhan embrio diperoleh daricadangan makanan karena belum terbentuknya klorofil yang diperlukan dalam fotosintesis. Pada tumbuhan dikotil makana diperoleh dari kotiledon, sedangkan pada tumbuhan monokotil diperoleh dari endospe

 

 

METODE PRATIKUM

Waktu dan Tempat

Praktikum dilaksanakanpadahari kamis,18-april-2013, Pukul 13.00 WIB – selesai. Bertempat di Laboratoriumteknologi benih Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

 

Bahan dan Alat

  • Bahan
  1. Benih padi
  2. Benih jagung
  3. Benih kedelai
  4. Benih padi

 

  • Alat
  1. Pot
  2. Tanah
  3. Pasir
  4. Cawan
  5. Oven
  6. Moisture tester
  7. Timbangan analitik
  8. Alat-alat tulis

Cara Kerja

  1. Amati kapan masing-masing bibit muncul di atas permukaan medium (hst)dan tentukan struktur apa yang pertama kali muncul .
  2. Amati struktur-struktur penting dari masing-masing bnibit.
  3. Mana bibit yang bertype hypogeal dan epigeal serta gamabar dan bagian-bagianya
  4. Perbedaan biji,benih,buah dan serta kecambah.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

 

 

Terdapat 2 tipe perkecambahan yaitu hypogeal dan epygeal. Pada perkecambahan hypogeal terjadi pertumbuhan memanjang dari plumula yang menyebabkan plumula keluar menembus kulit biji dan muncul diatas tanah sedangkan kotiledon tetap berada di dalam tanah, contohnya jagung. Biji jagung bertipe biji hipokotil dan komponen bijinya adalah seminal root, biji, coleoptil, radikel, leaf, dan adventif root. Sedangkan biji kedelai bertipe biji epikotil dan komponen biji kedelai terdiri dari cotyledon, plimule, radikel, epokotil, hipokotil, primary root, secondary root serta leaf.

Epigeal
Pada perkecambahan ini hipokotil tumbuh memanjang akibatnya kotiledon dan plumula terdorong ke permukaan tanah, sehingga kotiledon berada diatas tanah, contohnya kacang tanah

KESIMPULAN

Perkecambahan biji dapat dibekan menjadi 2, yaitu :

  1. Epigeal

            Perkecambahan epigeal adalah apabila terjadi pembentangan ruas batang di bawah daun lembaga atau hipokotil sehingga mengakibatkan daun lembaga dan kotiledon terangkat ke atas tanah, misalnya pada kacang hijau (Phaseoulus radiatus).

  1. Hipogeal

            Perkecambahan hipogeal adalah apabila terjadi pembentangan ruas batang teratas (epikotil) sehingga daun lembaga ikut tertarik ke atas tanah, tetapi kotiledon tetap di bawah tanah. Misalnya pada biji kacang kapri (Pisum sativum).Dan yang termasuk tanaman epigeal yaitu jagung, padi dan yang termasuk tanaman hypogeal yaitu kacang tanah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bass N. Louis. 1994. Prinsip dan Praktek Penympangan Benih. PT Raja Grafirdo Persada. Jakarta.

Kartasapoetra G, Ance. 2003. Teknologi Benih Pengolahan Benih dan Tuntunan Praktikum. PT Rineka Cipta. Jakarta.

Pramono, Eko. 2009. Penuntun Praktikum Teknologi Benih. Bandarlampung. Universitas Lampung.
Sadjad, Sjamsoe’oed. 1999. Parameter Pengujian Vigor Benih. Grasindo. Jakarta.

tolong kasih komentarnya yaaa.. sama jangan lupa join site ini😀 salam blogger😀 GOMAWOYO

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM IV

Judul : Pengukuran Kadar Air Benih

Latar Belakang

Seperti yang diketahui pada umumnya, benih merupakan material yang higroskopis, yang memiliki susunan yang komples dan heterogen. Air merupakan bagian yang fundamental terdapat demikian rupa dalam benih, artinya terdapat di setiap bagian dalam benih. Kadar air benih tergantung pada lembab relative dan temperatur. Kadar air benih adalah jumlah air yang terkandung dalam benih. Pengukurannya dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara langsung atau tidak langsung. Pengukuran dengan cara langsung yaitu dengan menguapkan seluruh air yang terkandung oleh benih. Penguapan itu biasa dilakukan mengunakan oven. kadar air adalah selisih antar bobot benih sebelum dikeringkan (Bo) dan bobot benih setelah dikeringkan semua air nya (B1).

Pengukuran kadar air benih dengan cara tak langsung adalah pengukuran kadar air menggunakan alat pengukur kadar air elektronik, misalnya dengan moister terster tipe steinlet, dengan alat pengukur kadar air, kita mengetahui kadar air benih tidak langsung mengukur jumlah air yang terkandung benih tetapi melalui nilai setaraan antara daya hantar listrik benih akibat adanya air didalamnya. Jika alat ukurnya bekerjadengan baik, maka hasil pengukuran kadar air dari kedua cara itu tidak berbeda.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengujian kadar air benih ini adalah contoh kerja yang digunakan merupakan benih yang diambil dan ditempatkan dalam wadah yang kedap udara, sehingga kadar airnya tidak berubah. Apabila contoh kerja terkontaminasi udara maka kemungkinan besar kadar air benih yang diuji bukan merupakan kadar air yang sebenarnya.

Tujuan

Mempelajari dua cara pengukuran kadar air benih dengan metode langsung dan tidak langsung

TINJAUAN PUSTAKA

Pada hakekatnya vigor benih harus relevan dengan tingkat produksi, artinya dari benih yang bervigor tinggi akan dapat dicapai tingkat produksi yang tinggi. Vigor benih yang tinggi dicirikan antara lain tahan disimpan lama, tahan terhadap serangan hama penyakit, cepat dan merata tumbuhnya serta mampu menghasilkan tanaman dewasa yang normal dan berproduksi baik dalam keadaan lingkungan tumbuh yang sub optimal. Pada umumnya uji vigor benih hanya sampai pada tahapan bibit. Karena terlalu sulit dan mahal untuk mengamati seluruh lingkaran hidup tanaman. Oleh karena itu digunakanlah kaidah korelasi misal dengan mengukur kecepatan berkecambah sebagai parameter vigor, karena diketahui ada korelasi antara kecepatan berkecambah dengan tinggi rendahnya produksi tanaman. Rendahnya vigor pada benih dapat disebabkan oleh beberapa hal antara lain faktor genetis, fisiologis, morfologis, sitologis, mekanis dan mikrobia (Sutopo, 1984).

Komposisi kimia benih mempengaruhi kadar air keseimbangan benih dengan lingkungannya. Jumlah kelembaban benih pada saat keseimbangan berkaitan langsung dengan kimia benih (Sadjad, 1993).

Penentuan kadar air benih dan suatu kelompok benih sangat penting untuk dilakukan karena laju kemunduran suatu benih dipengaruhi pula oleh kadar airnya (Sutopo, 1984).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengujian kadar air benih ini adalah contoh kerja yang digunakan merupakan benih yang diambil dan ditempatkan dalam wadah yang kedap udara, karena itu penetapan kadar air, jika contoh kerja yang digunakan telah terkontaminasi udara luar maka kemungkinan besar kadar air benih yang diuji bukan merupakan kadar air benih yang sebenarnya karena telah mengalami perubahan akibat kontaminasi udara dari lingkungan (Anonymous, 2011).

Umumnya pada tanaman legume dan padi-padian, ovule atau tepatnya embryosac yang sedang mengalami proses fertilisasi mempunyai kadar air kira-kira 80%. Dalam berapa hari kemudian kadar air ini meningkat sampai kira-kira 85%, dan pelan-pelan menurun secara teratur (Kamil, 1986).

Benih merupakan material yang higroskopis, memiliki susunan yang kompleks dan heterogen. Air merupakan bagian yang fundamental terdapat demikian rupa dalam benih, artinya terdapat di setiap bagian benih. Kadar air benih karena keadaan yang higroskopis itu tergantung pada lembab relative dan temperature. Apabila tekanan uap dalam benih ternyata lebih besar daripada tekanan udara disekitarnya, maka uap air akan menerobos dan keluar dari dalam benih, dan begitu pula sebaliknya. Apabila tekanan uap di dalam benih sama kuatnya dengan tekanan uap di luar benih, maka dalam keadaan demikian tidak akan terjadi pergerakan. Kondisi ini dikatakan kadar air yang seimbang ( Katrasapoetra, 1986).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat

Praktikum Teknologi Benih ini dilaksanakan pada :

Hari                : Kamis 18 april 2013,pukul 13:00 s/d 14:30 wib.

Tempat            : Di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

Alat dan Bahan        

 Alat                 : Cawan, oven, moisture tester, timbangan analitik, OGA digital model TD-5, alat tulis dll.

 Bahan             : Benih kedelai

Cara Kerja  : 1. Kadar air benih diukur dengan alat pengukur kadar air benih, yaitu moisture tester dan OGA digital TD-5. Sebelum kadar air benih ditentukan terlebih dahulu alat dikalibrasikan. Berat contoh kerja disesuaikan dengan kebutuhan alat yang digunakan, bck diambil secara random. Setelah itu catat hasil pengamatannya. Percobaan diulang 3 kali.

   2. Ambil 25-50 biji kedelai secara acak. Kemudian tentukan kadar airnya dengan oven pada suhu 105o C selama 1 x 24 jam. Percobaan diulang tiga kali. Untuk mengukur kadar air benih dengan metoda oven digunakan rumus sebagai berikut :

Berat basah   –   berat kering

                                                                 X 100 %

              Berat kering

Keterangan : Berat basah adalah berat sampel sebelum dioven.

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Metode

Kadar Air Benih

Keterangan

Jenis Tanaman

U1

Tidak Langsung

Kel 1

Kacang Tanah

8,1 %

 

Jagung

22,9 %

Padi

9,8 %

Kedelai

12,8 %

Tidak Lansung

Kel 2

Kacang Tanah

8,1 %

 

Jagung

22,6 %

Padi

9,6 %

Kedelai

12,5 %

Tidak Langsung

Kel 3

Kacang Tanah

8,2 %

 

Jagung

20,3 %

Padi

9,5 %

Kedelai

12,1 %

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Dari hasil dan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa untuk kedelai dengan varietas Anjasmoro yang diperoleh dari Bapak Dimas tersebut memiliki kadar air 19,8 %. Benih murni yang terdapat dalam satu kantong benih yang diperoleh adalah 98,78%. Kotoran benih hanya 1 gram atau senilai 0,25 % dan tidak ada benih varietas lain maupun benih rumputan yang dapat mengurangi kemurnian benih.

PERTANYAAN

1. Isilah tabel dibawah ini berdasarkan tabel pengamatan saudara!

2. berikan komentar saudara berdasarkan data yang saudara peroleh dari masing-masing metode!

3. mana metode langsung atau tidak langsung pada pelaksanaan praktikum Ini.

4. metode mana yang paling baik menurut saudara, berikan alasannya!

JAWABAN :

No 1 & 2 pada hasil dan pembahasan

3. Metode langsung adalah metode dengan menggunakan alat pengukur kadar air yaitu Grain Moesture, sedangkan secara tidak langsung mengunakan oven.

4. Metode yang paling baik dalam mengetahui kadar air suatu benih, yang paling baik adalah metode secara langsung, yaitu dengan mengunakan Alat pengukur kadar air, yaitu Grain moesture. Dengan mengunakan alat ini keta bisa mengetahui secara tepat kadar air benih yang kita ukur tanpa adanya kesalahan seperti dalam pengukuran secara tidak langsung. Dan juga metode ini lebih praktis dibandingkan dengan metode secara tidak langsung

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2011. Pengujian Kadar Air Benih. (http//wikipedia.com). Diakses pada Kamis, 03 November 2011, pukul 18:38).

Kamil, J. 1986. Teknologi Benih. Padang : Angkasaraya. Kartasapoetra, Ance G. 1986. Teknologi Benih, Pengolahan Benih, dan Tuntunan Praktikum. Jakarta :PT Rineka Cipta.

Sadjad, Sjamso’oed. 1993. Dari Benih Kepada Benih. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Sutopo, Lita. 1984. Teknologi Benih. Jakarta : CV Rajawali Pers.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM V

Judul : Pengujian Kemurnian Benih

Latar Belakang

            Benih murni merupakan salah satu komponen dalam pengujian benih sangat penting dalam menghasilkan benih yang berkualitas tinggi. Pada pengujian daya berkecambah, benih yang diuji diambil dari fraksi benih murni.Benih murni yang merupakan salah satu komponen dalam pengujian benih, sangat penting dalam menghasilkan benih yang berkualitas tinggi.Pada pengujian daya berkecambah, benih yang diuji diambil dari fraksi benih murni.Dengan demikian hasil pengujian kemurnian benih dan daya kecambah benih mempengaruhi nilai benih untuk tujuan pertanaman. Pengujian kemurnian digunakan untuk mengetahui komposisi contoh kerja, kemurnian, dan identitasnya yang akan mencerminkan komposisi lot benih yang didasarkan pada berat komponen pengujian.

 

Tujuan Pratikum

  1. Untuk menentukan komposisi contoh kerja benih yang di uji.
  2. Untuk mengetahui identitas  macam spesies benih dan bagian-bagian kotoran benih dalam contoh kerja benih yang di uji.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TINJAUAN PUSTAKA

 

            Pengujian kemurnian benih merupakan kegiatan-kegiatan untuk menelaah tentang kepositifan fisik komponen-komponen benih termasuk persentase berat dari benih murni (pure seed), benih tanaman lain, benih varietas lain, biji-bijian herba (weed seed), dan kotoran-kotoran pada masa benih. (Kartasapoetra, Ance. 2003).

Pengujian benih merupakan metode untuk menentukan nilai pertanaman di lapangan. Oleh karena itu, komponen-komponen mutu benih yang menunjukan korelasi dengan nilai pertanaman benih di lapang harus dievaluasi dalam pengujian. Dalam pengujian benih mengacu dari ISTA, dan beberapa penyesuaian telah diambil untuk mempertimbangkan kebutuhan khusus (ukuran, struktur, pola perkecambahan) jenis-jenis yang dibahas di dalam petunjuk ini. Beberapa penyesuaian juga telah dibuat untuk menyederhanakan prosedur pengujian benih. Pengujian benih mencakup pengujian mutu fisik fisiologi benih. Petunjuk ini menjelaskan bagaimana mempersiapkan contoh yang mewakili lot benih untuk keperluan pengujian, dan bagaimana melakukan pengujian benih, salah satunya yaitu analisis kemurnian.

Tujuan analisis kemurnian adalah untuk menentukan komposisi benih murni, benih lain dan kotoran dari contoh benih yang mewakili lot benih. Untuk analisis kemurnian benih, maka contoh uji dipisahkan menjadi 3 komponen sebagai berikut :

a)                   Benih murni, adalah segala macam biji-bijian yang merupakan jenis/ spesies yang sedang diuji. Yang termasuk benihmurni diantaranya adalah :

–                      Benih masak utuh

–                      Benih yang berukuran kecil, mengkerut, tidak masak

–                      Benih yang telah berkecambah sebelum diuji

–                     Pecahan/ potongan benih yang berukuran lebih dari separuh benih yang sesungguhnya, asalkan dapat dipastikan bahwa pecahan benih tersebut termasuk kedalam spesies yang dimaksud

–                      Biji yang terserang penyakit dan bentuknya masih dapat dikenali

b)                  Benih tanaman lain, adalah jenis/ spesies lain yang ikut tercampur dalam contoh dan tidak dimaksudkan untuk diuji.

c)                   Kotoran benih, adalah benih dan bagian dari benih yang ikut terbawa dalam contoh. Yang termasuk kedalam kotoran benih adalah:

–                      Benih dan bagian benih

  • Benih tanpa kulit benih
  • Benih yang terlihat bukan benih sejati
  • Bijihampa tanpa lembaga pecahan benih ≤ 0,5 ukuran normal
  • Cangkang benih
  • Kulit benih

–                      Bahan lain

  • Sekam, pasir, partikel tanah, jerami, ranting, daun, tangkai, dll.

Dalam pengambilan contoh kerja untuk kemurnian benih ada dua metode yang dapat dilakukan, yaitu:

a)      Secara duplo, adalah pengambilan contoh kerja yang dilakukan dua kali.

b)      Secara simplo, adalah pengambilan contoh kerja yang dilakukan satu kali.

Setelah dilakukan pengabilan contoh kerja maka dilakukan penimbangan untuk mengetahui berat awal benih sebelum dilakukan pengujian kemurnian. Tahap selanjutnya adalah analisis kemurnian, setiap benih diidentifikasi satu persatu secara visual bedasarkan penampakan morfologi. Semua benih tanaman lain dan kotoran benih dipisahkan. Setelah itu dilakukan penimbangan pada setiap komponen tersebut.

METODE PRATIKUM

Tempat dan Waktu

Praktikum dilaksnakan pada hari kamis, 11-april-2013, Pukul 13.00 WIB – selesai. Bertempat di Laboratorium teknologi benih Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

 

Alat dan Bahan

      Alat

  1. Timbangan analitik
  2. Kantong plastik kecil/besar
  3. Meja analisis
  4. Alat tulis/label nama

 

      Bahan

  1. Benih kedelai
  2. Benih kacang tanah
  3. Benih padi
  4. Benih jagung

 

Cara Kerja

  1. Timbang contoh kerja seberat 500 gram
  2. Letakan contoh kerja tersebut di atas meja analisis yang di lapisi dengan plastik.
  3. Tentukan (pisahkan) komponen-komponen sebagai berikut :
    1. Berat murni (pure seed),BM dalam %
    2. Kotoran benih (inert matter)Kbdalam %
    3. Benih tanaman lain?varietas lain (other crop seed ),BL dalam %.
    4. Benih rerumpun /gulma (weed seed),Br dalam %.

4.timbang masing-masing komponen dan tentukan komponen dan tentukan persentasenya.pengamtan di buatdalam bentuk tabel.agar hasil tidak tercecer,maka hasil pemisahan tersebut di letakan didalam kantong plastikkecil.

  1. hasil 1; BM =…………….%

KB =…………….%

BL =…………….%

BR =…………….%

Berat komponen setelah di timbang hendaknya tidak berselisih  lebih dari 1% dengan berat awal ,seandainya terjadi selisih lebih nbesar 1%pengujian harus di ulang lagi.

Perhitungan :karena bck > 25 gram,maka cara menghitung persentase komponen-komponen tersebut sebagai berikut :

  1. Persentase berat dari masing-masing komponen (kecuali berat benih murni)di hitung terhadap berat asli contoh kerja.
  2. Komponen benih murni di hitung dengan mengurangi angka 100%dengan jumlah %berat -3 komponen lainya.

A / bck x 100%

 

A= berat komponen

Bck =berat contoh kerja

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pengamatan

           

Nama benih

Benih kedelai

Benih jagung

Benih kacang tanah

Benih padi

Berat keseluruhan

500 grm

500 gram

500 grm

500 grm

Berat murni

440 grm

488 grm

410 grm

486 grm

Berat kotor

50 grm

12 grm

90 grm

15 grm

 

Pembahasan

            Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan mengenai pengujian kemurnian benih yang mana disini kita melakukan pengamatan sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan.Didalam praktikum ini kita melakukan pekerjaan memisahkan benih yang mana nantinya akan didapatkan kemurnian benih, disini ada 3 hal yang dilakukan untuk mengetahui mutu benih murni diantaranya, penimbangan bobot awal dari macam benih padi, jagung,kedelai,dan kacang tanah (benih murni), bobot bersih, dan berat kotoran. Dari ketiga hal yang dilakukan ini, yang nantinya kita harapkan untuk mendapatkan pemilhan mutu benih.Dari penimbangan bobot awalpada masing- masing benih  benih keseluruhan 500 grm benih kedelai didapatkan beratnya yaitu, bobot bersih 440 grm dan berat kotor50 grm.   Pada penimbangan benih jagung beratnya yaitu500 grm, bobot bersih 488 grm, dan berat kotor12 grm.Pada penimbangan benih padi didapatkan berat awal yaitu 500 grm, bobot bersih 486 grm, dan berat kotor15 grm.pada kacng tanh berat awal di dapat 500 grm,dan berat bersih 410 grm,dan berat kotornya dio dapat 15 grm.

 

Dari hasil penimbangan yang di lakukan, yang pertama diperoleh untuk masing-masing benih penghitungnnya sebagai berikut :

 

Benih kedelai

            Benih murni (%)          =          bobot benih murni (gr)               x 100%

                                                                        Bobot akhir pengukuran (gr) 

                                    =       440             x 100% = 88 %

                                             500

            Kotoran (%)               =           bobot kotoran                         x 100%

                                                                         Bobot akhir pengukuran

                                                            =     50             x100 % = 10 %

                                                                  500           

 

 Benih jagung

            Benih murni (%)          =          bobot benih murni (gr)               x 100%

                                                                        Bobot akhir pengukuran (gr) 

                                    =      488              x 100% = 97,6 %

                                            500

            Kotoran (%)               =           bobot kotoran                         x 100%

                                                                         Bobot akhir pengukuran

                                                            =     12 x100 % = 2,4 %

                                                                   500          

Benih padi

            Benih murni (%)          =          bobot benih murni (gr)               x 100%

                                                                        Bobot akhir pengukuran (gr) 

                                    =      486              x 100% = 97 %

                                            500

            Kotoran (%)               =           bobot kotoran                         x 100%

                                                                         Bobot akhir pengukuran

                                                            =     15             x100 % = 3%

                                                                   500          

 

Benih kacang tanah

Benih murni (%)          =          bobot benih murni (gr)               x 100%

                                                                        Bobot akhir pengukuran (gr) 

                                    =      410              x 100% = 82 %

                                            500

            Kotoran (%)               =           bobot kotoran                         x 100%

                                                                         Bobot akhir pengukuran

                                                            =     90             x100 % = 18%

                                                                   500

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

 

            Tujuan analisis kemurnian adalah untuk menentukan komposisi benih murni, benih lain dan kotoran dari contoh benih yang mewakili lot benih. Dengan mengetahui kemurnian benih kita dapat menentukan mutu benih tersebut.

Faktor kehilangan benih dalam pengujian ini lebih kecil dari 5%, sehingga pengujian itu dapat dikatakan benih yang digunakan pada praktikum ini bermutu fisik baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ir. Marwanto , Msc, Ph.d .2010,penuntun praktikum mata kuliah teknologi benih. Jurusan budidaya pertanian.Fakultas pertanian. Universitas Bengkulu. Bengkulu

 

Copeland LO dan McDonald MB. 1985. Principles of Seed Science and Technology. 2­­­nd edn. New York: Mcmillan Publishing Co.

 

Rashid MA dan Singh DP. 2000. A Manual on Vegetable Seed Production. Bangladesh Agricultural Research Instititute

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM VI

Judul : Uji Daya Berkecambah

Latar Belakang

Daya berkecambahnya benih dapat diartikan sebagai berkembangnya bagian-bagian penting dari embrio suatu benih yang menunjukkan kemampuannya untuk tumbuh secara normal pada lingkungan yang sesuai. Dengan demikian, pengujian daya tumbuh atau daya berkecambah benih ialah pengujian akan sejumlah benih, beberapa persentase dari jumlah benih tersebut yang dapat atau mampu berkecambah pada jangka waktu yang telah ditentukan.Kemampuan tumbuh secara normal, yaitu dimana perkecambahan benih tersebut menunjukkan kemampuan untuk tumbuh dan berkembang menjadi bibit tanaman dan tanaman yang baik dan normal, pada lingkungan yang telah disediakan yang sesuai bagi kepentingan pertumbuhan dan perkembangannya.

Beberapa penilaian yang kurang atau tidak baik terhadap benih, yaitu apabila:
a) Dalam perkecambahannya,tunas keluar terlebih dahulu dari pada akarnya.
b) Benih sama sekali tidak mengeluarkan akar, hanya tunas.
c) Akar kecambah berbentuk spiral, ujungnya tumpul atau membesar serta mengkilat.
d)  Akar kecambah yang keluar bukan akar utama, melainkan akar samping.
Faktor dalam yang mempengaruhi perkecambahan yaitu sebagai berikut :

Tujuan Pratikum

  • Menentukan persentase dari perkecambahan benih
  • Untuk menentukan  daya berkecambah benih(seed vaibility)
  • Untuk menentukan kekuatan tumbuh benih (seed vigor)

 

 

TINJAUAN PUSTAKA

Pengujian daya kecambah adalah mengecambahkan benih pada kondisi yang sesuai untuk kebutuhan perkecambahan benih tersebut, lalu menghitung presentase daya berkecambahnya. Persentase daya berkecambah merupakan jumlah proporsi benih-benih yang telah menghasilkan perkecambahan dalam kondisi dan periode tertentu. Tujuan dari pengujian daya berkecambah adalah :

a) Memperoleh informasi nilai penanaman benih dilapangan

b) Membandingkan kualitas benih antar seed lot (kelompok benih)

c) Menduga storabilitas (daya simpan) benih

d) Memenuhi apakah nilai daya berkecambah benih telah memenuhi peraturan yang berlaku.

Hal yang pertama dilakukan untuk uji daya kecambah yaitu, menentukan contoh kerja untuk uji daya kecambah. Contoh kerja yang dibutuhkan untuk uji daya kecambah ini memiliki ketentuan sebagai berikut:

a) Contoh kerja berasal dari fraksi benih murni

b) Berjumlah 400 butir

c) Terdiri dari 4 ulangan @ 100 butir

d) Bila kapasitas wadah perkecambahan terbatas/ kecil, tiap ulangan dibagi lagi menjadi 2 sub ulangan @ 50 butir atau sub ulangan @ 25 butir

Setelah contoh kerja didapat maka langkah selanjutnya adalah pengujian daya berkecambah. Pengujian daya berkecambah ini dapat dilakukan dalam beberapa metode. Untuk menentukan metode apa yang digunakna hal tersebut tergantung pada jenis dan karakter tumbuh benih. Metode yang biasa dilakukan adalah:

a) Uji pada kertas

b) Uji antar pasir

c) Uji pasir

Setelah penanaman dilakukan maka langkah selanjutnya adalah mengevaluasi kecambah. Evaluasi kecambah dilakukan 2 kali tergantung pada jenis benih yang di uji. Contohnya pada benih padi evaluasi pertama dilakukan pada hari ke 7 dan evaluasi hari kedua dilakukan pada hari ke 14. Pada evaluasi yang pertama hanya dilihat kecambah normal saja. Kriteria untuk kecambah normal diantaranya adalah:

a) Kecambah dengan pertumbuhan sempurna, ditandai dengan akar dan batang yang berkembang baik, jumlah kotiledon sesuai, daun berkembang baik dan berwarna hijau, dan mempunyai tunas pucuk yang baik

b) Kecambah dangan cacat ringan pada akar, hipokotil/ epikotil, kotiledon, daun primer, dan koleoptil

c) Kecambah dengan infeksi sekunder tetapi bentuknya masih sempurna

Dengan kriteria tersebut kecambah normal diambil lalu dipisahkan dari benih yang belum berkecambah. Jumlah kecambah normal tersebut kemudian dihitung. Pada evaluasi kedua yaitu melihat adanya kecambah normal, kecambah abnormal, benih yang tidak berkecambah (benih keras, benih segar tidak tumbuh, benih mati/ busuk). Kecambah abnormal adalah kecambah yang tidak memperlihatkan potensi untuk berkembang menjadi kecambah normal. Kecambah di bawah ini digolongkan ke dalam kecambah abnormal :

a) Kecambah rusak: kecambah yang struktur pentingnya hilang atau rusak berat. Plumula atau radikula patah atau tidak tumbuh.

b) Kecambah cacat atau tidak seimbang: kecambah dengan pertumbuhan lemah atau kecambah yang struktur pentingnya cacat atau tidak proporsional. Plumula atau radikula tumbuh tidak semestinya yaitu plumula tumbuh membengkok atau tumbuh kebawah, sedangkan radikula tumbuh sebaliknya.

c) Kecambah lambat: kecambah yang pada akhir pengujian belum mencapai ukuran normal. Jika dibandingkan dengan pertumbuhan kecambah benih normal kecambah pada benih abnormal ukurannya lebih kecil.

Benih yang tidak berkecambah adalah benih yang tidak berkecambah sampai akhir masa pengujian, yang digolongkan menjadi:

a) Benih segar tidak tumbuh: Benih, selain benih keras, yang gagal berkecambah namun tetap baik dan sehat dan mempunyai potensi untuk tumbuh menjadi kecambah normal. Benih dapat menyerap air, sehingga dapat terlihat benih tampak mengembang. Namun tidak ada pemunculan struktur penting dari perkecambahan benih. Dan jika waktu penyemaian diperpanjang benih akan tumbuh normal.

b) Benih keras: Benih yang tetap keras sampai akhir masa pengujian. Benih tersebut tidak mampu menyerap air terlihat dari besarnya benih tidak mengembang, dan jika dibandingkan dengan benih segar tidak tumbuh ukuran benih keras lebih kecil. Hal ini disebabkan karena kulit benih yang impermeabel terhadap gas dan air.

c) Benih mati: Benih yang sampai pada akhir masa pengujian tidak keras, tidak segar, dan tidak berkecambah. Benih mati dapat dilihat dari keadaan benih yang telah membusuk, warna benih terlihat agak kecoklatan. Hal ini disebabkan karena adanya penyakit primer yang menyerang benih. Disebabkan karena pada saat kultur teknis dilepangan tanaman yang menajdi induk talah terserang hama dan penyakit sehingga pada benih tersebut berpotensi membawa penyakit dari induknya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

METODE PRATIKUM

Waktu dan Tempat

Adapun tempat dan waktu dilaksanakan pratikum pada kali ini yaitu praktikum dilaksanakan pada hari kamis, 25-april-2013, Pukul 13.00 WIB – selesai. Bertempat di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

 

Bahan dan Alat

  • Bahan
  • Benih padi
  • Benih jagung
  • Benih kedelai
  • Benih kacang tanah

 

  • Alat
  • Media kertas stensil
  • Germinator
  • Plastic
  • Air
  • Oven
  • Alat tulis
  • Kamera

Cara Kerja

  1. Letakan lembaran kertas subtrat (3 lembar) yang telah di basahi di atas meja kerja.
  2. Ambil 2 lembar subtrat kertas tersebut dan tanam di atasnya 25 benih denganjarak tanam tidak berdekatan satu sama lainya.
  3. Tutup subtrat yang sudah di tanami dengan lembaran subtrat yag satu lagi dan gulung dan di buat 3 ulangan.
  4. Kemudian masukan kedalam germinator
  5. Setelah kering dan seminggu kemudian kertas di buka dan di amati daya kecambah normal dan abnormal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

NAMA BENIH

ULANGAN

NORMAL

ABNORMAL

 

PADI

1

6

19

2

11

14

3

14

11

 

KACANG TANAH

 

 

1

14

11

2

17

8

3

5

10

 

JAGUNG

1

24

1

2

16

9

3

20

9

KEDELAI

1

15

10

2

10

15

3

22

3

 

Pembahasan

Rata-rata kecambah normal pada praktikum ini adalah 75 %, rata rata kecambah -abnormal pada percobaan ini adalah 25 %, sedangkan rata-rata kecambah mati yaitu 0%. Jika dilihat dari percobaan, kecambah normal paling dominant pada pecobaan ini yaitu 75 %. Berarti lingkungan untuk menumbuhkan benih serba memadai. Baik sumber airnya yang berdasarkan kertas merang yang lembab, cahaya, kelembaban, suhu, dan tempah pengecambahan benih.
Ketika pengamatan,Suhu dan kadar air tinggi merupakan faktor penyebab menurunnya daya berkecambah dan vigor.Jumlah kecambah normal dihitung dalam persen terhadap semua benih yang ditanam dan menjadi gambaran persentase tanaman yang mampu tumbuh secara normal di lapang yang berkondisi optimum. Benih yang abnormal dianggap tidak berpotensi tumbuh di lapang, sama nilainya dengan benih yang mati.

 

PERTANYAAN

Mengapa perlunya di lakukan pengujian daya berkecambah?

Pengujian benih merupakan pekerjaan yang sangat penting dilakukan dalam penanganan benih. Pengujian benih dilakukan untuk mengetahui mutu atau kualitas dari benih. Keterangan yang diperoleh dari hasil pengujian benih ini sangat bermanfaat bagi pengguna benih sebagai informasi yang dapat dipercaya tentang materi benih sebagai bahan dasar dalam produksi tanaman, dan bagi produsen benih dapat digunakan sebagai jaminan kualitas benih yang diproduksi. Dan Pengujian daya kecambah benih merupakan menguji kemampuan benih berkecambah secara normal dari sejumlah benih pada jangka waktu yang telah ditentukan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang didapat dari praktikum ini adalah :
1.    Daya berkecambah benih dapat mempengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor luar dan faktor dalam. Faktor dalam yaitu kemasakan benih, ukuran benih dan dormansi, sedangkan faktor luar yaitu air, intensitas cahaya dan suhu.
2.    Benih yang abnormal dianggap tidak berpotensi tumbuh di lapang, sama nilainya dengan benih yang mati.
3.    Lama waktu simpan dapat mempengaruhi kemampuan benih untuk dapat berkecambah dengan normal.
4.    Umumnya kenormalan perkecambahan ditentukan berdasarkan ketegaran struktur tumbuh yang terdiri dari akar primer, akar seminal sekunder, hipokotil, kotiledon, koleoptil.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

GAMBAR DOKUMENTASI

PADI

   

KACANG TANAH

 

JAGUNG

 

 

KEDELAI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Bass N. Louis. 1994. Prinsip dan Praktek Penympangan Benih. PT Raja Grafirdo Persada. Jakarta.

Kartasapoetra G, Ance. 2003. Teknologi Benih Pengolahan Benih dan Tuntunan Praktikum. PT Rineka Cipta. Jakarta.

Pramono, Eko. 2009. Penuntun Praktikum Teknologi Benih. Bandarlampung. Universitas Lampung.
Sadjad, Sjamsoe’oed. 1999. Parameter Pengujian Vigor Benih. Grasindo. Jakarta.

tolong kasih komentarnya yaaa.. sama jangan lupa join site ini😀 salam blogger😀 GOMAWOYO

 

 

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM VII

Judul  : Uji Kecepatan Berkecambah ( Index Value Test )

Latar Belakang

Uji kecepatan berkecambah atau tumbuh benih dapat di golongkan kedalam daya vigor benih. Vigor merupakan kekuatan tumbuh benih pada kondisi lingkungan yang sub optimum. Benih yang memiliki vigor tinggi apabila benih mampu tumbuh pada keadaan yang sub optimum, atau tidak mendukung.

Pengujian kecepatan berkecambah atau tumbuh benih ini dapat di lakukan dengan media buatan seperti pada kertas substrat. Benih akan semakin cepat berkecambah bila benih memiliki kualitas dan mutu benih yang tinggi, selain itu juga keadaan yang mendukung untuk benih berkecambah akan mempercepat proses perkecambahan.

Dari adanya kenyataan bahwa benih yang kecepatan berkecambahnya tinggi, maka tanaman yang akan di hasilkan akan lebih tahan terhadap keadaan atau lingkungan yang kurang menguntungkan. Dengan demikian jelas bahwa kecepatan berkecambah merupakan factor penting dari vigor, serta memberi indeks vigor dari setiap kelompok benih.

Tujuan

 Menentukan presentasi dari perkecambahan benih.

 Untuk menentukan daya berkecambah benih ( seed viability )

 

 

 

 

 

 

METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat  

Praktikum Teknologi Benih ini dilaksanakan pada :

Hari                :Kamis,18 april 2013,pukul 13:00 s/d 14:30 wib.

Tempat            :Di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian universitas jambi.

Alat dan Bahan        

 Alat                 :Media kertas, germinator, plastic, pensil air , semprotan air,dll

 Bahan              :Benih kedelai dan benih padi

Cara Kerja : 1. Benih dikecambahkan seperti cara SGT dengan metode UKDp sebanyak 150  benih dengan 3 kali ulangan.

  2. Pengamatan dilakukan setiap hari dengan kriteria benih berkecambah dua kali panjang benih. Pengamatan dilakukan selama hari yang diperlukan ( tidak ada perkecambah lagi)

  3. Setalah itu dilakukan perhitungan Index Value Test ( IVT )

IVT = ∑ Benih Berkecambah

                                                    Hari Berkecambah

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil    :

Pengamatan 1

Benih

Ulangan

IVT

I

II

III

Padi

1

1

0

9,2

Kacang tanah

3

2

0

12

Jagung

2

3

1

12,3

Kedelai

4

3

3

12

Pengamatan 2

Benih

Ulangan

IVT

I

II

III

Padi

6

7

9

9,6

Kacang tanah

13

12

12

10,6

Jagung

20

21

20

7,6

Kedelai

12

16

17

12,5

Pengamatan 3

Benih

Ulangan

IVT

I

II

III

Padi

23

24

24

9,5

Kacang tanah

22

23

23

9,6

Jagung

24

23

24

11,8

Kedelai

24

25

25

12,6

 

Perhitungan:

IVT + = ∑     benih berkecambah

                      Hari berkecambah

 

Pembahasan:

Dari data diatas, maka dapat dikatakan benih yang memiliki daya kecepatan berkecambah yaitu kemapuan benih untuk berkecambah dengan cepat pada waktu yang telah ditentukan serta mengamati keserentakan benih ini muncul. dalam hal ini , terdapatlah benih yang normal. Benih dikatakan berkecambah normal ialah benih yang memiliki perkembangan system perakaran yang baik terutama akar primer , terdapat pula perkembangan jaringan dan hipokotilnya serta pertumbuhan plumulanya pun dikatakan baik sehingga dapat menopang perkecambahannya hingga menjadi cepat.

Sedangkan benih lain yang tidak normal, dapat dikatakan bahwa benih itu berkecambah secara abnormal dan mati. Dimana dalam proses perkecambahannya, benih itu pertumbuhannya sedikit lebih rendah dibandingkan benih dengan kecambah yang normal . dapat berupa kecambah nya yang rusak, tanpa kotiledon, kecambah yang bentuknya cacat, busuk, dsb.

Benih yang tidak tumbuh ini kemungkinan mempunyai factor gentik atau factor fisik yang tidak bisa untuk melakukan proses perkecambahan dan oleh factor lingkungan .

Adapun factor – factor yang mempengaruhi kecepatan benih untuk berkecambah , yaitu :Suhu,Kelembapan, Oksigen,Cahaya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PERTANYAAN

Apa yang dimaksud dengan perkecambahan dan factor apa yang mempengaruhi?

Jawaban    :

Perkecambahan adalah proses tumbuh suatu tanaman dari benih menjadi tanaman mini yang memiliki plumula dan radikula.

Faktor – faktor yang mempengaruhinya adalah :

a) Adanya air yang cukup untuk melembabkan biji

b) Suhu yang pantas

c) Cukup oksigen. Kekurangan salah satu di antara syarat diatas umumnya biji tidak akan berkecambah.

d) Adanya cahaya, terutama ini adalah esensial untuk kebanyakan biji rerumputan dan beberapa biji tanaman tertentu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan diatas, dapat simpulkan bahwa, kecepatan berkecambah benih dapat menentukan kualitas dan mutu benih , dimana dalam hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa factor seperti keadaan kualitas benih itu sendiri baik dari segi fisik maupun genetinya yang tidak mampu untuk melakukan perkecambahan, suhu, kelembapan. Oksigen, temperature, dan lain- lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM VIII

Judul  : Uji Daya Berkecambah / Daya Tumbuh Dengan Substrat pasir dan tanah.

Latar Belakang

Benih merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam peningkatan produksi pertanian. Oleh sebab itu mutu dan jumlahnya perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak yang terkait terutama pada saat musim tanam ( pemakaian ). Mutu benih yang sering dijadikan ukuran adalah meliputi bentuk dan ukuran benih, daya tumbuh, vigor, serta kemurnian benih. Mutu dan kualitas benih sangat ditentukan oleh kondisi tanaman pada waktu dilapangan, saat panen serta saat proses setelah panen. Selain itu mutu benih sering juga dinilai berdasarkan mutu genetik dan ciri – ciri fisiologis yang dibawa oleh benih.

Jagung yang merupakan tanaman pangan terpenting ke dua setelah padi, kiranya perlu mendapatkan perhatian yang sungguh – sungguh dari para ahli agar cita – cita Bangsa Indonesia untuk berswasembada jagung dapat segera terealisasi. Sebenarnya untuk mewujutkan swasembada jagung bagi Indonesia tidaklah terlalu sulit, sebab dengan melipat duakan penggunaan benih jagung hibrida tanpa memperluas areal tanam, cita – cita tersebut sudah dapat terwujud. Dari gambaran ini terlihat bahwa pengaruh penggunaan benih sangat besar terhadap produktifitas lahan. Untuk dapat menghasilkan benih yang berkualitas khususnya benih jagung terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi dan harus mendapat perhatian dari produsen benih, adalah: Hubungan perlakuan prapanen terhadap mutu benih, ketepaan saat panen, cara pemanenan, penanganan pasca panen.

Tujuan Praktikum

  • Untuk menentukan Presentase perkecambahan benih
  • Untuk Menentukan daya tumbuh Benih ( Viability Seed)

           

 

 

 

METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat  

Praktikum Teknologi Benih ini dilaksanakan pada :

Hari                :Kamis,25 April,Pukul 13:00 s/d 14:30 wib

Tempat            :Di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian universitas jambi.

Alat dan Bahan        

 Alat                 :bak petak perkecambahan, pasir dan tanah Sprayer, kertas label,

 Bahan             :benih padi dan benih kedelai, air

Cara Kerja  :1.Isi bak / baskom petak perkecambahan dengan pasir dan tanah

   2.Basahi secukupnya substrat tersebut.

   3.Tanam sebanyak 50 benih per baskom,dan di buat 4 ulangan

   4.dalam penanaman untuk padi 1 cm dan kedelai 2,5 cm

  5.lakukan penyiraman 2 kali sehari sampai berakhir pengamatan

Pengamantan

1.Pengamatan I : 5 x 24jam

        Pengamatan II : 7 x 24 jam

        Pengamatan III : 9 x 24 jam

 2.Pengamatan dilakukan terhadap benih yang berkecambah normal, abnormal dan mati. Benih yang telah berkecambah normal dibuang .

                               Perhitungan : Sama dengan SGT.

 

 

PERTANYAAN

1.Jelaskan secara rinci perbedaan antara daya berkecambahan dan daya tumbuh ?

Setelah kita lakukan uji daya berkecambah benih dengan subtract kertas dan pasir./tanah , menurut pendapat saudara mana diantaranya yang memberikan informasi yang tepat unutuk menentukan mutu benih yang diuji ( yang mendekati kenyataan di lapangan ditinjau dari viabilitas benih). Berikan alas an saudara?

      Jawaban    :

Perkecambahan adalah proses tumbuh suatu tanaman dari benih menjadi tanaman mini yang memiliki plumula dan radikula.

Faktor – faktor yang mempengaruhinya adalah :

a) Adanya air yang cukup untuk melembabkan biji

b) Suhu yang pantas

c) Cukup oksigen. Kekurangan salah satu di antara syarat diatas umumnya biji tidak akan berkecambah.

d) Adanya cahaya, terutama ini adalah esensial untuk kebanyakan biji rerumputan dan beberapa biji tanaman tertentu.

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Kacang Tanah

 

Daya  kecambah (SGT)       = 

 

                                                                     =   

                                                                     = 64 %

  • Jagung

 

Daya  kecambah (SGT)       = 

                                             = 

                                                                     =  48 %

  • Kacang kedelai

 

Daya  kecambah (SGT)       = 

         = 

         =  72 %

  • Padi

Daya  kecambah (SGT)       = 

         = 

         =  68 %

 

Pembahasan

Dari data diatas, maka dapat dikatakan benih yang memiliki daya kecepatan berkecambah yaitu kemapuan benih untuk berkecambah dengan cepat pada waktu yang telah ditentukan serta mengamati keserentakan benih ini muncul. dalam hal ini , terdapatlah benih yang normal. Benih dikatakan berkecambah normal ialah benih yang memiliki perkembangan system perakaran yang baik terutama akar primer , terdapat pula perkembangan jaringan dan hipokotilnya serta pertumbuhan plumulanya pun dikatakan baik sehingga dapat menopang perkecambahannya hingga menjadi cepat.

Sedangkan benih lain yang tidak normal, dapat dikatakan bahwa benih itu berkecambah secara abnormal dan mati. Dimana dalam proses perkecambahannya, benih itu pertumbuhannya sedikit lebih rendah dibandingkan benih dengan kecambah yang normal . dapat berupa kecambah nya yang rusak, tanpa kotiledon, kecambah yang bentuknya cacat, busuk, dsb.

Benih yang tidak tumbuh ini kemungkinan mempunyai factor gentik atau factor fisik yang tidak bisa untuk melakukan proses perkecambahan dan oleh factor lingkungan .

Adapun factor – factor yang mempengaruhi kecepatan benih untuk berkecambah , yaitu :

1. Suhu

2. Kelembapan

3. Oksigen

4. Cahaya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan diatas, dapat simpulkan bahwa :

Kecepatan berkecambah benih dapat menentukan kualitas dan mutu benih , dimana dalam hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa factor seperti keadaan kualitas benih itu sendiri baik dari segi fisik maupun genetinya yang tidak mampu untuk melakukan perkecambahan, suhu, kelembapan. Oksigen, temperature, dan lain- lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM X

Judul  : Uji Keserempakan Berkecambah

Latar Belakang

Proses perkecambahan benih dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Faktor genetik yang berpengaruh adalah susunan kimawi benih yang berhubungan dengan daya hidup benih. Sifat ketahanan ini meliputi masalah kadar air benih, kegiatan enzim dalam benih dan kegiatan-kegiatan fisik atau biokimiawi dari kulit benih, sedangkan faktor lingkungan yang sangat berpengaruh adalah air, gas, suhu dan oksigen (Bewley dan Black, 1985).

Perkecambahan benih dapat dipengaruhioleh faktor dalam yang meliputi tingkat kemasakan benih, ukuran benih, dormansi,dan penghambat perkecambahan, serta faktor luar yang meliputi air, temperatur, oksigen dan cahaya ( Sutopo, 1993).

Pada dasarnya perkecambahan merupakan suatu proses pertumbuhan dari biji setelah mengalami masa dormansi. Bila bila kondis-kondisi sekelilingnya memungkinkan ( Novijanto, 1996).

Kulit benih dan struktur disekitarnya dapat mempengaruhi kemampuan perkecamabahan benih melalui penghambatan terhadap penyerapan air, pertukaran gas, difusi inhibitor endogenous atau penghambatan pertumbuhan embrio. Sementara jika penghambatan perkecambahan terjadi pada benih yang tidak mempunyai kulit keras atau tidak memerlukan skarifikasi untuk penyerapan air, maka kemungkinan penyebabnya adalah penghambat bagian lain dari benih misalnya endosperma (Watkins dan Cantliffe, 1985)

Uji keserempakan benih merupakan suatu metode ataupun cara menguji kemapuan benih untuk berkecambah secara serentak dan seragam dengan pertumbuhan yang normal. Dalam hal ini terdapat pengujian benih yang berperan dalam :

1. Untuk menilai kualitas benih

2. Untuk mendapatkan informasi tentang pertumbuhan benih di lapangan

3. Untuk menghitung kebutuhan benih dalam penanaman

Dalam hal ini kita menggunakan suatu pengujian Pengujian benih dapat dilakukan pada tahapan yang berbeda dari penanganan benih, pemrosesan benih dan penyimpanan benih. Tolok ukur baku seperti berat benih, kemurnian, dan perkecambahan sangatlah penting dalam perhitungan kebutuhan benih.

Karena itu, tolak ukur tersebut sangat penting bagi pengguna benih sebagai bahan pertimbangan sebelum memesan benih. Karena benih dijual berdasarkan beratnya, tolok ukur mutu benih juga merupakan tolok ukur ekonomi yang penting. Kadar air terutama sangat penting pada saat sebelum dan selama penyimpanan benih.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu disusun suatu petunjuk tenis pengujian mutu benih tanaman hutan berdasarkan kebenaran sumber benih dan mutu fisik – fisiologi benihnya salah satu caranya ialah dengan metode keserempakan benih yang memiliki harapan agar mutu dan kualitas benih yang nantinya akan ditanam dilapangan memiliki kualitas cdan mutu benih.

Faktor lingkungan yang mendukung perkecambahan benih. Syarat dari suatu benih dapat berkecambah dengan baik, apabila keadaan lingkungannya mendukung. Namun dari masing-masing benih menghendaki lingkungan yang berbeda untuk perkecambahan. Agar dalam pelaksanaan pengujian keserempakan kecambah dapat terstandar maka beberapa faktor lingkungan yang mendukung perkecambahan harus diperhatikan, antara lain :

1) Air

Air merupakan salah satu faktor penting yang diperlukan bagi berlangsungnya proses perkecambahan benih. Banyaknya air yang diperlukan untuk masing-masing benih untuk dapat berkecambah bervariasi, tergantung kepada jenis benih. Umumnya keperluan air untuk berkecambah tidak melampaui dua atau tiga kali berat keringnya atau kadar akhir setelah mengalami imbibisi mencapai 50- 60%. Air yang diberikan pada perkecambahan benih berfungsi sebagai berikut :

  • Air yang diserap oleh benih berguna untuk melunakkan kulit benih dan menyebabkan berkembangnya embrio dan endosperm
  • Air berguna mengaktifkan protoplasma sehingga dapat mengaktifkan proses pencernaan, pernafasan, asimilasi dan tumbuh.
  • Air sebagai alat transportasi larutan makanan dari endososperma atau cotilendon ke titik tumbuh pada embrio.

2) Temperatur

Setiap jenis benih untuk dapat berkecambah dengan baik membutuhkan temperatur yang berbeda. Umumnya benih dalam perkecambahan berada pada temperatur optimum pada kisaran antara 26,5–35 0C. Pada temperatur ini sistem enzym dapat berfungsi dengan baik dan stabil untuk waktu lama,sehingga berkecambahnya benih dapat terpacu dengan baik. Pada temperatur minimum antara 0–5 0C kebanyakan benih mengalami chilling hingga menghambat aktifitas kerja enzim sehingga benih menjadi rusak dan bahkan mati tidak berkecambah.

Untuk jenis benih tanaman musim dingin temperatur minimumnya 4,5 0C. dan untuk benih tanaman musim panas temperature minimumnya 10 – 150C. Adapun temperatur tertinggi kebanyakan benih masih dapat berkecambah adlah antara 30 – 400C, namun pada temperatur maximum antara 450C, 480C, benih tidak dapat berkecambah akibat suhu tinggi.

3) Oksigen

Benih selama masih hidup akan melakukan respirasi. Pada saat perkecambahan berlangsung proses respirasi akan meningkat yang disertai dengan meningkatnya pengambilan oksigen dan pelepasan karbon dioksida air, dan energi panas. Terbatasnya persediaan oksigen akan berakibat pada proses perkecambahan menjadi terlambat.

4) Cahaya

Cahaya yang dibutuhkan untuk setiap benih dalam perkecambahan berbeda, tergantung pada jenis benih. Cahaya mempengaruhi respon perkecambahan terhadap phytochrome. Phytochrome memiliki dua bentuk yang sifatnya bolak-balik, yaitu phytokrom merah yang mengabsorpsi sinar merah dan phytochrome infra merah. Bila pada benih yang kadang berimbibisi diberikan cahaya merah maka akan menyebabkan phychrome merah berubah menjadi phytochrome infra merah. Hal ini akan menimbulkan reaksi yang merangsang perkecambahan, sebaliknya bila diberi cahaya infra merah akan menyebabkan perubahan dari phytochrome infra merah menjadi phytochrome merah yang menghambat perkecambahan.

 

Tujuan : Untuk menentukan kekuatan tumbuh tumbuh ( seed vigor ) benih yang di uji     

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat  

Praktikum Teknologi Benih ini dilaksanakan pada :

Hari                :Kamis 18 April 2013,pukul 13:00 s/d 14:40 wib

Tempat            :Di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian universitas jambi.

Alat dan Bahan        

 Alat                 :germinator,kertas stensil,kantong plastic kertas label.

 Bahan              :benih padi dan benih kedelai

Cara Kerja

sama seperti uji daya berkecambah (praktikum VIII) tapi bedanya di sini memakai metode UKDdp, di buat 4 ulangan

pengamatan di lakukan 5×24 jam,4×24 jam,untuk perkecambahan normal dan kuat. 5×24 jam untuk perkecambahan lemah + kuat  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil   

Tabel hasil pengamatan uji keserempakan berkecambah pada perkecambahan kacang tanah, kedelai,  padi, jagung sebagai berikut :

Benih

Tanggal 25 April 2013

Kecambah normal

Kecambah lemah

Jagung

U1 : 18

U2 :21

U3 :17

U1 : 4

U2 : 4

U3 :8

Padi

U1 : 22

U2 :16

U3 :12

U1 :3

U2 :9

U3 : 13

Kedelai

U1 : 22

U2 : 20

U3 : 24

U1 : 3

U2 : 5

U3 : 1

Kacang tanah

U1 : 20

U2 : 19

U3 : 21

U1 : 5

U2 : 6

U3 : 4

 

Pembahasan

Benih kecambah kuat(normal) ialah benih yang memilki daya hidup ataupun kekuatan tumbuh yang kuat yang bias mempertahankan kelangsungan hidupnya ,dimana pada keserempakan benih ini dapat dipengaruhi oleh :

  • mutu dan daya benih kedelai yang digunakan (genetic dari benih kedelai itu sendiri)
  • kadar air benih
  • suhu dan tempat pelaksanaan penanaman benih,dsb

Mutu benih yang memiliki kecambah dua kali lebih panjang dari benih awalnya, dan memiliki keserempakan daya tumbuh yang tinggi ,memiliki system perakaran yang baik, hipokotilnya membuka secara sempurna, tidak terdapat kerusakan pada jaringannya, plumulanya tumbuh dengan baik, maka dapat dikatakan sebagai benih yang memiliki kecambaah kuat. Didalam tubuh benih itu sendiri terdapat pula vigor atau kekuatan tumbuh benih yang dapat memberikan informasi akan kemungkinan kemampuan benih yang tinggi untuk dapat tumbuh menjadi tanaman yang normal dan berproduksi secara wajar, meskipun keadaan biofisik lapangan produksi dalam keadaan yang optimum.

Bila contoh benih yag menggunakan substrat kertas, terdapat benih yang tidak mampu untuk melangsungkan hidupnya dan tidak dapat dinilai, kecambahnya rusak, bentuknya cacat,dan terdapat gigitan hama maupun penyakit, tidak memiliki keserempakan tumbuh karena ia busuk maupun pertumbuhannya abnormal, maka benih itu dapat dikatakan sebagai kecambah lemah.

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan diatas, dapat simpulkan bahwa :

Benih yang memiliki keserempakan daya tumbuh tinggi, dapat dinamakan sebagai benih yang tumbuh secara normal dan berdiri secara sempurna , sedangkan benih yang tidak mampu menjalankan kehidupannya dengan cara penyesuaian hidup yang sama dengan tanaman-tanaman yang lainnya, maka benih maupun kecambahnya dinamakan kecambah yang lemah. Perbedaan kemampuan dalam keserempakan daya tumbuhnya ini dapat disebabkan oleh factor genetic pada benih kedelai itu sendiri mapupun factor lingkungannya. Dengan adanya uji keserempakan benih ini, diharapkan kita dapat mengetahui mutu dan kualitas benih yang dapat tumbuh secara serentak, sehingga didalam penerapan dilapangan nya tidak menghadapi kendala yang cukup berat, baik dalam awal proses penanaman hingga sampai saat pemanenan dan kita akan mendapatkan hasil yang maksimal.

Pertanyaan :

1.Mengapa perlu dilakukan uji keserempakan tumbuh ?

2. Hubungan keserempakan tumbuh / berkecambah terhadap mutu benih.

 

Jawaban :

  1. Untuk menguji kemapuan benih untuk berkecambah secara serentak dan seragam dengan pertumbuhan yang normal dalam penanaman.
  2. Hubungan uji keserempakan benih terhadap mutu benih, diharapkan kita dapat mengetahui mutu dan kualitas benih yang dapat tumbuh secara serentak, sehingga didalam penerapan dilapangan nya tidak menghadapi kendala yang cukup berat, baik dalam awal proses penanaman hingga sampai saat pemanenan dan kita akan mendapatkan hasil yang maksimal.

 

DAFTAR PUSTAKA

Tim Pengampu Mata Kuliah Teknologi Benih. 2007. Pengantar Praktikum Teknologi Benih. Jambi. Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

http://www.google.com

Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. Malang: Fakultas Pertanian UNBRAW
Kartasapoetra, Ance G.Teknologi Benih. 2003. Jakarta: Rineka Cipta
http://ramadhan.20m.com/whats_new.html
http://www.wikipedia.com/perkecambahan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM XI

Judul  : Uji Berat Kering Kecambah

Latar Belakang

Pengujian benih laboratories bertujuan untuk mendapatkan keterangan tentang mutu suatu kelompok benih yang digunakan untuk penanaman . dan salah satu cara pengujian dilaboratorium ini ialah berat kering kecambah. Pengujian benih dapat dilakukan pada tahapan yang berbeda dari penanganan benih, pemrosesan benih dan penyimpanan benih. Tolok ukur baku seperti berat benih, kemurnian, dan perkecambahan sangatlah penting dalam perhitungan kebutuhan benih.

Didalam pengukuran kadar air suatu benih dengan metode oven itu sendiri, kita terlebih dahulu harus mengetahui apa itu kadar air benih. Kadar air benih adalah berat air yang hilang karena pemanasan atau yang dapat dikumpulkan baik dalam proses destilasi yang dapat dinyatakan dalam persen terhadap berat asli contoh benih. Ada beberapa hal yang menjadi hal terpenting didalam pengecambahan benih sebelum benih itu kita oven, yaitu : kebutuhan air, temperature, oksigen,dll. Dalam hal ini air merupakan salah satu faktor penting yang diperlukan bagi berlangsungnya proses perkecambahan benih. Banyaknya air yang diperlukan untuk masing-masing benih untuk dapat berkecambah bervariasi, tergantung kepada jenis benih. Umumnya keperluan air untuk berkecambah tidak melampaui dua atau tiga kali berat keringnya atau kadar akhir setelah mengalami imbibisi mencapai 50- 60%.

Setiap jenis benih untuk dapat berkecambah dengan baik membutuhkan temperatur yang berbeda. Umumnya benih dalam perkecambahan berada pada temperatur optimum pada kisaran antara 26,5–35 0 C.

Ketika benih masih dalam keadaan hidup, ia akan melakukan respirasi. Pada saat perkecambahan berlangsung proses respirasi akan meningkat yang disertai dengan meningkatnya pengambilan oksigen dan pelepasan karbon dioksida air, dan energi panas. Terbatasnya persediaan oksigen akan berakibat pada proses perkecambahan menjadi terlambat.

Tujuan           : Untuk menentukan kekuatan Tumbuh benih (seed Vigor) yang di uji.       

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat  

Praktikum Teknologi Benih ini dilaksanakan pada :

Hari                :Kamis,25 april 2013,pukul 13:00 s/d 14.30 wib

Tempat            :Di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian universitas jambi.

Alat dan Bahan        

 Alat                 :oven,timbangan,kertas label

 Bahan              : Kecambah normal dari uji keserempakan tumbuh benih 4 x 24 jam dan 5 x 24 jam.

Cara kerja  : Kecambah tersebut dibuang cotyledonnya, kemudian di jemur pada suhu +600 C selama 2 hari,setelah itu dioven dan setelah itu ditimbang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

 

                     

 

 

 

 

 

 

 

 

Pembahasan:

Uji berat kering kecambah (bobot kecambah) merupakan uji dari vigor benih yang secara tidak langsung di lihat dari pertumbuhan benih. Berat kering yang di hasilkan dari suatu perkecambahan akan mencerminkan kondisi fisiologis dari benih tersebut, sebab benih dengan mutu fisiologis tinggi maka akan menghasilkan vigor yang tinggi pula.

Dengan adanya perbedaan kondisi fisioogis benih akan menghasilkan perbedaan pula pada berat kering kecambah. Uji berat kering ini di ambil dari hasil uji keserempakan berkecambah, karena antara keserempakan berkecambah dengan uji berat kering memiliki kaitan dengan vigor benih.

Benih vigor suatu benih akan tinggi apabila memiliki berat kering kecambah yang maksimum pula, dan bila vigor tinggi maka kualitas dan mutu benih akan tingggi, sehingga para petani yang akan menggunakan suatu benih tidak akan merasa di rugikan serta benih ini bisa di budidayakan dengan teknik yang baik.

 

PERTANYAAN

 1. Bagaimana pengaruh keserempakan tumbuh benih terhadap berat kering                             kecambah

 2.Hubungan berat kering kecambah terhadap mutu benih !

      Jawaban    :

1. Pengaruh keserempakan tumbuh dnegan berat kering adalah semakin tinggi keserempakan berkecambah yang di hasilkan maka berat kering yang akan di dapat akan tinggi pula, dan apabila berat kering kecambah tinggi, maka benih memiliki mutu yang tinggi.

2. Hubungan berat kering dengan mutu benih

– Mutu benih yang tinggi apabila memiliki berat kering yang tinggi

– Apabila mutu benih tinggi maka vaibilitas dan vigor benih akan tinggi pula

 

 

 

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan diatas, dapat simpulkan bahwa :

Berat kering suatu kecambah dapat menentukan mutu dari benih tersebut, apabila suatu benih memiliki berat kering kecambah yang besar, itu menandakan bahwa benih tersebut memiliki mutu yang baik. Karena benih tersebut bias menahan dan menyimpan cadanagan makanan dalam kondisi kekurangan air.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM XII

Judul  : Uji Kekuatan Tumbuh Benih Terhadap Kekeringan.

Latar Belakang

Kekutan tumbuh benih adalah kemampuan benih untuk berkecambah normal dalam kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan, sehingga diharapkan benih tersebut dapat menjadi tanaman normal meskipun kondisi lingkungan sib optimum.

Pada tanah yang mengandung kadar garam tinggi, terutama NaCl dapat menyababkan terhambatnya perkecambahan, hal ini terutama disebabkan oleh pengaruh tekanan osmose.

Semakin tinggi konsentrasi atau kental larutan itu (garam/NaCl) maka tekanan osmose yang semakin tinggi, dengan demikin semakin banyak molekul-molekul air diikat oleh NaCl tersebut, sehingga semakin sedikit air yang masuk ke dalam benih dalam proses imbibisinya.

Metode tekanan osmose tinggi dapat digunakan untuk menduga ketahanan benih terhadap salinitas. Benih yang kuat dapat tumbuh dengan kuat dan baik serta merata dalam kondisi kekurangan air, sedangkan benih yang tidak kuat tidak akan tumbuh.

Penilaian kekuatan tumbuh benih digolongkan atas kecambah kuat, kurang kuat, abnormal, dan mati. Untuk memudahkan penilaian kelompok kecambah yang dinilai, terlebih dahulu digolongkan atas kecambah kuat dan krang kuat. Kecambah yan abnomal digolongkan sebagai mati.

Penilaian kuat dan kurang kuat dilakukan dengan membandingkan kecambah satu dengan lainnya dalam satu substrat. Benih-benih yang dapat berkecambah normal dalam kondisi larutan NaCl yang demikian diharapkan juga dapat berkecambah normal dalam keadaan lingkungan kekeringan. Disamping itu juga dapat digunakan untuk uji pertanaman di daerah rawa dimana pada daerah ini salinitasnya tinggi.

 

Tujuan           : Untuk mengetahui ketahanan benih terhadap kekeringan dan selinitas tinggi.       

 

TINJAUAN PUSTAKA

Daya kecambah benih memberikan informasi kepada pemakai benih akan kemampuan benih tumbuh normal menjadi tanaman yang berproduksi wajar dalam keadaan biofisik lapangan yang serba optimum.

Parameter yang digunakan dapat berupa persentase kecambah normal berdasarkan penilaian terhadap struktur tumbuh embrio yang diamati secara langsung. Atau secara tidak langsung dengan hanya melihat gejala metabolism benih yang berkaitan dengan kehidupan benih. Persentase perkecambahan adalah persentase kecambah normal yang dapat dihasilkan oleh benih murni pada kondisi yang menguntungkan dalam jangka waktu yang sudah ditetapkan.

Metoda perkecambahan dengan pengujian di laboratorium hanya menentukan persentase perkecambahan total. Dan dibatasi pada pemunculan dan perkembangan struktur-struktur penting dari embrio, yang menunjukkan kemampuan untuk menjadi tanaman normal pada kondisi lapangan yang optimum. Sedangkan kecambah yang tidak menunjukkan kemampuan tersebut dinilai sebagai kecambah yang abnormal. Benih yang tidak dorman tetapi tidak tumbuh setelah periode pengujian tertentu dinilai sebagai mati.

Agar hasil persentase perkecambahan yang didapat dengan metoda uji daya kecambah di laboratorium mempunyai korelasi positif dengan kenyataan nantinya di lapangan maka perlu diperhatikan factor-faktor berikut ini:

1. Kondisi lingkungan di laboratorium harus menguntungkan bagi perkecambahan benih dan terstandardisasi.

2. Pengamatan dan penilaian baru dilakukan pada saat kecambah mencapai suatu fase perkembangan, di mana dapat dibedakan antara kecambah normal dan kecambah abnormal.

3. Pertumbuhan dan perkembangan kecambah harus sedemikian sehingga dapat dinilai mempunyai kemampuan tumbuh menjadi tanaman normal dan kuat pada keadaan yang menguntungkan di lapangan.

4. Lama pengujian harus dalam jangka waktu yang telah ditentukan.

Umumnya pelaksanaan uji perkecambahan berlangsung selama beberapa hari atau minggu sehingga kesimpulan dari suatu uji perkecambahan secara langsung tidak dapat segera diketahui.

Uji salinitas merupakan suatu cara pengujian daya kecambah benih di lingkungan yang tertekan atau merugikan bagi benih. Salah satunya dengan menggunakan larutan garam yang disemprotkan pada substrat tempat tumbuh benih sehingga lingkungan tempat tumbuh menjadi tidak menguntungkan bagi benih. Biasanya benih juga direndam dahulu ke dalam larutan garam. Dari pengujian ini kita dapat mengetahui persentase vigor benih, deterioasi benih, dan kualitas benih. Pengamatan terhadap benih dilakukan pada FDC sesuai dengan masing-masing jenis benih, misalnya untuk kedelai dari hari ke-4 hingga hari ke-8. Larutan garam yang digunakan tergantung pada penguji, misalnya dibandingkan antara benih yang dibasahi substrat media tumbuh atau direndam larutan garam 0,5% dengan 1%. Pengujian dapat dilakukan dengan metode UKDp. Prosedur pengujiannya sama, kecuali kertas merang dibasahi dengan larutan garam saja.

Untuk mengevaluasi kecambah digunakan criteria sebagai berikut:

a. Kecambah normal

1. Kecambah yang memiliki perkembangan system perakaran yang baik terutama akar primer dan untuk tanaman yang secara normal menghasilkan akar seminal maka akar ini tidak boleh kurang dari dua.

2. Perkembangan hipokotil yang baik dan sempurna tanpa ada kerusakan pada jaringan-jaringannya.

3. Pertumbuhan plumula yang sempurna dengan daun hijau dan tumbuh baik, di dalam ata muncul dari koleoptil atau pertumbuhan epikotil yang sempurna dengan kuncp yang normal.

4. Memiliki satu kotiledon untuk kecambah dari monokotil dan dua bagi dikotil.

Kekurangan lain yang masih dapat diterima untuk dinyatakan sebagai kecambah normal adalah:

– Untuk kecambah dari benih-benih Pisum, Vicia faba, Phaseolus, Lupinus, Vigna, Glycine, Arachis, Gossypium, Zea, dan Cucurbitaceae, tanpa akar primer atau dengan akar primer yang pendek ditambah dua akar seminal yang kuat.

– Hipokotil boleh memperlihatkan sedikit kerusakan atau kebusukan yang terbatas asalkan jaringan-jaringan penting tidak terganggu fungsinya.

– Untuk dikotil yang kehilangan satu kotiledonnya.

– Untuk benih pohon-pohonan dengan tipe perkecambahan epigeal dikatakan normal apabila panjang akar 4 x panjang benih dan mempunyai perkembangan struktur yang normal.

– Kecambah yang busuk karena infeksi oleh kecambah lain masih dianggap normal, kalau jelas bahwa sebelumnya bagian-bagian penting dari kecambah itu semua ada.

b. Kecambah abnormal

1. Kecambah yang rusak, tanpa kotiledon, embrio yang pecah dan akar primer yang pendek.

2. Kecambah yang bentuknya cacat, perkembangannya lemah atau kurang seimbang dari bagian-bagian yang penting. Plumula yang teputar, hipokotil, epikotil, kotiledon yang membengkok, akar yang pendek. Koleoptil yang pecah atau tidak mempunyai daun; kecambah yang kerdil.

3. Kecambah yang tidak membentuk klorofil.

4. Kecambah yang lunak.

5. Untuk benih pepohonan bila dari mikrofil keluar daun dan bukannya akr.

c. Mati

Criteria ini ditujukan untuk benih-benih yang busuk sebelum berkecambah atau tidak tumbuh setelah jangka waktu pengujian yang ditentukan, tetapi bukan dalam keadaan dorman.

d. Benih keras

Benih kacang-kacangan, kapas, Hibiscus spp yang pada akhir uji daya kecambah masih keras karena tidak menyerap air disebabkan kulit yang impermeable, dianggap sebagai benih yang berkulit keras. Persentase benih yang berkulit keras harus disebutkan tersendiri dalam analisa.

e. Benih yang belum busuk tetapi tidak berkecambah

Benih Leguminosae, Gossypium sp dan Hibiscus sp yang telah membengkak karena menyerap air tetapi belum berkecambah pada akhir pengujian harus dikategorikan tersendiri.

 

 

 

 

 

 

 

METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat

Praktikum Teknologi Benih ini dilaksanakan pada :

Hari                : Kamis,2 May 2013,pukul 13:00 s/d 14:30 wib.

Tempat            :Di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian universitas jambi.

Alat dan Bahan        

 Alat                 : Germminator, kertas stensil, pinset, garam dapur (NaCl),wadah tempat merendam  substrat kertas.

 Bahan              : Benih padi, kedelai dan jagung. Germminator, kertas stensil, pinset, garam

                          dapur (NaCl).

Cara Kerja  :

Buat 58,5 g NaCl per liter (1 M) setara dengan 49,2 atm tekanan osmose, NaCl 0,2 M (11,7 g NaCl per liter air) yang setara dengan 7,6 atm tekanan osmose.

Substrat kertas direndam dalam larutan garam NaCl sampai merata Sebanyak 3 lembar.

Taburkan benih diatas kertas tersebut masing-masing sebanyak 25 butir dengan memakai metode UKDdp, dibuat 4 ulangan.

Kemudian dikecambahkan pada alat perkecambahan (germinator).

Lakukan penyempotan dengan larutan garam, agar kondisi tetap lembab.

Sebagai indikator dibuat pembanding sebagai control (substrat dibasahi dengan air biasa).

Pengamatan ;Pengamatan hanya dilakukan satu kali yaitu 5 x 24 jam terhadap kecambah normal, kuat, lemah, mati.

Perhitungan :

(%) perkecambahan =        jumlah kecambah normal          x 100 %

                                    Jumlah benih yang di kecambahkan

Kecambah normal = normal kuat + normal lemah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 Hasil  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PERTANYAAN

1. Apabila masing-masing benih yang berkecambah normal 75% dikatagorikan vigor, maka termasuk vigorkah masing-masing benih yang saudara uji, berikan alasan jawaban saudara !

2. Hitung berat keing kecambah dari masing-masing perlakuan tersebut !

3. Apa yang dimaksud dengan salinitas dan apa hubungannya dengan vigor, dan dengan berat kering kecambah ?

      Jawaban    :

Dari data pengujian yang kami peroleh, maka benih yang kami kecambahkan memiliki kecambah yang rendah dan bervigor rendah pula, karena ia tidak bisa bertahan pada keadaan yang suboptimum Untuk berat kering kecambah tidak dapat dilakukan perhitungan karena banyak memakan waktu.

Salinitas merupakan tingkat kandungan garam air dalam perseribu.Semakin tinggi salinitas dalam suatu benih, maka semakin kecil air yang akan masuk kedalam benih, sehingga dapat berdampak pada pertumbuhan kecambah yang abnormal maupun mati . yang dalam hal ini menandakan vigor pada suatu benih itupun menjadi rendah .Sedangkan hubungan vigor dengan berat kering kecambah, ialah semakain tinggi vigor dari suatu tanaman, maka kekuatan kecambahnya semakin tinggi, sehingga dapat berdampak pada berat kering suatu kecambah itu sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan diatas, dapat simpulkan bahwa :

Kekuatan tumbuh benih merupakan kemampuan benih untuk berkecambah normal dalam kondisi lingkungan yang kurang meguntungkan. Pengaruh konsentrasi garam yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan kecambah beniuh kedelai , karena dapat mempengaruhi tekanan osmose dari tanaman bila dibandingkan dengan menggunakan konsentrasi garam yang rendah , dan dapat dibuktikan dengan adanya data- data yang diperoleh .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM XIII

Judul                : Pengujian Kekuatantumbuh Benih Dengan Media Bata Merah (Red Brick    Test), Vigor Fisiologis Dan Genetik.

Latar Belakang

kemampuan benih untuk berkecambah normal dalam kondisi lingkingan yang sub optimum mencerminkan kekuatan tumbuh benih.kondisi sub optimum dengan menggunakan media bata merah dalam percobaan ini mencerminikan kondisi kekeringan,dan pada bata merah memiliki kemampuan mengikat air yang rendah.dan pada prinsipnya hanya pada vigor-vigor sajalah yang dapat mempunyai kekuatan cukup untuk mendorong diri nya sendiri melalui lapisan kerikil yang keras.

 

Tujuan

  • Untuk mengetahui ketahanan benih terhadap kekeringan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

METODE PRATIKUM

Waktu dan Tempat

Adapun tempat dan waktu dilaksanakan pratikum pada kali ini yaitu

Praktikum dilaksanakan pada hari kamis,2-Mei-2013, Pukul 13.00 WIB – selesai. Bertempat di Laboratoriumteknologi benih Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

 

Bahan dan Alat

  • Bahan
  • Benih Kedelai
  • Benih jagung
  • Benih padi
  • Benih kacang tanah
  • Media bata merah

 

  • Alat
  • Pot
  • Label
  • Alat tulis

Cara Kerja

kekuatan pada bata merah

  1. Tanam masing-masing benih pada kedalaman 2 cm
  2. Siram bata merah atau basahi sedikit dengan air bata merah tersebut samapai basah,kemdian baru benih ditanam.
  3. Dan amati setiap hari pada saat penyiraman dan catat hasil data tersebut dan dokumentasikan.

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

kekuatan tumbuh benih pada tanaman dengan media bata merah

Nama benih

Normal

abnormal

mati

Benih jagung

9

1

Benih kedelai

7

1

2

Benih kacang tanah

3

6

1

Benih padi

5

3

2

 

Pembahasan

Pada pratikum tentang kekuatan tumbuh benih pada bata merah pada benih jagung dapat tumbuh dengan baik dan kacang tanah juga dapat tumbuh dengan baik sedangkan pada kacang tanah dan padi pertumbuhan nya kurang baik hal ini di sebabkan karena pada pertumbuhan yang merupakan vigor saja yang mempunyai kekuatan cukup untuk mendorong diri nya sendiri melalui lapisan kerikil yang keras.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan diatas, dapat simpulkan bahwa :

Dari hasil yang di peroleh, dapat di simpulkan bahwa dengan adanya uji kekuatan benih dengan substrat pasir ini kita dapat mengetahui apakah benih yang kita tanam tersebut memiliki kekuatan benih yang baik dan tahan terhadap kekeringan, sehingga apabila kita tanam pada keadaan sebenarnya akan tumbuh dengan baik pula sehingga tidak merugikan bagi kita. Dari hasil pengujian ini benih kedelai yang ditumbuhkan memiliki kekuatan tumbuh yang kurang baik baik di lihat dari persentase benih normalnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM XVII

 Judul : Uji kekuatan tumbu benih dengan metode UHDp (uji hoppe diruba dalam plastik)

Latar Belakang

Caranya seperti pada UKDdP hanya bedanya sebelum substrat di tutup dengan substrat lain, ditaburi tanah bekas pertanaman yang terserang penyakit, seingga metode menjadi UHDp atau UHDdp. untuk UHDdp caranya seperti UKDdp bedanya di taburi tanah sebelum ditutup, di gulung.

 

Tujuan : Untuk menguji kekuatan tumbuh benih terhadap serangan suatu penyakit.          

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

METODE PRAKTIKUM

 Waktu dan Tempat 

Praktikum Teknologi Benih ini dilaksanakan pada :

Hari                :Kamis,02  mei 2013,pukul 13:00 s/d 14:30 wib.

Tempat            :Di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian universitas jambi.

Alat dan Bahan        

 Alat                 : – Substrat kertas berukuran 20 cm x 30 cm.

    – Plastic berukuran 20 cm x 30 cm

   – Pinset, alat pengecambah benih, benih jagung, kedelai, kacang tanah.

Bahan              : – Tanah bekas pertanaman yang terserang suatu penyakit yang telah  

                            dilembabkan.

Cara Kerja  : – Ambil kertas dan benih kedelai , setelah itu basahi dengan air

– Substrat yang telah dibasahi (3 lembar) diletakkan di atas plastic.

– Tanam benih memenuhi substrat tersebut (seperti pada UKDp)

– Tabur tanah yang telah di lembabkan pada substrat tersebut.

– Tutup dengan substrat lain, gulung.

– Letakkan di atas pengecambah secara di tidurkan.

Pengamatan : Untuk, kedelai dan sebagainya 4 x 24 jam.

Tugas ; Berikan kesimpulan saudara!!!

      Jawaban    :

Kemapuan suatu benih untuk hidup / berkecambah normal itu dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu genetis dan lingkungan . didalam vaktor genetis, terdapat pula salah satu nya ialah vigor yang sangat memegang peranan penting . sedangkan untuk factor lingkungan , kita dapat melihat dari penambahan perlakuan yang kita berikan serta dampak nya terhadap benih yang kita berikan. Dimana kedua factor ini sangat penting dan saling berkaitan satu sama lain .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Pembahasan

Perbedaan akan adanya benih yang sehat dan terserang penyakit setelah didalam germinator , menandakan kaitan suatu benih terhadap ketahanan dirinya yang biasa kita katakana benih yang memiliki vigor.

Vigor benih : suatu ukuran kemampuan potensial benih untuk berkecambah dan tumbuh cepat , serta menghasilkan kecambah normal pada saat kondisi yang kurang menguntungkan.

Ciri-ciri benih bervigor tinggi , yaitu :

  • Tahan disimpan dalam kurun waktu yang lama
  • Berkecambah cepat dan merata tumbuhnya
  • Bebas dari penyakit benih
  • Tahan terhadap serangan mikroorganisme
  • Bibit tumbuh kuat , baik ditanah basah maupun kering
  • Dapat mentimpan persedian makanan dalam benih semaksimum mungkin sehingga dapat menumbuhkan jaringan baru.
  •  Laju pertumbuhannya tinggi
  • Mampu menghasilkan tanaman dewasa yang normal dan berproduksi tinggi , baik dalam keadaan lingkungan tumbuh yang tidak optimum.
  • Bebih nya dapat tahan saingan , baik itu gulma,dsb
  • Tidak terdapat perbedaan yang mencolok, pada saat ditumbuhkan kelapang.

Ini menandakan bahwa benih yang terserang penyakit memiliki vigor rendah dan benih yang sehat memiliki vigor yang tinggi.

Sedangkan untuk jamur yang menyerang benih/ kecambah dapat merusak kotiledon maupun bagian dari benih maupun tanaman itu sendiri, sehingga ia sulit untuk hidup maupun mengecambahkan dirinya, yang nantinya akan berdampak pada suatu keadaan yang dinamakan kematian dan benih tidak mampu berkecambah sebagai mana mestinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan diatas, dapat simpulkan bahwa :

Vigor suatu benih itu dapat mencerminkan vigor suatu kecambah, vigor bibit, maupun vigor tanaman. Pada yang sebenarnya , vigor benih itu harus :

1. .Perkecambahan cepat

2. Perkecambahan serempak dan tanaman mampu tumbuh dalam kondisi subotimum

3. Kemampuan kecambah menembus tanah padat/keras

4. Mampu berkecambah pada kondisi suhu rendah, kelebihan air, atau tanah terinfeksi pothogen

5. Menghasilkan produksi tinggi

6. Daya simpan tinggi

Untuk itu benih yang terserang penyakit dapat dikatakan sebagai benih yang memiliki vigor yang rendah, sedangkan untuk benih yang sehat dikatakan benih yang memiliki vigor yang tinggi.

Selain dikarenakan vigor, benih yang tidak normal dapat diakibatkan oleh peran penambahan tanah yang terserang penyakit, sehingga berakibat pada kedelai terserang jamur putih .

 

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM XVIII

Judul  : Pengaruh serangan serangga hama terhadap perkecambahan benih.

Latar Belakang

Benih atau biji terdiri dari embrio dan bagian lain yang berfungsi sebagai tempat cadangan makanan yang di perlukan pada waktu benih berkecambah. bagian tersebut umumnya banyak mengandung karbohidrat, protein dan lemak, sehingga sering juga dimanfaatkan oleh organism lain sebagai makanannya. sala satu di antaranya ialah serangga. adanya serangan serangga hama di penyimpanan benih dapat menimbulkan berbagai kerusakan teradap benih misalnya, matinya embryo, menurunnya viabilitas benih, kehilangan berat atau biji berlubang. serangan hama dapat merusak benih sehingga beni mati atau vigornya menurun, tetapi dapat pula secara tidak langsung yaitu dengan meningkatkan suhu serta kelembaban lingkungan penyimpanan akibat hasil sampingan respirasi.

 

Tujuan : Mempelajari pengaruh serangan serangga hama terhadap perkecambahan benih. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat  

Praktikum Teknologi Benih ini dilaksanakan pada :

Hari                :Kamis,16 mei 2013,pukul 13:00 s/d 14:30 wib

Tempat            :Di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

Alat, bahan dan metode      

 Alat, bahan dan metode :

  • sejumlah benih jagung yang terserang serangga siophilus zeamais  motschulsky dibagi menjadi dua bagian.
  • satu bagian di gunakan untuk di uji perkecambahannya dengan menggunakan metode UKD sebanyak 2 ulangan dan 25 butir perulangan.
  • sebagian lagi digunakan untuk mengetahui persentase biji berlubang.
  • benih yang tidak diserang (asal, varietas dan disimpan dilingkungan yang sama ) di uji pula perkecambahannya untuk di gunakan sebagai pembanding, sebanding 2 ulangan dan 25 butir / ulangan
  •  pengamatan dilakukan pada hari ke 7.

 

 

 

 

 

 

Tugas

  • bandingkan perkembahan benih normal pada benih terserang dengan tidak terserang hama.
  • apakah ada persamaan antara jumlah biji berlubang dengan biji mati atau dengan jumlah mati ditambah abnormal.

 

 

Jawaban    :

Tidak terdapat persamaan antara biji yang berlubang, mati maupun abnormal . atau dengan jumlah mati ditambah abnormal.karena disini terjadi perbedaan yang sangat prinsip. Bahwa benih yang terserang hama masih bisa melanjutkan perkecambahannya asalkan benih yang terserang hama/ serangga masih dalam kisaran yang kecil, dan didalam benihnya masih terdapat cadangan makanan . berbeda dengan benih yang mati, ia tidak dapat melanjutkan kehidupannya karena pertahanan dari vigornya saja dapat digolongkan rendah, apalagi bila tidak didukung oleh keadaan lingkungan yang baik pula. Kemungikinan hidupnya pun dapat dikatakan tidak ada karena benihnya mati.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil    :

Benih padi yang terserang hama dan yang tidak terserang hama

 

BENIH SEHAT

 

BENIH TERSERANG

                                                              

Pembahasan

Benih yang terserang hama memiliki persentase yang rendah yaitu 38,52%, ini menandakan bahwa kemampuan suatu benih untuk tumbuh/ berkecambah sangatlah rendah. Adanya serangan serangga hama di penyimpanan benih dapat menimbulkan berbagai kerusakan teradap benih misalnya, matinya embryo, menurunnya viabilitas benih, kehilangan berat atau biji berlubang.

Serangan hama dapat merusak benih sehingga benih mati atau vigornya menurun, tetapi dapat pula secara tidak langsung yaitu dengan meningkatkan suhu serta kelembaban lingkungan penyimpanan akibat hasil sampingan respirasi dan berdampak pada benih itu sendiri menjadi mati dan dihinggapi jamur, sehingga benih jagung tidak dapat melangsungkan kehidupannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan diatas, dapat simpulkan bahwa :

Benih yang digunakan dalam pratikum ini memiliki persentase benih berlubang yang tinggi yang disebabkan oleh serangan dari serangga. Hal ini dapat terjadi karena faktor genetis benih yang dibawa oleh pratikan sangatlah rendah , sehingga keseuaian benihnya pun dapat tergolong rendah dan dihinggapi jamur.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Sutopo , lita. 1993. Teknologi Benih . Fakultas Pertanian UNIBRAW . Pt

Kamil , jurnalis . 1979 . Dasar Teknologi Benih . Angkasa Raya , Padang.

tim Pengampu Mata Kuliah Teknologi Benih. 2007. Pengantar Praktikum Teknologi Benih. Jambi. Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

www.google.com

Nasrudin. 2009. Kecambah normal dan abnormal. http://teknologibenih.blogspot.com/2009/08/yang-dimaksud-kecambah normal -abnormal-ialah.html

Rineka Cipta. 1986. Teknologi Benih. Pengolahan benih dan tuntunan praktikum. Rineka Cipta, Jakarta. hlm. 120-122.

 

 

 

 

 

 

 

“TUJUAN PENANGANAN PASCA PANEN”

BAB I

 

PENDAHULUAN

 

1.1.                        Latar Belakang

Dalam bidang pertanian istilah pasca panen diartikan sebagai berbagai tindakan atau perlakuan yang diberikan pada hasil pertanian setelah panen sampai komoditas berada di tangan konsumen. Istilah tersebut secara keilmuan lebih tepat disebut pasca produksi (postproduction)  yang dapat dibagi dalam dua bagian atau tahapan, yaitu pasca panen (postharvest) dan pengolahan (processing).  Penanganan pasca panen (postharvest)  sering disebut juga sebagai pengolahan primer (primary processing) merupakan istilah yang digunakan untuk semua perlakuan dari mulai panen sampai komoditas  dapat dikonsumsi “segar” atau untuk persiapan pengolahan berikutnya. Umumnya perlakuan tersebut tidak mengubah bentuk penampilan atau penampakan, kedalamnya termasuk berbagai aspek dari pemasaran dan distribusi. Pengolahan (secondary processing) merupakan tindakan yang mengubah hasil tanaman ke kondisi lain atau bentuk lain dengan tujuan dapat tahan lebih lama (pengawetan), mencegah perubahan yang tidak dikehendaki atau  untuk  penggunaan lain. Ke dalamnya termasuk pengolahan pangan dan pengolahan industri.

Penanganan pasca panen  bertujuan  agar hasil tanaman tersebut dalam kondisi baik dan sesuai/tepat untuk dapat segera dikonsumsi atau untuk bahan baku pengolahan. Prosedur/perlakuan dari penanganan pasca panen berbeda untuk berbagai bidang kajian antara lain:

  1. Penanganan pasca panen pada komoditas perkebunan yang ditanam dalam skala luas seperti kopi, teh, tembakau dll., sering disebut pengolahan primer, bertujuan menyiapkan  hasil tanaman untuk industri pengolahan, perlakuannya bisa berupa pelayuan, penjemuran, pengupasan, pencucian, fermentasi dll.
  2. Penanganan pasca panen pada produksi benih bertujuan mendapatkan benih yang baik dan mempertahankan daya kecambah benih dan vigornya sampai  waktu penanaman. Teknologi benih meliputi pemilihan buah, pengambilan biji, pembersihan, penjemuran, sortasi, pengemasan, penyimpanan, dll.
  3. Penanganan pasca panen pada komoditas tanaman pangan yang berupa biji-bijian (cereal/grains), ubi-ubian dan kacangan yang umumnya dapat tahan agak lama disimpan, bertujuan mempertahankan komoditas yang telah  dipanen dalam kondisi baik serta layak dan tetap enak dikonsumsi. Penanganannya dapat berupa pemipilan/perontokan, pengupasan, pembersihan, pengeringan (curing  / drying), pengemasan, penyimpanan, pencegahan serangan hama dan penyakit, dll.
  4. Penanganan pasca panen hasil hortikultura yang umumnya dikonsumsi segar dan mudah “rusak” (perishable), bertujuan mempertahankan kondisi segarnya dan mencegah perubahan-perubahan yang tidak dikehendaki selama penyimpanan, seperti  pertumbuhan tunas, pertumbuhan  akar,  batang  bengkok,  buah  keriput, polong alot, ubi  berwarna hijau (greening), terlalu matang,  dll. Perlakuan dapat berupa : pembersihan, pencucian , pengikatan,  curing,  sortasi, grading, pengemasan, penyimpanan dingin, pelilinan, dll.

 

1.2.            Tujuan

       Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini ialah agar kita dapat mengetahui tujuan dari suatu penanganan pasca penen baik dalam komoditi tanaman pangan, hortikultura, maupun perkebunan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

            Penanganan pasca panen yang baik akan menekan kehilangan (losses), baik dalam kualitas maupun kuantitas, yaitu mulai dari  penurunan kualitas sampai komoditas tersebut tidak layak pasar (not marketable) atau tidak layak dikonsumsi. Untuk menekan kehilangan tersebut perlu diketahui :

  1. Sifat biologi hasil tanaman yang ditangani : struktur dan komposisi hasil tanaman.
  2. Dasar-dasar fisiologi pasca panen : respirasi, transpirasi, produksi etilen.
  3. Teknologi penangan pasca panen yang sesuai.

Keuntungan melakukan penanganan pasca panen yang baik:

  1. Dibanding dengan melakukan usa ha  peningkatan produksi ,    melakukan penanganan  pasca panen yang baik mempunyai beberapa keuntungan   antara lain:
  • Jumlah pangan yang dapat dikonsumsi lebih banyak.
  • Lebih murah melakukan penanganan pasca panen (misal dengan penangan yang hati-hati, pengemasan) dibanding peningkatan produksi  yang membu tuhkan input tambahan (misal pestisida, pupuk, dll).
  • Risiko kegagalan  lebih kecil. Input yang diberikan pada peningkatan produksi bila gagal bisa berarti gagal panen.  Pada penanganan pasca panen, bila gagal umumnya tidak menambah “kehilangan”.
  • Menghemat energi. Energi yang digunak an untuk memproduksi hasil yan g kemudian “hilang” dapat dihemat.
  • Waktu yang diperlukan lebih singkat (pengaruh perlakuan  untuk peningkatan produksi baru terlihat 1  – 3 bulan kemudian, yaitu saat panen; pengaruh penanganan pasca panen dapat terlihat 1 – 7 hari setelah perlakuan).

 

 

 

  1. Meningkatkan nutrisi. Melakukan penanganan pasca panen yang baik dapat mencegah kehilangan nutrisi, berarti perbaikan nutrisi bagi masyarakat.
  2. Mengurangi  sampah,  terutama di kota –kota dan  ikut mengatasi masalah  pencemaran lingkungan.

 

2.1.            PANEN

            Panen  merupakan pekerjaan akhir dari budidaya tanaman (bercocok tanam), tapi merupakan awal dari pekerjaan  pasca panen, yaitu melakukan persiapan untuk penyimpanan dan pemasaran. Komoditas yang dipanen tersebut selanjutnya  akan melalui jalur-jalur tataniaga, sampai berada di tangan konsumen. Panjang-pendeknya jalur tataniaga tersebut menentukan tindakan panen dan pasca panen yang bagaimana yang sebaiknya dilakukan.

                        Pada dasarnya yang dituju pada  perlakuan panen adalah mengum pulkan komoditas dari lahan penanaman, pada taraf kematangan yang tepat, dengan kerusakan yang minimal, dilakukan secepat mungkin dan dengan  biaya yang “rendah”.

            Untuk mendapatkan hasil panen yang baik, 2 hal utama yang perlu diperhatikan pada pemanenan, yaitu :

 

2.1.1.      Menentukan waktu panen yang tepat

          Yaitu menentukan “kematangan”  yang   tepat  dan  saat panen yang sesuai, dapat dilakukan berbagai cara, yaitu :

  • Ø Cara visual / penampakan : misal dengan melihat warna kulit, bentuk buah, ukuran, perubahan bagian tanaman seperti daun mengering dan lain-lain
  • Ø Cara fisik : misal dengan perabaan, buah lunak, umbi keras, buah mudah dipetik   dan lain-lain.
  • Ø Cara komputasi, yaitu menghitung umur tanaman sejak tanam atau umur buah dari mulai bunga mekar.
  • Ø Cara kimia, yaitu dengan melakukan pengu kuran/analisis kandungan zat atau senyawa yang ada dalam komodit as, seperti: kadar gula, kadar  tepung, kadar asam,  aroma dan lain-lain.

 

2.1.2.       Melakukan penanganan panen yang baik

            Yaitu menekan kerusakan yang  dapat terjadi. Dalam suatu usaha pertanian (bisnis) cara-cara panen yang dipilih perlu diperhitungankan, disesu aikan dengan kecepatan atau waktu yang diperlukan (sesingkat mungkin) dan dengan biaya yang rendah.

            Untuk menetukan waktu panen mana atau kombinasi cara mana yang sesuai untuk menentukan kematangan su atu komoditas, kita harus meng etahui  proses pertumbuhan dan kematangan dari bagian tanaman yang akan dipanen. Contoh :

1)             Tomat dan Cabai

            Tomat dan Cabai adalah sayuran buah, proses pertumbuhannya dari buah terbentuk, buah kecil, membesar sampai suatu ketika ukurannya tidak bertambah lagi, kemudian baru terjadi perubahan warna buah yang dapat terlihat sebaga i kriteria matang. Perubahan warna pada tomat dari   hijau – hijau kekuningan –  kuning kemerahan  – merah merata. Pada cabai : buah warna hijau – hijau kemerahan – merah merata  –  merah tua.

2)             Kentang

            Kentang adalah umbi batang. Umbi dalam tanah dapat mulai terbentuk pada umur tanaman 3 minggu . Pembes aran umbi terjadi selama daun tanaman masih hijau. Pematangan umbi terjadi setelah daun tanaman menguning dan k ering, kulit yang tadinya mudah terkelupas  akan melekat/ lengket. Ini merupakan ciri umbi telah tua.

 

 

3)                 Bawang Merah

            Pada bawang merah, umbi bawang merupakan pembesaran dari pelepah daun, jadi berlapis-lapis. Pembesaran umbi terjadi  selama daun masih hijau, pema tangan dicirikan dari pertumbuhan yang terhenti, kemudian “leher” mengecil/lunak/menutup. Lapisan paling luar akan mengering dan berfungsi sebagai kulit yang melindungibagian dalam dari umbi.

4)                 Jagung :

            Jagung dapat dipanen sebagai jagung semi (baby corn = bunga betina yang belum terserbuki),  jagung putri, jagung sayur, jagung biji kering dan jagung untuk benih. Ciri-ciri kematangan dari masing-masing sesuai dengan stadia pertumbuhan buah.

            Menentukan waktu panen atau ke matangan yang tepat juga terga ntung dari komoditas dan tujuan/ jarak pemasarannya atau untuk tujuan disimpan. Untuk serealia (biji-bijian), hasil tanaman dipanen saat biji sudak tua dan mengering. Pada  buah-buahan, untuk pemasaran jarak dekat, komoditas dapat dipanen saat sudah matang benar dan ini umu mnya tidak sulit untuk ditentu kan, tapi untuk pemasaran jarak jauh atau untuk dapat disimpan lama, kita harus mempertimbangkan jarak atau waktu tersebut dengan proses kematangan yang terjadi dari tiap komoditas.  Bila panen terlalu awal, kuali tas hasil akan rendah, begitu juga bila panen terlambat, komoditas tidak tahan lama disimpan.  

`           Di bawah ini contoh patokan-patokan yang dapat dipakai untuk menentukan waktu panen dengan tujuan penyimpanan.

a)      Pada tomat      : ukuran buah sudah tidak membesar lagi dan perubahan warna mulai  terjadi  (kuning).

b)     Pada cabai       : Perubahan warna sudah terjadi, untuk mendapatkan warna merah yang baik, pemanenan harus dilakukan bila warna merahnya lebih dari 50%.

c)      Pada kentang   : Panen dilakukan bila daun / tanaman telah mengering lebih dari 75%   kemudian dibiarkan 4 – 7 hari, baru digali.

d)     Pada bawang merah    : daun tanaman harus sudah mengering lebih dari 70%, leher batang lunak dan kulit umbi sudah terbentuk (berwarna merah).

e)      Pada jagung pipil         : pada biji sudah terbentuk “Black-layer”, biji keras, kelobot kering atau daun menguning.

f)      Pada kedelai dan kacang hijau : polong sudak mengering.Selain menentukan kematangan yang tepat, saat akan melakukan  panen juga harus memperhatikan  kondisi lingkungan yang sesuai. Contoh :

            Untuk sayuran buah seperti tomat dan cabai, panen sebaiknya dilakukan tidak terlalu pagi atau bila kabut telah lewat dan hari tidak hujan . Kelembaban yang terbawa pada buah dapat menyebabkan buah mudah terserang penyakit, sehingga mudah busuk. Untuk kentang dan bawang merah  panen harus dilakukan saat udara cerah dan ada sinar matahari, karena kentang dan bawang setelah dikeluarkan dari dalam tanah perlu pengeringan / perawatan kulit  (curing), dengan dijemur seben tar,  agar terbentuk penebalan kulit dan  penyembuhan luka. Selain itu juga agar tanah yang menempel di kulit dapat segera kering, mudah terlepas dan  umbi menjadi bersih. Pembersihan tanah dari umbi ini tidak boleh dilakukan dengan cara dicuci. Pekerjaan  perawatan ini harus dilakukan segera setelah panen, tidak boleh ditunda.

            Untuk jagung biji kering dan juga biji-bijian yang lain, panen sebaiknya dilakukan pada saat udara cerah, karena setelah panen perlu segera dijemur untuk mengurangi kadar air biji.  Pada panen jagung, biji yang tidak segera kering mudah ters erang Aflatoxin yang merupakan racun bila digunakan sebagai makanan ternak.

2.1.3.      Penanganan Panen yang Baik

Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada penanganan panen :

a)      Lakukan persiapan panen dengan baik . Siapkan alat-alat yang dibutuhkan, tempat penampungan hasil dan wadah-wadah panen, serta pemanen yang terampil dan tidak ceroboh.

b)      Pada pemanenan, hindari kerusa kan mekanis dengan melakukan panen secara hati-hati. Panen sebaiknya dilakukan dengan tangan atau menggunakan alat bantu yang sesuai. Misal tomat dan cabai dipetik dengan tangan,  bawang merah dicabut dan pada kentang, tanah di sek itar tanaman dibongkar dengan menggunakan cangkul atau kored dan umbi di keluarkan dari dalam tanah. Hindari kerusakan/luka  pada umbi saat pembongkaran tanah.

c)      Memperhatikan bagian tanaman yang dipanen. Contoh :

            Tomat dipanen tanpa tangkai untuk menghindari luka yang dapat ter jadi karena tangkai buah yang mengering menusuk buah yang ada di atasnya.  Cabai dipetik dengan tangkainya, bawang merah dicabut dengan  menyertakan daunnya yang mengering, kentang dipanen umbinya, dilepaskan dari tangkai yang masih menempel. Jagung sayur dipanen berikut klobotnya.

d)     Gunakan tempat / wadah panen y ang sesuai dan bersih, tidak meletakkan  hasil panen di atas tanah  atau di lantai dan usahakan tidak menumpuk hasil panen terlalu tinggi.

e)      Hindari tindakan kasar pada pe wadahan dan usahakan tidak ter lalu banyak melakukan  pemindahan wadah.  Pada tomat, hindari memar atau lecet dari buah karena terjatuh, terjadi gesekan atau tekanan antar buah ata u antar buah dengan wadah. Meletakan buah dengan hati-hati, tidak dengan cara dilempar-lempar.

 

2.2.        TUJUAN PENANGANAN PASCA PANEN

          Adapun tujuan dari adanya kegiatan pasca paen ialah sebagai berikut :

  1. Mengurangi susut (jumlah dan mutu) pada tiap rantai penanganan.
  2. Mempertahankan mutu (yang diinginkan konsumen).
  3. Memperpanjang masa simpan (shelf life) sehingga dapat meningkatkan ketersediaan/pasokan di lokasi manapun dan sepanjang waktu.
  4. Mencegah kerusakan fisiologis dan mikrobiologis.

 

Untuk mencapai tujuan penanganan pasca panen, maka diperlukan:

  1. Pemahaman akan karakteristik pascapanen produk hortikultura (biological factor).
  2. Pemahaman akan interaksi produk dengan lingkungan (environmental factor).
  3. Pemahaman dan penerapan teknik pascapanen yang layak teknis, ekonomis dan sosial.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Adapun tujuan dari adanya kegiatan pasca panen ialah sebagai berikut :

  1. Mengurangi susut (jumlah dan mutu) pada tiap rantai penanganan.
  2. Mempertahankan mutu (yang diinginkan konsumen).
  3. Memperpanjang masa simpan (shelf life) sehingga dapat meningkatkan ketersediaan/pasokan di lokasi manapun dan sepanjang waktu.
  4. Mencegah kerusakan fisiologis dan mikrobiologis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Bautista, Ofelia K. 1990. Postharvest Technology for Southeast Asian Perishable Crops. Technology and Livelifood Resource Centre. Los Banos. The Philippines.

Hong  Seok-In  2006. Packaging Technology for Fresh Produce. One Day International Seminar “Post-Harvest Losses of Cole Crops (Brassica vegetables) Causes and Solutions. FTIP, Unpad – Bandung.

Kader, A.A. 1992.  Postharvest Technology of  Horticultural Crops. The  Regents of the University of California. USA.

Pantastico, Er.B. 1975. Postharvest Physiology, Handling and Utilization of Tropical and Subtropical Fruits and Vegetables. The AVI Publ. Co,Inc. Westport, Connecticut.

Weichmann, J. 1987. Postharvest Physiology of Vegetables. Marcel Dekker, Inc. NY. USA.

Wills, R.; B. McGlasson; D. Graham; D. Joyce. 1998. Postharvest. An Introduction to the Physiology and Handling of Fruit, Vegetables and Ornamentals. Hyde Park Press, Adelaide, South Australia.

Winarno, F.G. 1981. Fisiology Lepas Panen. Sastra Hudaya Jakarta.

 

PEMANFAATAN VARIASI SOMAKLONAL DAN SELEKSI IN VITRO DALAM PERAKITAN TANAMAN TOLERAN CEKAMAN ABIOTIK “SALINITAS”

PENDAHULUAN

Kebutuhan komoditas pertanian terus bertambah seiring dengan meningkatnya permintaan pasar dan konsumsi masyarakat. Upaya untuk meningkatkan produksi komoditas pertanian dapat ditempuh melalui perluasan lahan dan peningkatan produktivitas. Namun, upaya tersebut menghadapi  masalah cekaman abiotik seperti kekeringan, keracunan aluminium (Al) dan unsur mikro pada lahan masam, dan salinitas. Kekurangan air akan terus menjadi masalah dalam budi daya tanaman seiring makin kuatnya persaingan dalam penggunaan air antara sektor pertanian dan nonpertanian. Kekurangan air terjadi pada semua jenis tanaman, terutama tanaman yang membutuhkan air dalam jumlah banyak seperti padi dan palawija. Keracunan Al dan kahat hara merupakan cekaman abiotik yang sering dijumpai pada lahan pertanian di Indonesia, terutama pada tanah masam. Tanaman yang keracunan Al akan terhambat perkembangan akarnya sehingga mengganggu pertumbuhan bagian atas tanaman. Terganggunya pertumbuhan bagian atas tanaman disebabkan oleh kahat hara seperti Mg, Ca, dan P, dan tidak seimbangnya hormon.

Lahan masam di dunia meliputi areal satu miliar hektar, yang tersebar di daerah tropis dan subtropis (Haug 1984; Moller et al. 1984). Indonesia mempunyai sekitar 47,60 juta hektar lahan podzolik merah kuning yang bersifat masam (Syarifuddin dan Abdurachman 1993). Tanah masam dapat diperbaiki melalui pengapuran sehingga sesuai untuk pertumbuhan tanaman. Namun, pengapuran membutuhkan biaya yang mahal dan bersifat tidak permanen. Penggunaan tanaman yang toleran tanah masam merupakan pilihan yang lebih baik sehingga tanaman mampu berproduksi di lahan masam. Cekaman abiotik seperti keracunan Fe dan Mn, salinitas maupun suhu rendah juga mempengaruhi produktivitas ta naman. Masalah ini perlu diupayakan pemecahannya, antara lain dengan menanam varietas yang toleran. Teknik bioteknologi dapat dimanfaatkan dalam perakitan varietas toleran cekaman biotik, seperti kekeringan, keracunan Al, dan cekaman abiotik lainnya. Pada saat ini sangat sulit mencari sumber gen ketahanan terhadap cekaman abiotik dari tanaman yang sejenis. Untuk meningkatkan keragaman genetik pada tanaman yang bernilai ekonomis tinggi dapat memanfaatkan teknik variasi somaklonal dan induksi mutasi. Perubahan sifat genetik yang dihasilkan dengan metode ini sangat beragam. Untuk mengarahkan perubahan sifat ke arah yang diinginkan dapat digunakan metode seleksi in vitro. Dalam makalah ini akan dibahas perakitan varietas tanaman toleran terhadap cekaman biotik dengan memanfaatkan teknik bioteknologi tersebut.

 

VARIASI SOMAKLONAL

Variasi somaklonal adalah keragaman genetik yang dihasilkan melalui kultur jaringan. Variasi somaklonal pertama kali ditemukan oleh Larkin dan Scowcorf (1989), yang mendefinisikan sebagai keragaman genetik dari tanaman yang dihasilkan melalui kultur sel, baik sel somatik seperti sel daun, akar, dan batang, maupun sel gamet.

Tidak seperti yang biasa terjadi pada persilangan, dimana keragaman timbul karena segregasi ataupun rekombinasi gen, pada variasi somaklonal keragaman terjadi akibat adanya penggandaan dalam kromosom (fusi, endomitosis), perubahan jumlah kromosom (tagging dan nondisjunction), perubahan struktur kromosom, perubahan gen, dan perubahan sitoplasma ( Kumar dan Mathur, 2004).

Variasi somaklonal yang terjadi pada tanaman dapat bersifat diwariskan (heritable) dan tidak diwariskan. Keragaman yang bersifat diwariskan, dikendalikan secara genetik,bersifat stabil dan dapat diturunkan secara seksual ke generasi selanjutnya. Sedangkan yang bersifat tidak bisa diwariskan dikendalikan secara epigenetik, yang biasanya akan hilang bila diturunkan secara seksual (Skirvin et al,1993).

Wattimena dan Mattjik (1992) menyatakan, keragaman genetik pada kultur jaringan dapat dicapai melalui fase tak berdiferensiasi (fase kalus dan sel bebas) yang relatif lebih panjang. Untuk mendapatkan kestabilan genetik pada kultur jaringan, dapat dilakukan dengan cara menginduksi sesingkat mungkin fase pertumbuhan tak berdiferensiasi. Skirvin et al.,1993 dan Jain, 2001 menyatakan bahwa variasi somaklonal dalam kultur jaringan terjadi akibat penggunaan zat pengatur tumbuh dan tingkat konsentrasinya, lama fase pertumbuhan kalus, tipe kultur yang digunakan ( sel, protoplasma, kalus jaringan), serta digunakan atau tidaknya media seleksi dalam kultur in vitro. Zat pengatur tumbuh kelompok auksin 2,4-D dan 2,4,5-T biasanya dapat menyebabkan terjadinya variasi somaklonal. Pada tanaman kelapa sawit, perlakuan 2,4-D pada kultur kalus yang mampu beregenerasi membentuk tunas menyebabkan variasi somaklonal saat aklimatiasasi di lapangan (Linacero dan Vazquez, 1992; Jayasankar, 2005).

Beberapa sifat tanaman dapat berubah akibat variasi somaklonal, namun sifat lainnya tetap menyerupai induknya. Dengan demikian, variasi somaklonal sangat bermanfaat dalam upaya peningkatan keragaman genetik untuk mendapatkan suatu sifat unggul dengan tetap mempertahankan sifat unggul yang lain.

 

SELEKSI IN VITRO

Keragaman genetik yang ditimbulkan oleh variasi somaklonal dan induksi mutasi bersifat acak. Untuk mengidentifikasi keragaman somaklonal maupun induksi mutasi ke arah perubahan yang diinginkan, dapat digunakan teknik seleksi in vitro. Pada teknik in vitro, seleksi ketahanan terhadap cekaman abiotik seperti kekeringan, keracunan Al, pH tanah rendah, dan salinitas dapat digabungkan dalam media kultur in vitro dan digunakan untuk menumbuhkan varian somaklon yang diperoleh. Tanaman hasil regenerasi jaringan pada kultur in vitro kemungkinan akan mempunyai fenotipe yang toleran terhadap kondisi seleksi. Seleksi in vitro lebih efisien karena kondisi seleksi dapat dibuat homogen, tempat yang dibutuhkan relatif sedikit, dan efektivitas seleksi tinggi. Oleh karena itu, kombinasi antara induksi variasi somaklonal dan seleksi in vitro merupakan alternatif teknologi yang efektif dalam menghasilkan individu dengan karakter yang spesifik (Kadir 2007). Penggunaan teknik in vitro akan menghasilkan populasi sel varian melalui seleksi pada media yang sesuai. Intensitas seleksi dapat diperkuat dan dibuat lebih homogen. Populasi jaringan atau sel tanaman dapat diseleksi dalam media seleksi sehingga akan meningkatkan frekuensi varian dengan sifat yang diinginkan (Specht dan Greaf 1996; Biswas et al. 2002).

Di Cina dan Korea, kombinasi kultur in vitro dan mutagen fisik merupakan teknik perbaikan varietas yang diprioritaskan untuk dikembangkan (Yi dan Le 1997; Yunchang dan Liang 1997). Dilaporkan bahwa kombinasi kedua perlakuan tersebut lebih efektif dan lebih efisien dibandingkan perlakuan tunggal. Melalui seleksi in vitro telah dihasilkan varietas baru tanaman yang tahan terhadap cekaman biotik dan abiotik dengan sifat yang diwariskan (Van den Bulk 1991; Remotti et al. 1995). Beberapa gen seleksi dapat digunakan pada teknik in vitro untuk menghasilkan tanaman yang toleran cekaman abiotik seperti kekeringan, keracunan Al, pH tanah rendah, dan salinitas.

 

Seleksi In Vitro untuk Toleransi terhadap Salinitas

Pengaruh merusak dari garam pada tanaman merupakan akibat dari kekurangan air, karena konsentrasi garam yang terlarut dalam tanah. Kondisi ini mempengaruhi rasio K+/ Na+ karena pemasukan Na+ dan konsentrasi ion Na yang merugikan tanaman. Respons umum tanaman terhadap cekaman garam, kekeringan, dan suhu rendah berupa akumulasi gula dan senyawa kompatibel lainnya. Senyawa ini berfungsi sebagai osmoprotektan (penjaga osmolaritas). Pada beberapa kasus, senyawa osmoprotektan berfungsi menjaga stabilitas biomolekul pada kondisi tercekam. Tanaman yang toleran dan tumbuh pada tanah bergaram mempunyai kandungan garam yang tinggi pada selnya. Penggunaan ion anorganik untuk mengatur tekanan osmosis menunjukkan bahwa tanaman harus mampu menoleransi kandungan garam yang tinggi dalam sel.

Na+ bersifat toksik bagi tanaman karena berpengaruh negatif terhadap nutrisi K+, aktivitas enzim sitosol, fotosintesis, dan metabolisme. Berdasarkan analisis aktivitas enzim terhadap garam dapat disimpulkan bahwa tanaman yang toleran garam dapat menjauhkan Na+ dari sitosol. Tanaman melakukan beberapa cara untuk mempertahankan konsentrasi Na yang rendah dalam sel, yaitu dengan menghambat pemasukan garam, kompartementasi Na+ pada vakuola, dan mengaktifkan efluks Na+.

Uraian di atas menunjukkan bahwa keragaman genetik tanaman dapat ditingkatkan melalui variasi somaklonal dan induksi mutasi, dan perubahannya diarahkan melalui seleksi in vitro. Komponen seleksi yang digunakan adalah NaCl. Metode ini telah dicoba pada tanaman tebu (Farid et al. 2006). Seleksi dimulai pada tahap kalus yang diregenerasi menjadi tunas. Metode tersebut juga telah diterapkan oleh Salaem et al. (2005) pada tanaman padi. Kalus embriogenik padi yang telah diradiasi sinar gama mampu beregenerasi membentuk tunas pada media seleksi yang mengandung NaCl tinggi. Metode ini juga telah dicoba oleh Pesqueira et al. (2006) pada tanaman jagung. Kalus embriogenik jagung yang telah dimutasi dengan sinar gama mampu beregenerasi membentuk tunas pada media yang mengandung NaCl tinggi. Selain pada tanaman padi dan jagung, seleksi in vitro telah digunakan untuk meningkatkan ketahanan sel terhadap salinitas pada beberapa tanaman yang bernilai ekonomis seperti alpokat (Rosas et al. 2003).

 

 

PENGARUH FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP FISIOLOGI TUMBUHAN

 

CEKAMAN PADA TUMBUHAN

Pada prinsipnya, setiap tumbuhan memiliki kisaran tertentu terhadap factor lingkungannya. Prinsip tersebut dinyatakan sebagai Hukum Toleransi Shelford, yang berbunyi “Setiap organisme mempunyai suatu minimum dan maksimum ekologis, yang merupakan batas bawah dan batas atas dari kisaran toleransi organism itu terhadap kondisi factor lingkungannya” (Dharmawan, 2005). Setiap makhluk hidup memiliki range of optimum atau kisaran optimum terhadap factor lingkungan untuk pertumbuhannya. Kondisi di atas ataupun di bawah batas kisaran toleransi, makhluk hidup akan mengalami stress fisiologis. Pada kondisi stress fisiologis ini, populasi akan menurun. Apabila kondisi stress ini terus berlangsung dalam waktu yang lama dan telah mencapai batas toleransi kelulushidupan, maka organism tersebut akan mati.

Stres (cekaman) biasanya didefinisikan sebagai faktor luar yang tidak menguntungkan yang berpengaruh buruk terhadap tanaman (Fallah, 2006). Campbell (2003), mendefinisikan cekaman sebagai kondisi lingkungan yang dapat memberi pengaruh buruk pada pertumbuhan, reproduksi, dan kelangsungan hidup tumbuhan. Menurut Hidayat (2002), pada umumnya cekaman lingkungan pada tumbuhan dikelompokkan menjadi dua, yaitu: (1) cekaman biotik, terdiri dari: (a) kompetisi intra spesies dan antar spesies, (b) infeksi oleh hama dan penyakit, dan (2) cekaman abiotik berupa: (a) suhu (tinggi dan rendah), (b) air (kelebihan dan kekurangan), (c) radiasi (ultraviolet, infra merah, dan radiasi mengionisasi), (d) kimiawi (garam, gas, dan pestisida), (e) angin, dan (f) suara. Menurut Sipayung (2006), kerusakan yang timbul akibat stres dapat dikelompokkan dalam 3 jenis kerusakan sebagai berikut.

a)      Kerusakan stres langsung primer

b)      Kerusakan stres tak langsung primer

c)      Kerusakan stres sekunder (dapat terjadi juga stres tersier)

 

A. Respon Terhadap Cekaman Air

Faktor air dalam fisiologi tanaman merupakan faktor utama yang sangat penting. Tanaman tidak akan dapat hidup tanpa air, karena air adalah matrik dari kehidupan, bahkan makhluk lain akan punah tanpa air. Kramer menjelaskan tentang betapa pentingnya air bagi tumbuh-tumbuhan; yakni air merupakan bagian dari protoplasma (85-90% dari berat keseluruhan bahagian hijau tumbuh-tumbuhan (jaringan yang sedang tumbuh) adalah air. Selanjutnya dikatakan bahwa air merupakan reagen yang penting dalam proses-proses fotosintesa dan dalam proses-proses hidrolik. Disamping itu juga merupakan pelarut dari garam-garam, gas-gas dan material-material yang bergerak kedalam tumbuh tumbuhan, melalui dinding sel dan jaringan esensial untuk menjamin adanya turgiditas, pertumbuhan sel, stabilitas bentuk daun, proses membuka dan menutupnya stomata, kelangsungan gerak struktur tumbuh-tumbuhan.

Peran air yang sangat penting tersebut menimbulkan konsekuensi bahwa langsung atau tidak langsung kekurangan air pada tanaman akan mempengaruhi semua proses metaboliknya sehingga dapat menurunkan pertumbuhan tanaman (Sinaga, 2008). Efek kelebihan air atau banjir yang umum adalah kekurangan oksigen, sedangkan kekurangan air atau kekeringan akan mengakibatkan dehidrasi pada tanaman yang berpengaruh terhadap zona sel turgor yang selanjutnya dapat menghambat pertumbuhan tanaman (Fallah, 2006). Kebutuhan air bagi tanaman dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain jenis tanaman dalam hubungannya dengan tipe dan perkembangannya, kadar air tanah dan kondisi cuaca.

 

 

 

  1. 1.      Respon Terhadap Cekaman Kelebihan Air

Dampak genangan air adalah menurunkan pertukaran gas antara tanah dan udara yang mengakibatkan menurunnya ketersediaan O2 bagi akar, menghambat pasokan O2 bagi akar dan mikroorganisme (mendorong udara keluar dari pori tanah maupun menghambat laju difusi). Genangan berpengaruh terhadap proses fisiologis dan biokimiawi antara lain respirasi, permeabilitas akar, penyerapan air dan hara, penyematan N. Genangan menyebabkan kematian akar di kedalaman tertentu dan hal ini akan memacu pembentukan akar adventif pada bagian di dekat permukaan tanah pada tanaman yang tahan genangan. Kematian akar menjadi penyebab kekahatan N dan cekaman kekeringan fisiologis (Staff Lab Ilmu Tanaman, 2008).

 

  1. 2.      Respon Terhadap Cekaman Kekeringan

Cekaman kekeringan pada tanaman disebabkan oleh kekurangan suplai air di daerah perakaran dan permintaan air yang berlebihan oleh daun dalam kondisi laju evapotranspirasi melebihi laju absorbsi air oleh akar tanaman. Serapan air oleh akar tanaman dipengaruhi oleh laju transpirasi, sistem perakaran, dan ketersediaan air tanah (Lakitan, 1996). Secara umum tanaman akan menunjukkan respon tertentu bila mengalami cekaman kekeringan. Staff Lab Ilmu Tanaman (2008) mengemukakan bahwa cekaman kekeringan dapat dibagi ke dalam tiga kelompok yaitu;

a)      Cekaman ringan : jika potensial air daun menurun 0.1 Mpa atau kandungan air nisbi menurun 8 – 10 %

b)      Cekaman sedang : jika potensial air daun menurun 1.2 s/d 1.5 Mpa atau kandungan air nisbi menurun 10 – 20 %

c)      Cekaman berat : jika potensial air daun menurun >1.5 Mpa atau kandungan air nisbi menurun > 20%

Lebih lanjut Staff Lab Ilmu Tanaman mengemukakan bahwa apabila tanaman kehilangan lebih dari separuh air jaringannya dapat dikatakan bahwa tanaman mengalami kekeringan.Kekurangan air akan mengganggu aktifitas fisiologis maupun morfologis, sehingga mengakibatkan terhentinya pertumbuhan. Defisiensi air yang terus menerus akan menyebabkan perubahan irreversibel (tidak dapat balik) dan pada gilirannya tanaman akan mati (Haryati, 2008). Respon tanaman terhadap stres air sangat ditentukan oleh tingkat stres yang dialami dan fase pertumbuhan tanaman saat mengalami cekaman. Respon tanaman yang mengalami cekaman kekeringan mencakup perubahan ditingkat seluler dan molekuler seperti perubahan pada pertumbuhan tanaman, volume sel menjadi lebih kecil, penurunan luas daun, daun menjadi tebal, adanya rambut pada daun, peningakatan ratio akar-tajuk, sensitivitas stomata, penurunan laju fotosintesis, perubahan metabolisme karbon dan nitrogen, perubahan produksi aktivitas enzim dan hormon, serta perubahan ekspresi (Sinaga, 2008).

Tumbuhan merespon kekurangan air dengan mengurangi laju transpirasi untuk penghematan air. Terjadinya kekurangan air pada daun akan menyebabkan sel-sel penjaga kehilangan turgornya. Suatu mekanisme control tunggal yang memperlambat transpirasi dengan cara menutup stomata. Kekurangan air juga merangsang peningkatan sintesis dan pembebasan asam absisat dari sel-sel mesofil daun. Hormon ini membantu mempertahankan stomata tetap tertutup dengan cara bekerja pada membrane sel penjaga. Daun juga berespon terhadap kekurangan air dengan cara lain. Karena pembesaran sel adalah suatu proses yang tergantung pada turgor, maka kekurangan air akan menghambat pertumbuhan daun muda. Respon ini meminimumkan kehilangan air melalui transpirasi dengan cara memperlambat peningkatan luas permukaan daun. Ketika daun dari kebanyakan rumput dan kebanyakan tumbuhan lain layu akibat kekurangan air, mereka akan menggulung menjadi suatu bentuk yang dapat mengurangi transpirasi dengan cara memaparkan sedikit saja permukaan daun ke matahari (Campbell, 2003).

Kedalaman perakaran sangat berpengaruh terhadap jumlah air yang diserap. Pada umumnya tanaman dengan pengairan yang baik mempunyai sistem perakaran yang lebih panjang daripada tanaman yang tumbuh pada tempat yang kering. Rendahnya kadar air tanah akan menurunkan perpanjangan akar, kedalaman penetrasi dan diameter akar (Haryati, 2006). Hasil penelitian Nour dan Weibel tahun 1978 menunjukkan bahwa kultivarkultivar sorghum yang lebih tahan terhadap kekeringan, mempunyai perkaran yang lebih banyak, volume akar lebih besar dan nisbah akar tajuk lebih tinggi daripada lini-lini yang rentan kekeringan (Goldsworthy dan Fisher, dalam Haryati, 2006).

Senyawa biokimia yang dihasilkan tanaman sebagai respon terhadap kekeringan dan berperan dalam penyesuaian osmotik bervariasi, antara lain gula-gula, asam amino, dan senyawa terlarut yang kompatibel. Senyawa osmotik yang banyak dipelajari pada toleransi tanaman terhadap kekeringan antara lain prolin, asam absisik, protein dehidrin, total gula, pati, sorbitol, vitamin C, asam organik, aspargin, glisin-betain, serta superoksida dismutase dan K+ yang bertujuan untuk menurunkan potensial osmotik sel tanpa membatasi fungsi enzim (Sinaga, 2008).

 

B. Respon Terhadap Cekaman Salinitas

Stres garam terjadi dengan terdapatnya salinitas atau konsentrasi garam-garam terlarut yang berlebihan dalam tanaman. Stres garam ini umumnya terjadi dalam tanaman pada tanah salin. Stres garam meningkat dengan meningkatnya konsentrasi garam hingga tingkat konsentrasi tertentu yang dapat mengakibatkan kematian tanaman. Garam-garam yang menimbulkan stres tanaman antara lain ialah NaCl, NaSO4, CaCl2, MgSO4, MgCl2 yang terlarut dalam air (Sipayung, 2006). Stres akibat kelebihan Na+ dapat mempengaruhi beberapa proses fisiologi dari mulai perkecambahan sampai pertumbuhan tanaman (Fallah, 2006).

Menurut Petani Wahid (2006), kemasaman tanah merupakan kendala paling inherence dalam pengembangan pertanian di lahan sulfat masam. Tanaman tumbuh normal (sehat) umumnya pada ph 5,5 untuk tanah gambut dan pH 6,5 untuk tanah mineral karena pada pH 50 cm dari permukaan tanah. Pada kebanyakan spesies, pengaruh jenis-jenis garam umumnya tidak khas terhadap tumbuhan tanaman tetapi lebih tergantung pada konsentrasi total garam.

Salinitas tidak ditentukan oleh garam Na Cl saja tetapi oleh berbagai jenis garam yang berpengaruh dan menimbulkan stres pada tanaman. Dalam konteks ini tanaman mengalami stres garam bila konsentrasi garam yang berlebih cukup tinggi sehingga menurunkan potensial air sebesar 0,05 – 0,1 Mpa. Stres garam ini berbeda dengan stres ion yang tidak begitu menekan potensial air (Lewit, dalam Sipayung, 2006).

Toleransi terhadap salinitas adalah beragam dengan spektrum yang luas diantara spesies tanaman mulai dari yang peka hingga yang cukup toleran. Follet et al, (1981 dalam Sipayung, 2006) mengajukan lima tingkat pengaruh salinitas tanah terhadap tanaman, mulai dari tingkat non-salin hingga tingkat salinitas yang sangat tinggi, seperti diberikan pada Tabel 1.

 

 Tabel 1. Pengaruh Tingkat Salinitas terhadap Tanaman

Tingkat Salinitas

Konduktivitas (mmhos)

Pengaruh terhadap tanaman

 

Non salin

0-2

Dapat diabaikan

Rendah

2-4

Tanaman yang peka terganggu

Sedang

4-8

Kebanyakan tanaman terganggu

Tinggi

8-16

Tanaman yang toleran belum terganggu

Sangat tinggi

>16

Hanya beberapa jenis tanaman toleran yang dapat tumbuh

 

Kelebihan NaCl atau garam lain dapat mengancam tumbuhan karena dua alasan. Pertama, dengan cara menurunkan potensial air larutan tanah, garam dapat menyebabkan kekurangan air pada tumbuhan meskipun tanah tersebut mengandung banyak sekali air. Hal ini karena potensial air lingkungan yang lebih negatif dibandingkan dengan potensial air jaringan akar, sehingga air akan kehilangan air, bukan menyerapnya. Kedua, pada tanah bergaram, natrium dan ion-ion tertentu lainnya dapat menjadi racun bagi tumbuhan jika konsentrasinya relative tinggi. Membran sel akar yang selektif permeabel akan menghambat pengambilan sebagian besar ion yang berbahaya, akan tetapi hal ini akan memperburuk permasalahan pengambilan air dari tanah yang kaya akan zat terlarut (Campbell, 2003).

Salinitas menekan proses pertumbuhan tanaman dengan efek yang menghambat pembesaran dan pembelahan sel, produksi protein serta penambahan biomass tanaman. Tanaman yang mengalami stres garam umumnya tidak menunjukkan respon dalam bentuk kerusakan langsung tetapi pertumbuhan yang tertekan dan perubahan secara perlahan. Gejala pertumbuhan tanaman pada tanah dengan tingkat salinitas yang cukup tinggi adalah pertumbuhan yang tidak normal seperti daun mengering di bagian ujung dan gejala khlorosis. Gejala ini timbul karena konsentrasi garam terlarut yang tinggi menyebabkan menurunnya potensial larutan tanah sehingga tanaman kekurangan air. Sifat fisik tanah juga terpengaruh antara lain bentuk struktur, daya pegang air dan permeabilitas tanah.

Pertumbuhan sel tanaman pada tanah salin memperlihatkan struktur yang tidak normal. Penyimpangan yang terjadi meliputi kehilangan integritas membran, kerusakan lamella, kekacauan organel sel, dan akumulasi Kalsium Oksalat dalam sitoplasma, vakuola, dinding sel dan ruang antar sel. Kerusakan struktur ini akan mengganggu transportasi air dan mineral hara dalam jaringan tanaman (Maas dan Nieman, dalam Sipayung, 2006). Banyak tumbuhan dapat berespon terhadap salinitas tanah yang memadai dengan cara menghasilkan zat terlarut kompatibel, yaitu senyawa organic yang menjaga potensial air larutan tanah, tanpa menerima garam dalam jumlah yang dapat menjadi racun. Namun demikian, sebagian besar tanaman tidak dapat bertahan hidup menghadapi cekaman garam dalam jangka waktu yang lama kecuali pada tanaman halofit, yaitu tumbuhan yang toleran terhadap garam dengan adaptasi khusus seperti kelenjar garam, yang memompa garam keluar dari tubuh melewati epidermis daun (Campbell, 2003).

Ketika terjadi cekaman lingkungan seperti kekeringan, logam berat atau salinitas, tanaman bereaksi dalam beragam cara untuk menghadapi perubahan yang berpotensi merusak. Salah satu hasil dari tekanan tersebut adalah adanya akumulasi reactive oxygen species (ROS) dalam tanaman, dimana hal tersebut dapat menghancurkan tanaman dan berakibat pada berkurangnya produktivitas tanaman. ROS berdampak pada fungsi seluler, seperti kerusakan pada asam nukleat atau oksidasi protein tanaman yang penting.

 

C. Respon Terhadap Cekaman Suhu

Suhu sebagai faktor lingkungan dapat mempengaruhi produksi tanaman secara fisik maupun fisiologis. Secara fisik, suhu merupakan bagian yang dipengaruhi oleh radiasi sinar matahari dan dapat diestimasikan berdasarkan keseimbangan panas. Secara fisiologis, suhu dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman, fotosintesis, pembukaan stomata, dan respirasi. Selain itu, suhu merupakan salah satu penghambat dalam proses fisiologi untuk sistem produksi tanaman ketika suhu tanaman berada diluar suhu optimal terendah maupun tertinggi.

  1. 1.      Cekaman Panas

Panas berlebihan dapat mengganggu dan akhirnya membunuh suatu tumbuhan dengan cara mendenaturasi enzim-enzimnya dan merusak metabolismenya dalam berbagai cara. Salah satu fungsi transpirasi adalah pendinginan melalui penguapan. Pada hari yang panas, misalnya temperature daun berkisar 3°C sampai 10°C di bawah suhu sekitar. Tentunya, cuaca panas dan kering juga enderung menyebabkan kekurangan air pada banyak tumbuhan; penutupan stomata sebagai respon terhadap cekaman ini akan menghemat air, namun mengorbankan pendinginan melalui penguapan tersebut. Sebagian besar tumbuhan memiliki respon cadangan yang memungkinkan mereka untuk bertahan hidup dalam cekaman panas Di atas suatu temperature tertentu- sekitar 40°C pada sebagian besar tumbuhan yang menempati daerah empat musim, sel-sel tumbuhan mulai mensintesis suatu protein khusus dalam jumlah yang cukup banyak yang disebut protein kejut panas (heat-shock protein). Protein kejut panas ini kemungkinan mengapit enzim serta protein lain dan membantu mencegah denaturasi (Campbell, 2003).

  1. 2.      Cekaman Dingin

Satu permasalahan yang dihadapi tumbuhan ketika temperature lingkungan turun adalah perubahan ketidakstabilan membrane selnya. Ketika sel itu didinginkan di bawah suatu titik kritis, membrane akan kehilangan kecairannya karena lipid menjadi terkunci dalam struktur Kristal. Keadaan ini mengubah transport zat terlarut melewati membrane, juga mempengaruhi fungsi protein membrane. Tumbuhan merespon terhadap cekaman dingin dengan cara mengubah komposisi lipid membrannya. Contohnya adalah meningkatnya proporsi asam lemak tak jenuh, yang memiliki struktur yang mampu menjaga membrane tetap cair pada suhu lebih rendah dengan cara menghambat pembentukan Kristal. Modifikasi molekuler seperti itu pada membrane membutuhkan waktu beberapa jam hingga beberapa hari. Pada suhu di bawah pembekuan, Kristal es mulai terbentuk pada sebagian besar tumbuhan. Jika es terbatas hanya pada dinding sel dan ruang antar sel, tumbuhan kemungkinan akan bertahan hidup. Namun demikian, jika es mulai terbentuk di dalam protoplas, Kristal es yang tajam itu akan merobek membrane dan organel yang dapat membunuh sel tersebut. Beberapa tumbuhan asli di daerah yang memiliki musim dingin sangat dingin (seperti maple, mawar, rhodendron) memiliki adaptasi khusus yang memungkinkan mereka mampu menghadapi cekaman pembekuan tersebut. Sebagai contoh, perubahan dalam komposisi zat terlarut sel-sel hidup memungkinkan sitosol mendingin di bawah 0°C tanpa pembentukan es, meskipun Kristal es terbentuk dalam dinding sel (Campbell, 2003).

 

D. Respon Terhadap Kekurangan Oksigen

Tumbuhan yang disiram terlalu banyak air bisa mengalami kekurangan oksigen karena tanah kehabisan ruangan udara yang menyediakan oksigen untk respirasi seluler akar (Campbell, 2003). Keadaan lingkungan kekurangan O2 disebut hipoksia, dan keadaan lingkungan tanpa O2 disebut anoksia (mengalami cekaman aerasi) (Staff Lab Ilmu Tanaman, 2008). Beberapa tumbuhan secara structural diadaptasikan ke habitat yang sangat basah. Sebagai contoh, akar pohon bakau yang terendam air, yang hidup di rawa pesisir pantai, adalah sinambungan dengan akar udara yang menyediakan akses ke oksigen (Campbell, 2003).

 

E. Respon Terhadap Cekaman Cahaya

Cahaya merupakan salah satu kunci penentu dalam proses metabolisme dan fotosintesis tanaman. Cahaya dibutuhkan oleh tanaman mulai dari proses perkecambahan biji sampai tanaman dewasa. Respon tanaman terhadap cahaya berbeda-beda antara jenis satu dengan jenis lainnya. Ada tanaman yang tahan ( mampu tumbuh ) dalam kondisi cahaya yang terbatas atau sering disebut tanaman toleran dan ada tanaman yang tidak mampu tumbuh dalam kondisi cahaya terbatas atau tanaman intoleran.

Kedua kondisi cahaya tersebut memberikan respon yang berbeda-beda terhadap tanaman, baik secara anatomis maupun secara morfologis. Tanaman yang tahan dalam kondisi cahaya terbatas secara umum mempunyai ciri morfologis yaitu daun lebar dan tipis, sedangkan pada tanaman yang intoleran akan mempunyai ciri morfologis daun kecil dan tebal. Kedua kondisi tersebut akan dapat menjadi faktor penghambat pertumbuhan tanaman apabila pemilihan jenis tidak sesuai dengan kondisi lahan, artinya tanaman yang toleran ketika ditanam diareal yang cukup cahaya justru akan mengalami pertumbuhan yang kurang baik, begitu juga dengan tanaman intolean apabila di tanam pada areal yang kondisi cahaya terbatas pertumbuhan akan mengalami ketidak normalan. Dengan demikian pemilihan jenis berdasarkan pada sifat dasar tanaman akan menjadi kunci penentu dalam keberhasilan pembuatan tanaman. Berikut ini adalah perbedaan Tanaman Toleran ( Shade leaf) Vs Intoleran ( Sun Leaf) menurut Silvika (2009).

  • Tumbuhan cocok ternaung menunjukkan laju fotosintesis yang sangat rendah pada intensitas cahaya tinggi dibanding tumbuhan cocok terbuka.
  • Laju fotosintesis tumbuhan cocok ternaung mencapai titik jenuh pada intensitas cahaya yang lebih rendah dibanding tumbuhan cocok terbuka.
  • Laju fotosintesis tumbuhan cocok ternaung lebih tinggi dibanding tumbuhan cocok terbuka pada intensitas cahaya yang sangat rendah.
  • Titik kompensasi cahaya untuk tumbuhan cocok ternaung lebih rendah dibanding tumbuhan cocok terbuka.

 

F. Respon Terhadap Herbivora

Herbivora adalah suatu cekaman yang diahadapi tumbuhan dalam setiap ekosistem. Tumbuhan menghadapi herbivore yang begitu banyak baik dengan pertahanan fisik, seperti duri, maupun pertahanan kimia, seperti produksi senyawa yang tidak enak atau bersifat toksik. Sebagai contoh beberapa tumbuhan menghasilkan suatu asam amino yang tidak umum yang disebut kanavanin yang dinamai berdasarkan salah satu sumbernya, jackbean (Cannavalia ensiformis). Kanavanin mirip arginin. Jika suatu serangga memakan tumbuhan yang mengandung kanavanin, molekul itu bergabung dengan protein serangga di tempat yang biasanya ditempati oleh arginin, yang dapat menyebabkan matinya serangga tersebut (Campbell, 2003).

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, at al. 2003. Biologi Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Dharmawan, Agus. 2005. Ekologi Hewan. Malang: UM Press.

Fallah, Affan Fajar. 2006. Perspektif Pertanian dalam Lingkungan yang Terkontrol. http://io.ppi jepang.org. Diakses pada tanggal 5 Juli 2009.

Haryati. 2008. Pengaruh Cekaman Air Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman http://library.usu.ac.id/download/fp/hslpertanian-haryati2.pdf. Diakses pada tanggal 5 Juli 2009.

Hidayat. 2002. Cekaman Pada Tumbuhan.      http://www.scribd.com/document_downloads/13096496?extension=pdf&secret_password=. Diakses pada tanggal 5 Juli 2009.

Lakitan, Benyamin. 1996. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Petani Wahid. 2006. Cekaman Lingkungan Abiotik pada Lahan-Lahan Marginal.  http://petaniwahid.blogspot.com/2008/08/tanah-tantangan-bertani-di indonesia.html. Diakses pada tanggal 5 Juli 2009.

Silvika. 2009. Cekaman Cahaya. http://silvika.atspace.com/acara3.htm. Diakses pada tanggal 5 Juli 2009.

Sinaga. 2008. Peran Air Bagi Tanaman. http://puslit.mercubuana.ac.id/file/8Artikel %20Sinaga.pdf. Diakses pada tanggal 5 Juli 2009.

Sipayung, Rosita. 2006. Cekaman Garam. http://library.usu.ac.id/download/fp/bdp-rosita2.pdf. Diakses pada tanggal 5 Juli 2009.

TEKNOLOGI BENIH

PENGARUH PERLAKUAN PEMATAHAN DORMANSI DAN MEDIA PERKECAMBAHAN TERHADAP VIABILITAS BENIH TERUNG (Solanum melongia L)

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

 

Tanaman sayuran mengandung nilai gizi tinggi yang dibutuhkan oleh manuasia karena dapat meningkatkan daya cerna metabolisme serta menimbulkan daya tahan terhadap gangguan penyakit atau kelemahan jasmani lainnya. Salah satu tanaman sayuran yang memiliki nilai gizi yang cukup tinggi adalah terung (Solanum melongia L.). Menurut Soetasad dan Muryanti (1999), terong sebagai salah satu sayuran memiliki nilai gizi yang cukup tinggi, yaitu belturut-turut untuk energi, protein, lemak dan karbohidrat adalah 24 kal, 1.1 g, 0.2 g, dan 5.5 g untuk setiap 100 g bahan.

Terung termasuk dalam famili Solanaceae seperti cabai dan tomat. Benih-benih dari famili tersebut mengalami after ripening yang menyebabkan dormansi dimana kondisi benih tidak berkecambah walaupun ditanam pada kondisi yang optimum. Setiap jenis tanaman dapat mengalami dormansi selama beberapa hari, semusim bahkan sampai beberapa tahun tergantung jenis dormansinya. Pertumbuhan tidak akan terjadi selama benih belum melalui masa dormansinya atau sebelum dikenakan perlakuan khusus terhadap benih tersebut. Dormansi dapat dipandang sebagai salah satu keuntungan biologis dari benih dalam mengadaptasikan siklus pertumbuhan tanaman terhadap lingkungannya sehingga secara tidak langsung benih dapat menghindarkan dirinya dari kemusnahan alam.

Benih terung mempunyai masa dormansi yang bervariasi antara 1-3 bulan. (Wanafiah,  2003).  Hasil  penelitian lainnya  menyebutkan bahwa pada benih Solanum khasianum mengalami dormansi yang diakibatkan oleh embrio benih yang belum masak dan berakhir setelah 3-4 bulan setelah penyimpanan. Masa dormansi yang panjang pada benih terung dapat membiaskan penilaian evaluasi kecambah pada pengujian daya berkecambah di laboratorium. Selain  itu  pengujian  ulang  yang  dilakukan  sampai  beberapa kali akan mengakibatkan penambahan biaya yang tinggi pada pengujian daya berkecambah, maka oleh sebab itu dibutuhkan sebuah perlakuan yang mampu  memecahkan dormansi secara tepat.

Penggunaan KNO3, GA3, stratifikasi dan penyimpanan kering merupakan beberapa teknik pematahan dormansi yang telah dikembangkan saat ini. Tiap tanaman memiliki tipe dormansi yang berbeda pula sehingga dibutuhkan metode yang efektif untuk pematahan dormansi pada benih. Menurut Ilyas dan Diarni dalam Ilyas (2011), perlakuan priming pada benih padi gogo varietas Kalimutu, Way Rarem dan Gajah Mungkur menggunakan KNO3 1% selama 48 jam merupakan pematahan dormansi yang paling efektif pada 0 MSP. Pada benih Solanaceae, pematahan dormansidapat dilakukan melalui priming dengan PEG 6000 dan KNO3. Benih terong kopek varietas Dadali yang direndam pada 100 ppm GA3 selama 24 jam dan dikecambahkan pada arang sekam mempunyai viabilitas dan vigor yang paling tinggi (Fitria, 2001).

  Penelitian-penelitian tentang dormansi benih khususnya benih terung dan metode pematahanya yang efektif sangat diperlukan untuk memecahkan permasalahan tersebut. Hasil penelitian ini akan dapat memberikan informasi atau rekomendasi terhadap metoda yang efektif untuk pematahan dormansi pada benih-benih yang baru dipanen  maupun yang sudah disimpan. Hal tersebut sangat membantu analis benih untuk menganalisis hasil pengujian benih dengan benar dan mampu memberikan  rekomendasi  perlakuan pematahan dormansi yang aplikatif kepada konsumen benih terung.

 

Tujuan

 

Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari dan mengetahui teknik pematahan dormansi yang efektif pada dormansi fisiologis benih terung dengan menggunakan KNO3 dan GA3 pada media tanam yang berbeda.

 

 

 

Hipotesis

 

1.  Terdapat salah satu teknik pematahan dormansi yang efektif dan  memberikan pengaruh terhadap viabilitas benih terung.

2.  Terdapat salah satu media perkecambahan yang efektif dan memberikan pengaruh terhadap viabilitas benih terung.

3.  Terdapat interaksi antara teknik pematahan dormansi dan media perkecambahan terhadap viabilitas benih terung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TINJAUAN PUSTAKA

 

 

Tanaman Terung

 

Tanaman terung atau eggplant  merupakan  tanaman  asli  daerah  tropis. Tanaman ini diduga berasal dari Benua Asia terutama India dan Birma.  Sumber lainya menyebutkan bahwa plasma nutfah terung ditemukan juga di Afrika yaitu Solanum macrocarpa L atau terung engkol. Kerabat dekat terung antara lain Tekokak (Solanum toruum Swartz) yang banyak tumbuh liar dihutan-hutan,  S. khasianum Clarke,  S. laciniatum Ait,Ranti (S. ningrum L.), S. sanitwongsei,  S. macrantum dan S. gradiflorum untuk bahan baku kontrasepsi KB.

Tanaman  terung  sudah  lama  dikenal  penduduk  Indonesia.  Menurut Rukmana (1994) di  Indonesia,  tanaman terung mempunyai  nama-nama  daerah yaitu trueng (Aceh), trong (Gayo), reteng (Batak), toru (Nias), tiung (Lampung), terong  (Sunda),  econg  (Jawa),  kaumenu  (Timor),  antibu  (Gorontalo),  cucumu (Halmahera), tofoki (Ternate dan Tidore) dan papalo atau titirium (Irian).

Terung adalah tanaman berumur pendek berbentuk perdu, lazim ditanam sebagai  tanaman semusim karena jika menjadi tua maka tanaman akan sangat besar dan produksinya menurun tajam. (Williams et al. dalam Rukmana, 1994).

Menurut Rubatzky dan Yamaguchi dalam Usmanij (1990), tanaman terung  memiliki pola pertumbuhan indeterminate dan bergantung pada varietas dapat menghasilkan sedikit hingga banyak buah. Pola pertumbuhan tanaman terung merupakan semak, yang disebabkan oleh produksi tunas pada ketiak daun. Tanaman  terung  memiliki batang tegak  dan  bercabang.  Daun  pada umumnya besar,  berselang-seling dan tunggal.  Lembar  daun bulat  telur hingga bulat telur lonjong dengan bagian tepi berombak. Bunga terung merupakan bunga sempurna,  berwarna  keunguan  dan  menyerbuk  sendiri.  Buah  terung  termasuk buah buni besar,  menggantung tanpa rongga (Rubatzky dan Yamaguchi  dalam Rukmana, 1994).

Terung memiliki bentuk dan warna buah yang bervariasi bergantung pada jenis varietasnya. Varietas-varietas terung yang banyak digunakan didunia terdiri atas varietas Black Beauty, Long Purple dan Florida Market (Sutarno et al. dalam Rukmana,1994).

Varietas  terung yang terdapat  di Asia Tenggara dibedakan menjadi  dua tipe yaitu varietas terung Lokal, di Indonesia terkenal dengan terung Kopek dan varietas terung Bogor atau dikenal dengan terung Gelatik. Kedua tipe varietas ini dibedakan atas  bentuk dan warna  buah.  Varietas  Lokal  memiliki  bentuk buah bulat panjang dengan ujung tumpul dan warna buah cukup bervariasi mulai dari ungu hingga hijau keunguan.  Sedangkan varietas  Bogor memiliki  bentuk buah bulat  besar  dengan warna buah putih atau hijau keputih-putihan (Sutarno  et.al. dalam Rukmana,1994).

Tanaman  terung  secara  normal  dapat  menghasilkan  buah  sebanyak  8 hingga 14 buah  per  pohonnya (Sutarno  et  aldalam Rukmana,  1994).  Total tertinggi  produksi  terung  yang dapat  dihasilkan  setiap hektarnya  mencapai  25 hingga 50 ton.

 

Perkecambahan Benih

Pengertian  perkecambahan  benih  menurut  Jann  dan  Amen  dalam Usmanij(1990)  dibedakan  menjadi  :  (1)  morfologis,  yaitu  perubahan   bentuk embrio  menjadi  kecambah,  (2)  fisiologis,  yaitu  dimulainya  kembali  proses metabolisme dan pertumbuhan struktur penting dari embrio yang tadinya tertunda dan ditandai dengan munculnya struktur tersebut menembus kulit benih, dan (3) biokimia,  yaitu  suatu  rangkaian  perubahan  lintasan-lintasan  oksidatif  yang menyebabkan perubahan senyawa-senyawa kimia dalam benih.

Tissaoui dan Come dalam Fitria A (2001), menyatakan bahwa keseluruhan proses  perkecambahan  melewati  tiga  fase,  yaitu  fase  imbibisi,  fase perkecambahan  sensu stricto (fase aktifasi)  dan fase pertumbuhan yang diawali munculnya radikula. 

Fase I disebut juga dengan fase imbibisi,  dalam fase ini air diserap oleh benih, baik benih dorman maupun non dorman, benih viabel maupun non viabel. Proses ini berlangsung karena adanya perbedaan potensial air antara benih dengan air yang sangat besar. Potensial air pada benih kering dapat mencapai –1000 bar, sementara pada air 0 bar. Fase II atau lag phase adalah periode mulai aktifnya metabolisme sebagai persiapan untuk perkecambahan pada benih non dorman. Sementara pengaktifan metabolisme tidak terjadi pada benih mati.

Fase III atau fase pertumbuhan hanya terjadi pada benih non dorman yang viabel, ditandai dengan munculnya akar dan diikuti dengan proses pembelahan sel yang  ekstensif,  peningkatan  laju  penyerapan  air  dan  perombakan  cadangan makanan.

Proses yang terjadi selama perkecambahan  meliputi proses pada awal perkecambahan (sebelum gejala kecambah nampak) seperti imbibisi  merupakan  proses  penyerapan  air  kedalam  benih,  hal  ini dipengaruhi oleh tingkat permeabilitas kulit benih, komposisi kimia benih dan ketersediaan air disekitarnya; pengaktifan respirasi; dan pengaktifan enzim, organel, sintesa RNA dan protein. Proses lainnya adalah proses lanjutan dari perkecambahan (sesudah gejala nampak) seperti perombakan dan mobilitas cadangan makanan utama meliputi karbohidrat, lemak, protein dan fosfat; respirasi dan biosintesa; serta pertumbuhan kecambah.

 

 

Dormansi Benih

 

Dormansi secara umum digambarkan sebagai suatu kondisi dimana benih tidak menunjukkan gejala tumbuh atau tidak mampu berkecambah sekalipun pada lingkungan yang mendukung untuk perkecambahan. Secara alami dormansi benih merupakan suatu mekanisme pengaturan perkecambahan sebagai adaptasi untuk ketahanan alami  spesies yang bersangkutan  terhadap  kondisi  lingkungan yang tidak sesuai  untuk perkecambahan (Villiers,  1972). Mayer  dan Mayber  (1982) menegaskan bahwa dormansi  benih adalah suatu keadaan benih dimana benih tidak mampu berkecambah walaupun faktor perkecambahan (air, suhu, komposisi gas dan cahaya) berada dalam keadaan optimum.

Croker  dalam Villiers  (1972)  mengklasifikasikan  penyebab  dormansi sebagai berikut : (1) embrio benih yang belum masak, (2) kulit benih impermiable terhadap air,  (3) halangan mekanis  kulit  benih bagi  pertumbuhan embrio yang memerlukan  cahaya,  (4)  kulit  benih  impermiable terhadap  gas,  (5)  adanya inhibitor dalam embrio, (6) kombinasi  dari penyebab-penyebab tersebut dan (7) dormansi skunder.

Ellis et al. (1985) menyatakan bahwa dormansi benih dapat dikategorikan menjadi : (1) Ecological dormancy (2) Hardseedness, (3) Enforced dormancy, (4) Induced dormancy,  (5)  Water sensitivity, (6) Embryo dormancy. Dormansi yang disebabkan oleh kelembaban yang  memenuhi  syarat  disebut Ecological dormancy, sedangkan  Hardseedness disebabkan oleh kulit benih yang keras sehingga benih sulit mengimbibisi air. Enforced dormancy yaitu dormansi yang disebabkan oleh faktor lingkungan dimana benih yang dapat  berkecambah jika faktor penghambat tersebut dihilangkan, Induced dormancy  yaitu dormansi karena  salah  satu  faktor  lingkungan  dan  apabila  dikembalikan  pada  keadaan semula benih tetap dorman dan Innate dormancy yaitu dormansi yang terjadi sejak benih masih berada pada tanaman induk. Water sensitivity yaitu benih tidak dapat berkecambah karena peka terhadap kelembaban tinggi dan tidak menunjukkan kerusakan  pada  kotiledon sedangkan  Embryo  dormancy  yaitu dormansi  yang disebabkan  karena  embrio  benih tidak dapat tumbuh atau berkembang karena adanya inhibitor dari kotiledon yang menghambat perkecambahan benih.

Dormansi mungkin dikendalikan oleh suatu keseimbangan antara hormon perangsang pertumbuhan dan hormon penginduksi dormansi  yang ada didalam organ  yang  sama.  Wareing  dalam Khan (1992) mengemukakan hipotesis keseimbangan promotor dan inhibitor dalam pengendalian perkecambahan benih yaitu :  (1) hormon gibrelin harus  ada dalam semua kondisi tetapi aktivitasnya dapat dihambat oleh inhibitor, (2) hormon sitokinin dapat menutup peran inhibitor dan (3) jika tidak ada inhibitor sitokinin tidak berperan.

Dormansi karena embrio benih disebut  juga dormansi  fisiologik,  dapat disebabkam karena adanya inhibitor pada embrio atau karena embrio yang belum masak. Selanjutnya Copeland dan McDonal dalam Fitria A. (2001), penyebab terjadinya  dormansi  adalah  embrio,  maka  dapat  disebut  sebagai  dormansi fisiologi. Sedangkan bila penyebabnya kulit benih disebut juga dormansi fisik.

Kulit benih dalam hal ini termasuk struktur yang mengelilingi biji seperti glumme, lemma, palea, perikarp (termasuk endocarp) dan testa. Salah satu senyawa  penyusun  utama  kulit  biji  yang  resisten  terhadap dekomposisi adalah selulosa dan lignin. 

Penyebab dormansi baik fisik atau dormansi karena kulit benih, maupun fisiologi atau karena embrio benih ini dapat dijumpai pada berbagai spesies, tetapi ada yang mempunyai dormansi ganda yaitu dormansi fisik dan fisiologi. Pada umumnya dormansi ganda banyak dijumpai pada  benih  tanaman  berkayu. (Murniati, 1995).  

Penelitian-penelitian tentang dormansi benih khususnya dari famili Solanaceae telah banyak dilakukan. Benih cabai (Capsicum annuum) mengalami dormansi yang disebabkan oleh after ripening (Radle dan Honman, 1981). Benih Solanum Clark mengalami dormansi yang akan berakhir sekitar 3-4 bulan setelah disimpan (Anonymous, 1985).  Usmanij (1990) melaporkan hasil  penelitiannya bahwa pada benih terung kopek mengalami innate dormancy. Hal ini dibuktikan dari rendahnya daya berkecambah dan kecepatan tumbuhnya, jika benih dikecambahkan  setelah ekstraksi tanpa melalui penyimpanan terlebih dahulu.

 

 

 

Perlakuan Pematahan Dormansi

 

Pada prinsipnya ada tiga metode pemecahan dormansi yaitu cara mekanis, fisiologis dan kimia.  Cara mekanis seperti skarifikasi fisik dengan asam ( Byrd, 1983) biasanya digunakan pada benih-benih yang impermeable terhadap air dan gas karena kekerasan kulit benihnya. Cara fisiologis biasanya menggunakan suhu tinggi atau rendah tinggi dan rendah berganti  dan penggunaan suhu yang terus menerus pada suhu tertentu. Cara kimia menggunakan bahan-bahan kimia seperti KNO3, NH2O2 dan hormon tumbuh.

Mayer dan Mayber (1982) menyatakan bahwa larutan KNO3 merangsang perkecambahan  benih  yang mengalami dormansi seperti  benih Lepidum viginicum, Eragrotis curvula, Polygon monspelliensis dan Agrotis sp. Larutan KNO3 tersebut berinteraksi dengan suhu dan menstimulir perkecambahan benih. Efek KNO3 yang ditimbulkan ditentukan oleh besar kecilnya konsentrasi. Dormansi  fisiologis dapat dipatahkan  dengan  penyimpanan  kering, prechilling, preheating, cahaya, kalium nitrat (KNO3), asam giberelat (GA3) dan polyethylene (ISTA, 1999).

Menurut Soejadi dan Koesandhriani dalam Wusono (2001) KNO3 akan efektif bila dikombinasikan dengan pemanasan pada suhu 50 jam,  cara ini dapat  mematahkan dormansi  secara efektif pada beberapa varietas padi.

Zat  kimia  yang  banyak  digunakan untuk merangsang  perkecambahan benih adalah Kalium nitrat  (KNO3). Larutan 0.1% sampai 1% KNO3 rutin digunakan pada uji perkecambahan dan direkomendasikan oleh Association of Official Seed Analyst dan International Seed Testing Association. Banyak benih yang peka terhadap KNO3 juga peka terhadap cahaya. Dilain pihak KNO3 meniadakan  hambatan  cahaya  pada  perkecambahan  benih  ricegras (Copeland, 1976). Menurut Soejadi dan Koesandhriani  dalam Wusono (2001) KNO3 efektif   pada  benih  yang  memiliki  intensitas  dormansi  rendah.  Pematahan dormansi baru  akan efektif  bila dikombinasikan dengan pemanasan pada suhu 500C selama 48 jam,  cara ini dapat  mematahkan dormansi secara efektif  pada beberapa varietas padi.

Bewley  dan  Black  dalam  Murniati  (1995)  menyatakan  pematahan dormansi  berhubungan dengan aktivitas lintasan pentosa fosfat. Oksigen sangat dibutuhkan dalam lintasan ini untuk reoksidasi NADPH menjadi energi. Lintasan ini  menjadi  tidak  aktif  karena  terbatasnya  oksigen  yang  dipergunakan  untuk aktivitas  respirasi.  Nitrat  (KNO3)  berfungsi  sebagai  aseptor  hidrogen  yang membantu  reaksi  oksidasi  NADPH  sehingga  mengaktifkan  kembali  lintasan pentosa fosfat yang mengakibatkan proses perkecambahan benih dapat terjadi.

Dormansi  pada  benih  Solanaceae  juga  dapat  diatasi  dengan  priming. Penggunaan osmotikum PEG 6000 dan KNO3 dapat mematahkan dormansi benih terung  (Solanum  melongena  L.)  yang  ditunjukan  oleh  peningkatan  daya berkecambah  dan  keserempakan  tumbuh  (Agustin,  Murniati,  Budiarti,  dalam Murniati, 1995).

Wanafiah  (2003),  mengemukakan  bahwa  dormansi  pada  cabe  rawit Varietas  Taruna  merupakan ekspresi dari dormansi fisiologis. Salah satu ciri menonjol dari cabe rawit Varietas Taruna adalah aroma yang kuat pada benih dan terutama pada  kecambah yang tumbuh. Zat aromatic ini diduga mempunyai peranan dalam menghambat proses perkecambahan cabe rawit Varietas Taruna.

Selain itu,  komposisi zat inhibitor capsicin yang muncul pada cabe rawit Varietas Taruna menyebabkan keseimbangan hormonal benih tidak seimbang dan dapat mengakibatkan tingkat mortalitas pada benih yang sedang dikecambahkan tinggi.  Selain benih dorman yang menjadi busuk atau mati zat inhibitor tersebut juga  megakibatkan  kecambah  normal  menjadi  abnormal  dengan  indikasi  awal sistem perakaran menjadi mengering  terbakar.

 Pada saat  dormansi,  ketersediaan  oksigen terbatas  yang mengakibatkan lintasan posfat menjadi inaktif. Dalam keadaan demikian akan memicu terjadinya fermentasi anaerob yang cepat sehingga menyebabkan benih yang telah imbibisi menjadi melunak dan busuk pada benih cabe rawit varietas Taruna.

Menurut  Wanafiah  (2003),  KNO3 dapat  mengaktifasi  lintasan  pentosa pospat,  dimana KNO3 terurai menjadi Nitrat (NO3) dan tereduksi menjadi Nitrit (NO2). Nitrat  dalam perkecambahan benih bertindak setelah tereduksi menjadi nitrit atau hidroksilamin.  Nitrat  dalam perkecambahan benih berfungsi  sebagai aseptor hidrogen yang membantu proses reaksi  oksidasi  NADPH.  Nitrat  dalam bentuk nitrit dan hidroksilamin tersebut merangsang perkecambahan dengan cara menghambat enzim katalase. Penghambatan tersebut menyebabkan oksigen tetap tersedia dalam bentuk H2O2 untuk aktifitas peroksidase yang terlibat dalam sistem enzim reaksi  oksidasi  NADPH.  Hasil  reaksi  ini  adalah  mengaktifkan  kembali lintasan pentosa fosfat, sehingga proses perkecambahan dapat terjadi dengan baik.

 

 

Media Perkecambahan Benih

 

Perkecambahan benih merupakan suatu proses awal  yang penting untuk kehidupan  tanaman  selanjutnya.  Faktor-faktor  yang  mempengaruhi perkecambahan benih yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan perkecambahan. Faktor  genetik  merupakan faktor-faktor  yang berasal  dari  dalam benih seperti kulit  benih  dan  endosperma  benih,  sedangkan  faktor  lingkungan  merupakan faktor-faktor yang barasal  dari  lingkungan sekitar  media perkecambahan benih yaitu  air,  suhu,  cahaya  dan  oksigen.  Faktor-faktor  ini  harus  tersedia  secara optimum pada saat  benih berkecambah maupun saat  pengujian viabilitas benih untuk keperluan analisis benih.

Pada dasarnya  ada tiga jenis  media  atau substrat  pengecambahan yang sering digunakan dalam pengujian benih yaitu kertas,  pasir  dan tanah (Sutopo, 1992). Jenis substrat kertas yang digunakan adalah kertas blotter, kertas kimpak, absordent  cotton,  kertas  towel,  kertas  filter  dan kertas  merang.  Substrat  kertas tersebut biasanya diletakan pada baki  perkecambahan atau cawan petri.  Kertas merang, menurut sadjad dalam Wanafiah (2003), dipilih sebagai substrat analisis viabilitas benih karena warnanya kuning kecoklatan seperti kertas towel memiliki daya absorpsi air yang tinggi dan harganya murah. Selain itu keunggulan kertas merang  dibandingkan  pasir  adalah  kertas  merang  sangat  praktis  untuk mendapatkan kondisi yang terkontrol dan jauh lebih sedikit ruang yang diperlukan untuk  menempatkan  materi  yang  diuji.  Hal  ini  menjadi  titik  tolak  dalam pengembangan  ilmu  dan  teknologi  benih  serta  pelaksanaan  riset-riset  tentang viabilitas benih selanjutnya. Kekurangan kertas merang untuk uji viabilitas benih adalah ketebalanya  yang tidak seragam sehingga kekuatan tensilnya kecil  dan daya  sobeknya  besar.  Substrat  kertas  merang  yang  saat  ini  banyak  dijumpai memiliki ketebalan yang seragam namun sangat tipis dan daya sobeknya besar.

Pengujian dengan  media pasir  dan  tanah  dilakukan apabila pengecambahan  contoh benih dengan substrat kertas tidak berkecambah atau menghasilkan perkecambahan yang tidak dapat dinilai. Sterilisasi perlu dilakukan sebelum kedua media tersebut digunakan sebagai  media perkecambahan, media pasir  yang dianjurkan sebagai  media perkecambahan adalah tidak mengandung bahan  yang tidak  beracun,  PH nya 6,0 – 7,5 dan berukuran 0,05 – 0,8 mm, sedangkan media tanah yang dianjurkan adalah tidak bergumpal dan untuk tanah liat harus dicampur dengan pasir (Sutopo, 1992).

 

BAHAN DAN METODE

 

Waktu dan Tempat

          Percobaan ini dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian, pada bulan Maret 2012.

 

 

Bahan dan Alat

 

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah benih terung lokal, KNO3 0.04%, GA3 100 ppm, pasir, arang sekam, zeolit dan aquades.

Alat yang digunakan meliputi timbangan, oven, box plastik, gelas kimia dan gelas ukur.

 

Metodologi

Percobaan dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan dua faktor. Faktor pertama adalah media perkecambahan yang terdiri dari tiga taraf yaitu pasir (M1), arang sekam (M2) dan zeolit (M3). Faktor kedua adalah metode pematahan dormansi yang terdiri dari tiga taraf yaitu kontrol (P1), perendaman menggunakan KNO3 0.04% selama 24 jam (P2) dan perendaman GA3 100 ppm selama 24 jam (P3). Masing-masing percobaan diulang tiga kali sehingga terdapat 27 satuan percobaan.

Model Rancangan percobaan yang digunakan adalah :

Yijk : µ + Mi + Pj + (MP)ij + ρk + Eijk

Yijk      =   Viabilitas benih terung pada faktor M taraf ke-i faktor P taraf ke-j dan ulangan   ke-k

µ          =  rataan umum

Mi           =   media perkecambahan ke-i

Pj            =  pematahan dormansi ke-j

(MP)ij    =  pengaruh interaksi antara faktor M taraf ke-i dan faktor Ptaraf ke-j

          ρk            =   pengaruh kelompok ke-k, 

          Eijk        =  pengaruh galat

          Uji statistik yang digunakan adalah analisis sidik ragam. Selanjutnya dilakukan uji lanjut Duncan terhadap perlakuan yang berpengaruh.

 

Metode Pelaksanaan

Ekstraksi Benih

Benih diekstraksi secara manual dengan cara memijit atau melakukan rolling pada buah sehingga daging buah menjadi lunak. Selanjutnya buah dibelah dan dibenamkan dalam air sehingga benih-benih yang masih melekat pada daging buah dapat keluar dan tenggelam ke dalam air. Selanjutnya benih dicuci dan dibilas dengan air untuk menghilangkan lendir pada permukaan benih. Benih dikeringkan di bawah matahari hingga kering (sekitar tiga jam) hingga KA mencapai 10%. Hasil kadar air awal yang diperoleh mencapai ±7.38%.

 

Pematahan Dormansi

Untuk perlakuan teknik pematahan dormansi, sebanyak 100 butir benih untuk satu ulangan direndam selama 24 jam dalam dua larutan yang berbeda (KNO3 0.04% dan GA3 100 ppm). Selanjutnya benih dikeringanginkan pada suhu kamar.

Pengecambahan Benih Terung

Benih terung ditanam pada media pasir, arang sekam dan zeolit. Setiap box ditanami 50 butir benih terung.

 

 

Pengamatan

 

      Tolok ukur vigor yang digunakan yaitu kecepatan tumbuh (KcT), sedangkan parameter viabilitas potensial digunakan tolok ukur daya berkecambah (DB) dan potensial tumbuh maksimum (PTM). Setiap tolok ukur diulang 3 kali dan tiap ulangan terdiri dari 50 butir benih.

1 . Daya Berkecambah (DB)

Pengamatan dilakukan dua kali yaitu hari ke-7 dan hari ke-14. Daya berkecambah dihitung berdasarkan persentase kecambah normal pada dua pengamatan tersebut.

DB (%) = ((∑KN I + ∑KN II)/∑Benih yang dikecambahkan) x 100%

Keterangan :

∑ KN I = jumlah kecambah normal hitungan pertama

∑ KN II= jumlah kecambah normal hitungan kedua

 

2. Kecepatan Tumbuh (KCT)

Kecepatan tumbuh merupakan total pertumbuhan kecambah normal setiap hari atas dasar jumlah benih yang ditanam selama waktu yang ditentukan, diamati setiap hari sampai 14 hari setelah dikecambahkan.

KCT = ∑ d (t=0).

Keterangan:
KcT = Kecepatan tumbuh (%/etmal)
t = kurun waktu perkecambahan (etmal)
d = persentase tambahan kecambah normal setiap etmal (1etmal = 24 jam)

3. Indeks Vigor (I.V)

     Kecepatan benih dalam berkecambah menjadi metode yang umum digunakan untuk mengekspresikan vigor benih. Kecepatan kecambah dapat dinyatakan dengan indeks vigor yang mengekspresikan jumlah benih yang berkecambah pada in terval satu hari setelah dikecambahkan. Indeks Vigor yang dimaksud adalah sebagai berikut : 

I.V = G1/D1 + G2/D2 + G3/D3 +G4/D4 +……..Gn/Dn

Keterangan :
I.V : Vigor indeks
G : Jumlah kecambah pada hari tertentu
D : Waktu yang berkoresponden dengan jumlah itu

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

 

Perlakuan Teknik Pematahan Dormansi

 

Teknik pematahan dormansi yang dilakukan memberikan pengaruh terhadap daya berkecambah, indeks vigor dan kecepatan tumbuh (Tabel 1). Perlakuan dengan pemberian GA3 memberikan pengaruh nyata dan hasil yang lebih baik terhadap daya berkecambah, indeks vigor dan kecepatan tumbuh dibandingkan dengan perlakuan lainnya termasuk kontrol. 

Tabel 1. Pengaruh Perlakuan Teknik Pematahan Dormansi terhadap Tolok Ukur Daya Berkecambah, Indeks Vigor, dan Kecepatan Tumbuh.

Teknik Pematahan Dormansi

Tolok Ukur

DB

IV

KCT

 

…………………………. % …………………………….

Kontrol

32.00c    

16.33c   

4.22c   

Aquades

55.00d

31.67b  

6.78bc    

KNO3

67.33b    

35.33b

9.08b    

GA3

92.33a    

89.00a   

18.42a    

Keterangan : Angka-angka yang masih diikuti oleh huruf yang sama berarti tidak berbeda nyata pada uji DMRT α = 0,01.

Tabel 1 menunjukkan bahwa teknik pematahan dormansi menggunakan GA3 memberikan hasil terbaik pada tolok ukur daya kecambah yakni 92.33% dan berbeda nyata dengan teknik pematahan dormansi lainnya. Pada tolok ukur indek vigor (IV) dan kecepatan tumbuh (KCT), teknik pematahan dormansi dengan GA3 memberikan hasil terbaik yakni 89.00% dan 18.42%/etmal yang juga berbeda nyata dengan teknik pematahan dormansi lainnya termasuk kontrol.

Peran giberelin dalam pematahan dormansi  benih cukup efektif yang ditunjukkan dengan tingginya persentase tolok ukur daya berkecambah. Hal ini diperkirakan bahwa giberelin yang terdapat di dalam benih (endogen) belum dapat berperan dalam proses perkecambahan sehingga diperlukan tambahan asam giberelat (GA3) untuk dapat meningkatkan perkecambahannya. Ini sesuai dengan pendapat Joshi et al., (2010) bahwa perlakuan dengan GA konsentrasi tinggi efektif dalam mengatasi dormansi dan dapat menyebabkan perkecambahan benih lebih cepat.

 

Media Perkecambahan

Perlakuan media perkecambahan benih terung memberikan pengaruh pada peubah daya berkecambah, indeks vigor dan kecepatan tumbuh (Tabel 2). Media perkecambahan berupa pasir secara nyata memberikan hasil terbaik dan berbeda nyata dengan media perkecambahan kertas stensil dan sekam.

Tabel 2. Pengaruh Perlakuan Media Perkecambahan terhadap Tolok Ukur Daya Berkecambah, Indeks Vigor, dan Kecepatan Tumbuh.

Media Perkecambahan

Tolok Ukur

DB

IV

KCT

 

…………………………. % …………………………….

Kertas stensil

30.50c

27.75b   

5.83c

Pasir

91.25a

69.75a  

13.71a   

Sekam

63.25b

31.75b   

9.34b   

Keterangan : Angka-angka yang masih diikuti oleh huruf yang sama berarti tidak berbeda nyata pada uji DMRT α = 0,01.

      Media perkecambahan pasir memberikan hasil terbaik pada peubah daya berkecambah (DB) yaitu 91.25% dan berbeda nyata dengan media perkecambahan lainnya. Pada peubah indeks vigor (IV), media pasir juga memberikan hasil terbaik yaitu 69.75% dan berbeda nyata dengan perlakuan media perkecambahan lainnya. Demikian juga pada peubah kecepatan tumbuh (KCT), dimana media pasir memberikan hasil tertinggi yaitu 13.71%/etmal dan berbeda nyata dengan media perkecambahan lainnya.

       Media sekam dan kertas yang memiliki permukaan substrat yang keras dan sulit ditembus oleh radikula/plumula benih sehingga perkecambahan pada media sekam dan kertas ini menjadi sedikit terhambat. Tekstur pasir yang halus dan berpori dapat mempermudah bagian plumula ataupun radikula benih untuk muncul lebih cepat. Bobot pasir yang cukup berat akan mempermudah tegaknya batang. Mudahnya dalam penggunaan dan dapat meningkatkan sistem aerasi/drainase media tanam menjadi keunggulan media pasir dalam perkecambahan. Dengan adanya pori-pori yang berukuran besar (pori makro) menjadikan pasir mudah basah dan cepat kering oleh proses penguapan sehingga dibutuhkan pengairan yang lebih intensif (Semadim,2011). Hal ini sesuai dengan pendapat Hu et al (2006) menyatakan bahwa priming dengan media pasir secara nyata dapat meningkatkan daya tumbuh pada dua varietas alfalfa pada perlakuan cekaman 0.8%  NaCl.

 

 

Interaksi Teknik Pematahan Dormansi dan Media Perkecambahan

 

     Perlakuan teknik pematahan dormansi dan media perkecambahan memiliki interaksi yang memberikan  pengaruh yang nyata terhadap peubah daya berkecambah, indeks vigor dan kecepatan tumbuh ditampilkan pada Tabel 3. Teknik pematahan dormansi dengan aquades memberikan hasil terbaik dengan media perkecambahan pasir pada tolok ukur daya berkecambah (DB), indeks vigor (IV) dan kecepatan tumbuh (KCT). Adapun sidik ragam pengaruh perlakuan teknik pematahan dormansi dan media  perkecambahan terhadap tolok ukur daya berkecambah ditampilkan pada Tabel 4, Tabel 5 dan Tabel 6.

Tabel 3. Pengaruh Interaksi Pematahan Dormansi dan Media Perkecambahan terhadap Tolok Ukur Daya Berkecambah, Indeks Vigor dan Kecepatan Tumbuh.

Media Perkecambahan

Pematahan Dormansi

Kontrol

Aquades

KNO3

GA3

 

……………………………… DB (%) ……………………….

Krts Stensil

0.00e

1.00e

27.00d

94.00ab

Pasir

83.00b

99.00a

88.00ab

95.00ab

Sekam

13.00e

65.00c

87.00ab

88.00ab

 

……………………………… IV (%) ……………………….

Krts Stensil

0.00d

0.00d

18.00cd

93.00a

Pasir

49.00b

95.00a

42.00bc

93.00a

Sekam

0.00d

0.00d

46.00b

81.00a

 

………………………. KCT (%/etmal………………………

Krts Stensil

0.00      

0.43       

6.45       

16.44      

Pasir

11.12       

14.08       

10.28       

19.34      

Sekam

1.53       

5.84       

10.51       

19.47       

                 Keterangan : Angka-angka yang masih diikuti oleh huruf yang sama berarti tidak berbeda nyata pada uji DMRT α = 0,01.

        Pada tolok ukur daya berkecambah (DB), teknik pematahan dormansi dengan aquades dan media perkecambahan pasir memberikan hasil terbaik yaitu 99.00% dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan GA3 pada semua media perkecambahan danperlakuan KNO3 pada media perkecambahan pasir dan sekam. Tetapi, berbeda nyata pada perlakuan kontrol dengan semua media perkecambahan.

     Untuk tolok ukur IV dan KCT, teknik pematahan dormansi dengan aquades dan media perkecambahan pasir memberikan hasil terbaik berturut-turut yaitu 95.00% dan 14.08%/etmal. hasil ini tidak berbeda nyata dengan perlakuan GA3 pada semua media perkecambahan tetapi, berbeda nyata perlakuan KNO3 dan kontrol pada media perkecambahan kertas stensil, pasir maupun sekam padi yang digunakan dalam percobaan tersebut.

        Pengaruh yang tidak berbeda nyata yang ditunjukkan oleh teknik pematahan dormansi dengan aquades dan GA3 memberikan peningkatan laju perkecambahan yang tinggi pada semua tolok ukur yang digunakan. Dengan kemampuan media perkecambahan pasir yang dapat menyimpan air, dapat membantu meningkatkan perkecambahan. Kehadiran air di dalam sel mengaktifkan sejumlah enzim perkecambahan awal. Fitohormon asam absisat menurun kadarnya, sementara giberelin meningkat. Perubahan pengendalian ini merangsang pembelahan sel di bagian yang aktif melakukan mitosis, seperti di bagian ujung radikula. Akibatnya ukuran radikula makin besar dan kulit atau cangkang biji terdesak dari dalam, yang pada akhirnya pecah. Pada tahap ini diperlukan prasyarat bahwa cangkang biji cukup lunak bagi embrio untuk dipecah (Anonim, 2012).

      Dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya embrio memerlukan energi dan bahan baku, diantaranya untuk sintesa lemak; protein; dan senyawa penyusun lainnya. Kegiatan enzim-enzim di dalam biji distimulir oleh adanya asam giberelin (GA3) yaitu suatu hormon tumbuh yang dihasilkan oleh embrio setelah menyerap air (Sutopo, 1998).

 

KESIMPULAN DAN SARAN

 

 

Kesimpulan

 

       Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh adalah sebagai berikut:

1.Teknik pematahan dormansi pada benih terung yang memberikan hasil terbaik yakni GA3 100 ppm.

2.  Media perkecambahan benih terung yang memberikan hasil terbaik adalah pasir.

3. Beberapa alternatif teknik pematahan dormansi yang dapat digunakan pada benih terung adalah aquades, GA3 danKNO3.

 

 

Saran

 

      Adapun saran yang dapat diberikan yakni perlu diuji tingkat keefektifan beberapa konsentrasi GA3 yang beragam baik pada benih terung maupun pada benih yang lainnya. 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim, 2012, perkecambahan, http://id.wikipedia.org/wiki/Perkecambahan. Diakses pada tanggal 9 Mei 2012.

 

Anonymous,1985.Tiga Puluh Tahun Penelitian Tanaman Obat. Makalah Seminar. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Dept. Pertanian. Jakarta. 16 hal.

 

Byrd,  H.M.  1983.  Pedoman  Teknologi  Benih  (Terjemahan).  PT.  Pembimbing Masa Jakarta. Jakarta. 79 hal

 

Copeland, L. O.1976. Principles of Seed Science and Technology. Burges Pub. Company. Minnesota. 369p.

 

Ellis,  R.H.,  T.D.  Hong, and E.H.Robert.1985.Handbook of seed technology for genebank. Principles and Methodology 1:54-67.IBPGR.Roma

 

Fitria, A. A. 2001. Pengaruh Perbedaan Tingkat Kemasakan, Periode After-ripening, Pematahan Dormansi dan Media Perkecambahan terhadap Dormansi Benih Terung Kopek Solanum Melongena L. Varietas Dadali. Sekripsi Fakultas Pertanian IPB. Bogor.

 

Hu, J., X. J. Xic, W. J. Song,. 2006. Sand priming improves alfalfa germination under high-salt concentration stress. Seed sci. and technol. 34:199-204.

 

ISTA,  1999.  Rules,  International  Rules  for  Seed  Testing.  Seed  Science  andTechnology.  International  Seed  Testing  Association.  Zurich,Switzerland.27:163-164

 

Joshi. S,. Chandra,. Debarati. Preeti. S,.S,. Parihar and HCS Negi. 2010. Effect of GA  on seed germination of Pyracantha crenulata (D. Don.). New York Science Journal. 2010; 3(9).

 

Khan. A.A.  1992. Preplant  physiological  seed conditioning.p.131-175.In  Wiley and Sons Inc (ed).Hort.Rev.New York

 

Mayer,  A.M. and A.P.Mayber.1982.The Germination of Seeds.Pergamon Press. New York.192 p

 

Murniati, E. 1995. Studi Beberapa Faktor Penyebab Dormansi dan Peranan Mikro Organisme  dalam  Mempengaruhi  Proses  Pematahan  Dormansi  Benih Kemiri  (Aleurites  moluccana  WILLD.).Tesis.Program  Pasca  Sarjana IPB.Bogor.

 

Randle, W.M and S. Honman. 1981. Dormancy in pepper. Scientiae Horticulturae 14:19-25

 

Rukmana, R. 1994. Bertanam Terung. Penerbit Kanisius.Yogyakarta.56 hal.

 

Semadim. 2011. Pengaruh Berbagai Media terhadap Perkecambahan Matoa.  http://semadim.wordpress.com/2011/11/03/pengaruh-berbagai-media-terhadap-perkecambahan-matoa/. Diakses pada tanggal 9 Mei 2012.

 

Soetasad, A. A. dan S. Muryanti. 1999. .Budidaya Terung Lokal dan Terung Jepang. Penebar Swadaya. Jakarta. 90 p.

 

Sutopo, L. 1992. Teknologi Benih. CV.Rajawali Pers.Jakarta.248 hal

 

Sutopo, L. 1998. Teknologi Benih. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

 

Usmanij, C.E. 1990. Studi Dormansi Benih Terung Kopek (Solanum melongena L) dan berbagai cara pematahannya.  Skripsi Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. IPB.Bogor.63 hal

 

Villiers,  T.A.  1972. Seed Dormancy.p  220-282.  In T.T.  Kozlowski  (ed).  Seed Biology. Vol II. Academic Press. New York

 

Wanafiah, K. 2003. 2003 Testing Review.Quality Control Production. PT East West Seed Indonesia. Jember

 

Wusono, 2001. Pengaruh Media Perkecambahan Benih dan Efektivitas Metode Pematahan Dormansi pada Berbagai Umur Penyimpanan Benih Terung (Solanum melongena L.) Varietas TE-20. Skripsi Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian IPB. Bogor.

 

 

 

LAMPIRAN

 

 

Tabel 4. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan Teknik Pematahan Dormansi dan Media  Perkecambahan terhadap Tolok Ukur Daya Berkecambah

Sumber Keragaman

Derajat Bebas

Jumlah Kuadrat

Kuadrat Tengah

F-hitung

p-value

Pematahan Dormansi

3

22765.333     

7588.444    

78.68   

<.0001

Media Perkecambahan

2

29584.667   

14792.333    

153.38   

<.0001

Interaksi

6

16044.667     

2674.111     

27.73    

<.0001

Galat

36

3472.000       

96.444

   

Total

47

71866.667

     

R2        = 0.95 

KK      = 15.93 % 

 

Tabel 5. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan Teknik Pematahan Dormansi dan Media Perkecambahan terhadap Tolok Ukur Indeks Vigor

Sumber Keragaman

Derajat Bebas

Jumlah Kuadrat

Kuadrat Tengah

F-hitung

p-value

Pematahan Dormansi

3

36171.667   

12057.222     

42.08   

<.0001

Media Perkecambahan

2

17194.667     

8597.333     

30.00   

<.0001

Interaksi

6

15493.333     

2582.222      

9.01   

<.0001

Galat

36

10316.000      

286.556

   

Total

47

79175.667

     

R2        = 0.87

KK      = 39.29 %   

 

Tabel 6. Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan Teknik Pematahan Dormansi dan Media Perkecambahan terhadap Tolok Ukur Kecepatan Tumbuh

Sumber Keragaman

Derajat Bebas

Jumlah Kuadrat

Kuadrat Tengah

F-hitung

p-value

Pematahan Dormansi

3

1379.219     

459.739     

26.80   

<.0001

Media Perkecambahan

2

498.569     

249.285     

14.53   

<.0001

Interaksi

6

235.806      

39.301      

2.29   

0.0564

Galat

36

617.544      

17.154

   

Total

47

       

R2        = 0.77

KK      = 43.03%

 

 

 Gambar 1. Pertumbuhan benih terung pada media pasir pada 14 HSS

 

 Gambar 2. Pertumbuhan benih terung pada media sekam pada 14 HSS


 

Gambar 3. Perbedaan kecambah terung pada 14 HSS

 

DEFISIENSI UNSUR HARA

BAB III

DIAGNOSIS DEFISIENSI UNSUR HARA

Tujuan uji tanah telah dijelaskan oleh Tisdale dan Nelson (1966) dan oleh Melsted (1967), yaitu :

  1. Untuk mengevaluasi status kesuburan sebidang lahan tertentu,
  2. Meramalkan peluang untuk mendapatkan respon yang menguntungkan terhadap penggunaan kapur dan pupuk,
  3. Menyediakan landasan untuk rekomendasi pengapuran dan pemupukan, dan
  4. Mengevaluasi status kesuburan tanah suatu wilayah.

Dengan kata lain, uji tanah dapat digunakan untuk diagnosis, untuk pendugaan dosis pupuk, atau untuk pemupukan tanaman (Pizer,1965). Diagnosis defisiensi unsur hara dalam tanaman dapat dilakukan atas dasar analisis daun atau analisis tanah. Pemisahan dua macam pendekatan ini semata-mata hanya bersifat “keyakinan” saja, karena keduanya tidak “mutually exclusive”.

Secara umum ada empat fase dalam uji tanah, yaitu :

  1. Sampling tanah,
  2. Analisis tanah,
  3. Penyusunan rekomendasi, dan
  4. Interpertasi rekomendasi bagi petani.

Petani merupakan pengguna akhir dari informasi uji tanah, meskipun informasi tersebut harus diolah terlebih dahulu sebelum sampai kepadanya.

 

3.1       Sampling Tanah

 

3.1.1.   Banyaknya Sampel

            Dalam memutuskan berapa jumlah sampel yang harus diambil, harus dilakukan pemufakatan antara jumlah yang banyak yang diperlukan oleh kaidah statistic dengan jumlah yang lebih sedikit yang dikendalai oleh biaya. Reduksi biaya sampling dapat dikurangi kalau petani sendiri mampu mengambil sampel tanah.

            Beckett (1967), McIntyre (1967), Vimpany (1967) During dan Mountier (1967), Mountier dan During (1967), Smith dan Storrier (1966) serta Skene (1960); telah melaporkan adanya variasi spasial dalam tanah. Variasi ini dapat cukup besar, Harper (1965) hanya menemukan 45% analisis P dari contoh tanah duplo termasuk ke dalam kategori yang sama, dan 48% berbeda satu kategori.

 

3.1.2.   Waktu Sampling

            Kandungan hara tersedia dalam tanah beragam sepanjang tahun (Rixon dan Melville, 1969; Ahmad, 1967; Child dan Jeneks, 1967; Semb, 1966; Mountier dan During, 1966; Smith dan Storrier, 1966). Karena adanya variasi musiman inilah maka semua tanah harus diambil contohnya pada waktu yang sama dalam setahun. Akan tetapi untuk efisiensi kerja laboratorium rutin maka diharuskan ada contoh tanah secara kontinyu. Kedua hal ini menjadi persyaratan yang tidak saling menenggang.

 

3.1.3.   Kedalam Sampling

            Kalau unsur hara dalam tanah bersifat tidak mobile, seperti fosfat, maka secara teoritis tidak sulit untuk mendapatkan kedalaman sampling yang memuaskan. Akan tetapi kalau hara dalam tanah bersifat mobile maka diperlukan kompromi antara apa yang seharusnya dan apa yang mungkin dilakukan.

 

3.1.4.   Penyiapan dan Penyimpanan Sampel Tanah

            Pengeringan contoh tanah sebelum preparasi dan penyimpanannya akan mengubah ketersediaan fosfat (Ghosh dan Wiklander, 1966; Wiklander dan Koutler Anderson, 1966) dan nitrogen (Storrier, 1966). Pengaruh pengeringan terhadap ketersediaan kalium juga cukup besar sehingga seringkali analisis kalium tanah dilakukan dengan menggunakan lumpur yang disiapkan di lapangan.

 

3.1.5.   Frekuensi Sampling Tanah

            Mountier dan During (1967) menyimpulkan bahwa jalan pintas untuk mereduksi ragam ialah mengulang setiap sampling, tetapi hal inisulit untuk dipraktekkan. Sampling tahan setiap tahun mungkin telah dapat dianggap ideal kalau variasi di antara ulangan dalam suatu tahun jauh lebih rendah dibandingkan dengan variasi di antara tahun. Hal yang sering terjadi ialah bahwa variasi anatar ulangan lebih besar daripada variasi antar tahun, sehingga dalam kondisi seperti ini akan diperoleh nilai hara yang tersedia yang lebih rendah setelah aplikasi pupuk.

 

3.2.      Analisis Contoh Tanah

            Metode analisis apapun yang digunakan, tampaknya kesalahan analitik masih jauh lebih kecil daripada kesalahan sampling. Di New Zealand, variasi anatar laboratorium jauh lebih besar daripada variasi di dalam suatu laboratorium (Mountier et al., 1966). Analisis tanah paling sering dilakukan adalah Ph, P-tersedia, Nitrogen, dan bahan organic.

 

3.3.      Model Evaluasi Kesuburan Tanah dan Rekomendasi Pemupukan

            Penentuan dosis unsure hara yang tepat dipengaruhi oleh pengetahuan mengenai kebutuhan unsure hara tanaman dan kemampuan tanah untuk mensuplai unsure hara. Kalau tanah tidak mampu menyediakan sejumlah unsure hara yang cukup untuk pertumbuhan tanaman yang normal, maka diperlukan tambahan unsure hara dalam bentuk pupuk atau bentuk lainnya. Keadaan seperti ini mendorong upaya penemuan metode-metode yang dapat digunakan untuk menentukan defisiensi unsure hara.

 

3.3.1.   Pendekatan yang Digunakan

            Analisis tanah secara kimiawi ini sangat tergantung kepada pereaksi-pereaksi kimia untuk menentukan jumlah unsure hara yang tersedia. Selain itu juga ada metode biologis yang melibatkan tanaman sebagai agen pengekstraks unsure hara, cara ini sering digunakan untuk menduga jumlah unsure hara yang tersedia dalam tanah. Secara umum ternyata uji tanah secara biologis ini ada dua tipe, yaitu; (i) menggunakan tanaman tinggi, dan (ii) menggunakan tanaman rendah, seperti bakteri dan fungi. Empat macam teknik yang lazim digunakan untuk menduga status kesuburan suatu tanah adalah:

  1. Gejala defisiensi unsure hara tanaman
  2. Analisis jaringan tanaman yang sedang tumbuh
  3. Uji biologis dimana pertumbuhan tanaman tinggi atau mikroorganisme tertentu digunakan sebagai ukuran status kesuburan tanah
  4. Uji tanah secara kimiawi

 

3.3.2. Gejala Defisiensi Unsur Hara

            Suatu wujud yang tidak normal dari tanaman yang sedang tumbuh mungkin dapat disebabkan oleh defisiensi satu atau lebih unsure hara tanaman. Kalau tanaman kekurangan unsure hara tertentu, maka gejala defisiensi yang spesifik akan muncul. Metode visual ini sangat unik karena tidak memerlukan perlengkapan yang mahal dan banyak serta dapat digunakan sebagai penunjang bagi teknik-teknik diagnostic lainnya.

 

3.3.2.1. Terjadi Gejala

            Gejala defisiensi unsure hara pada umumnya dapat dikelompokkan menjadi

  1. Kegagalan tanaman secara lengkap pada fase kecambah
  2. Pertumbuhan tanaman sangat kerdil
  3. Munculnya gejala spesifik pada daun selama periode waktu yang berbeda-beda dalam musim pertumbuhan
  4. Abnormalitas internal, seperti tersumbatnya jaringan pembuluh
  5. Penangguhan kemasakan atau kemasakan tidak normal
  6. Perbedaan hasil, dengan atau tanpa gejala pada daun
  7. Kualitas tanaman yang buruk, termasuk penyimpangan komposisi kimia, seperti kadar protein, minyak, pati daya awet atau daya simpan
  8. Perbedaan hasil yang hanya dapat dideteksi melalui percobaan yang serius.

 

3.3.2.2 Perhatian Khusus

            ‘Kelaparan tersembunyi’ (“hidden hunger”) menyatakan situasi dimana tanaman memerlukan lebih banyak unsure hara tertentu. Meskipun belum menunjukkan gejala defisiensi tertentu. Kadar unsure hara masih di atas zone defisiensi tetapi berada di bawah batas yangf diperlukan untuk menghasilkan pertumbuhan dan produksi tanaman yang paling menguntungkan.

            Permasalahan yang kemudian dihadapi adalah bagaimana cara terbaik untuk mengeliminir kelaparan tersembunyi. Uji tanaman akan membantu kea rah perencanaan program pemupukan tahun berikutnya, dan uji tanah akan membantu mengeliminir problem tanaman yang sedang tumbuh. Dalam kedua macam pendekatan ini harus senantiasa diperhatikan praktek pengelolaan sebelumnya.

 

3.4.      Efek-efek Musiman

            Kekurangan unsure hara dalam tanah dapat diperparah oleh kondisi cuaca yang tidak normal. Unsure hara dapat tersedia dalam jumlah yang cukup pada kondisi ideal, tetapi dalam kondisi kekeringan, kelebihan air, atau suhu yang ekstrim tanaman mungkin tidak mampu menyerap dalam jumlah yang cukup. Misalnya pada suhu dingin akan lebih sedikit N, P, dan K yang dapat terserap oleh tanaman tomat.

            Di daerah yang tidak menunjukkan gejala defisiensi maka kita harus menggunakan lebih banyak diagnostic kimiawi untuk mengevaluasi kebutuhan unsure hara tanaman secara lebih tepat (Tidale dan Nelson, 1975).

 

3.5. Analisis Jaringan Tanaman

            Analisis tanaman mempunyai keuntungan pokok yaitu bahwa ia mengintegrasikan pengaruh tanah, tanaman, iklim dan peubah-peubah pengelolaan. Dengan cara ini maka hasil analisis tanaman dipandang sebagai ukuran akhir dari ketersediaan unsure hara. Akan tetapi kelemahan yang pokok dari cara ini adalah berkaitan dengan “waktu”, seringkali sudah terlambat untuk menyembuhkan kekurangan hara tanpa mengalami kehilangan hasil.

            Lazimnya analisis tanaman digunakan untuk tiga maksud penting, yaitu; (i) identifikasi problematic unsure hara tanaman dan mengkuantifikasikan koreksinya melalui penetepan tingkat kritis unsure hara, (ii) menghitung nilai serapan hara untuk menunjang program pemupukan, dan (iii) memonitor status hara tanaman permanen, atau yang secara praktis disebut “crop logging”.

 

3.5.1.   Analisis Jaringan Tanaman

            Uji cepat untuk menentukan unsure hara dalam cairan sel dari jaringan tanaman segar ternyata mempunyai posisi penting dalam diagnosis kebutuhan tanaman. Dalam uji ini hasilnya di sajikan dalam bentuk “sangat rendah”, “rendah”, “medium”, atau “tinggi”. Tujuannya adalah untuk menduga taraf umum unsure hara tanaman.

            Konsentrasi hara dalam cairan sel biasanya merupakan indikasi yang baik tentang suplai hara pada saat pengujian.

 

3.5.1.1. Bagian Tanaman yang Diuji

            Hal penting yang harus diperhatikan adalah bagian tanaman yang akan memberikan indikasi terbaik bagi status hara tanaman. Kalau suplai nitrogen menurun, bagian pucuk tanaman tempat digunakannya nitrogen dalam proses metabolism akan menunjukkan nilai uji nitrat yang rendah. Dalam hal P dan K akan terjadi hal yang sebaliknya, dimana bagian tanaman sebelah bawah akan defisien lebih dahulu.

 

 

 

3.5.1.2. Waktu Analisis

            Fase kemasakan merupakan hal yang sangat penting dalam analisis jaringan tanaman. Rata-rata tanaman budidaya tumbuh selama periode 100 – 150 hari, dan status haranya akan berubah selama periode tersebut.

            Tanaman muda yang cukup hara mungkin saja akan kekurangan pada akhir pertumbuhannya. Akan tetapi kalau diperkirakan akan terjadi defisiensi dan tanaman diuji lebih awal maka aka nada peluang untuk mengkoreksinya.

            Pada umumnya fase pertumbuhan yang kritis untuk analisis jaringan ialah pada saat pembungaan hingga awal fase pembuahan. Selama periode ini penggunaan unsure hara mencapai tingkat maksimumnya. Misalnya pada tanaman jagung seringkali diambil daun di dekat tongkol pada saat muncul bunga jantan.

 

3.5.1.3. Keguaan

            Uji jaringan tanaman dan analisis tanaman dilakukan karena alasan-alasan berikut ini :

  1. Untuk membantu menentukan kemampuan tanah dalam mensuplai unsure hara.
  2. Untuk membantu mengidentifikasikan gejala defisiensi dan menentukan saat-saat kekurangan unsure hara sebelum muncul gejala defisiensi.
  3. Untuk membantu menentukan efek perlakuan kesuburan terhadap suplai unsure hara dalam tanaman. Hal ini akan sangat berguna untuk mengukur efek tambahan pupuk meskipun tidak ada informasi tentang respon hasil.
  4. Untuk mengkaji hubungan antara status unsure hara tanaman dan penampilan tanaman.
  5. Untuk mensurvei daerah yang luas.

 

3.5.2.   Interpretasi

            Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam kaitannya dengan interpretasi diagnosis status hara tanaman adalah:

  1. Penampilan dan kesuburan tanaman secara umum
  2. Kadar hara-hara lain dalam tanaman
  3. Gangguan hama dan penyakit
  4. Kondisi tanah, aerasi dan kelembaban yang buruk
  5. Kondisi iklim, dan
  6. Waktu dalam seharian.

 

3.5.2.1. Tingkat Kritis Unsur Hara

            Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, istilah “tingkat kritis” biasanya berhubungan dengan ambang batas defisiensi dan kecukupan. Tingkat kritis pada analisis tanaman ini mengikuti hokum minimum, dan pada hakekatnya menggunakan pendekatan yang sama dengan konsepsi yang dikembangkan oleh Cate dan Nelson.

 

3.5.2.2. Serapan Hara Sebagai Sarana Penduga

            Kekurang-akuratan uji tanah untuk menangani problemtik nitrogen telah mendorong berkembangnya pendekatan lain dalam mengestimasi dosis pupuk nitrogen. Bartholomew (1972) mengungkapkan adanya hubungan yang konstan anatara hasil biji serealia dengan total serapan nitrogennya (termasuk serapan akar)

 

3.5.3. Analisis Total

Analisis total dilakukan pada keseluruhan tanaman atau pada bagian-bagian tanaman. Teknik-teknik analisis yang tepat digunakan pengukuran berbagai unsur setelah material tanaman dikeringkan, dihaluskan dan diabukan. Spektrograf dapat menentukan beberapa unsur secara simultan dan “ atom absorbption” menjadi semakin penting. Dengan teknik analisis total ini dapat diukur berbagai macam unsur hara seperti N,P,K,Ca,Mg,S Mn,Fe,Zn,B,Mo,Co,Si dan Al.

3.5.3.1. Hasil tanaman vs Kadar Hara dalam Tanaman

Hingga taraf tertentu, penigkatan dosis hara tanaman (seperti misalnya nitrogen), akan meningkatkan kadar unsur dalam tanaman dan hasil tanaman.

 

3.5.3.2. Keseimbangan Unsur Hara

Salah satu masalah penting yang dihadapi dalam menginterpretasikan analisis tanaman adalah keseimbangan diantara unsur hara. Pada kondisi lingkungan yang seragam tanaman akan cenderung untuk menyerap jumlah yang konstan kation-kation har, termasuk ammonium, atas dasar kesetaraan.

3.5.3.3. Waktu Sampling

Kadar beberapa macam unsur hara dalam tubuh tanaman dapat menurun dengan cepat dari periode awal musim hingga akhir musim perumbuhan tanaman. Dengan demikian fase pertumbuhan untuk sampling harus dipilih dan diidentifikasikan dengan hati-hati.

3.5.3.4. Survei

Pengumpulan sampel-sampel tanaman dari banyak lapangan, dengan analisis selanjutnya dengan spektograf, akan memberikan indikasi umum tentang kadar unsur hara. Memang untuk memungkinkan interpretasi atas kadar –kadar hara nin harus dibandigkan dengan tingkat kritis yang diperoleh dari peta-petak (daerah) yang terkontrol. Metode ini sangat berguna untuk mendapatkan informasi pendahuluan entang unsur hara seperti Zn, B, Co, dan Cu.

 

3.5.3.5. Penggunaan rutin (Crop Logging)

Analisis tanaman secara kuantitatif telah banyak digunakan dalam penelitian untuk mendapatkan ukuran-ukuran lain dari efek perlakuan. Akan tetapi tanaman komersial seperti tebu, cengkeh, kopi, dan lainnya di analisis secara periodik. Dalam hal seperti ini analisis tanaman harus dibarengi dengan analisis tanah dan informasi tentang praktek budidaya tanaman.

3.5.4. Uji Biologis

3.5.4.1. Uji Lapangan

Metode petak-lapangan merupakan salah satu uji biologis yang paling banyak dikenal. Serangkaian perlakuan yang dicobakantergantung pada permasalahan penelitian yang akan dikaji jawabannya.

Percobaan-percobaan lapangan seperti ini berguna untuk memformulasikan rekomendasi umum. Percobaan lapangan sangat mahal dan memerlukan banyak waktu dan tidak dapat mengendalikan faktor-faktor iklim dan faktor lainnya secara penuh.

 

3.5.4.2. Petak Uji Dilahan Petani

Uji multi-lokasi seringkali sangat diperlukan. Pada umumnya hasil-hasil percobaan ini menunjukan bahwa peningkatan hasil moderat dicapai pada dosis pupuk yang moderat. Metode seperti ini mempunyai daya prediksi yang sangat terbatas karena mengabaikan varibilitas lokal kondisi tanah, oleh karena itu tidak dapat disusun rekomendasi yang sifatnya spesifik untuk suatu lokasi.

3.5.4.3. uji Laboratorium dan Rumah Kaca

Salah satu pendekatan yang pernah dikembangkan adalah didasarkan pada identifikasi defisiensi unsur hara dengan menggunakan teknik ‘missing element” atau “minus one test” atau “ plus one test” . pada “minus one test” perlakuan lengkap dianggap sebagai control, sedangkan perlakuan-perlakuan lainnya merupakan perlakuan lengkap dikurangi satu macam satu macam unsur hara secara berturut-turut.

Menurut Chaminade (1972), percobaan pot dengan teknik “minus one test” ini dapat memberikan tiga macam informasi, yaitu :

1. unsur hara apa yang defisiensi

2. kepentingan relatif defisiensi

3. laju penurunan kesuburan tanah pada panen yang berurutan kalau digunakan indikator tanaman rerumputan.

3.5.4.4. Kultur Pot Mitscherlich

      Metode mikrobiologis

Wingradsky adalah salah seorang pakar yang pertama kali mengamati perilaku mikroorganisme yang serupa dengan perilaku tanaman tinggi nkalau mengalami kekurangan hara.

      Teknik sackett dan stewari

Teknik nini disusun berdasarkan hasil kerja Winogradisky dan digunakan untuk mengkaji ketersediaan P dan K tanah-tanah di Colorado. Suatu kultur dipersiapkan untuk masing-masing tanah. Dibagi menjadi tiga bagian untuk perlakuan P.K dan PK. Kultur ini kemudian di diinkubasi selama 72 jam. Kemudian tanah ini diklasifikasikan menjadi sangat efisien hingga tidak efisien, berdasarkan jumlah pertumbuhan koloni.

      Teknik Aspergilus Niger

Untuk menentukan status P dan K maka sedikit tanah diinkubasikan selama empat hari dalam gelas yang mengandung larutan hara yang sesuai. Bobot misselium atau jumlah kaliam yang diserapnya digunakan sebagai ukuran defisiensi unsur hara.

      Metode Mehlich

Tanah dicampur dengan larutan hara dan dibuat menjadi struktur pasta, kemudian ditaburkan pada cawan khusus, diinokulasi dipermukaan pasta tepat ditengah-tengahnya, kemudian diinkubasi selama 4-5 hari. Diameter peretumbuhan miselium digunakan sebagai dugaan ketersediaan posfor.

3.6. Uji Tanah

Uji ntanah merupakan uji kimiawi untuk mengestimsi kemampuan tanah mensuplai unsur hara. Sebaliknya uji tanah secara kimiawi, jauh lebih cepat dan mempunyai keuntungan dibandingkan dengan gejala difisiensi dan analisis tanaman karena metode ini dapat menentukan dugaan kebutuhan hara sebelum tanaman ditanam.

 

3.6.1. Tujuan Uji Tanah

Informasi yang diperoleh dari uji tanah yang digunakan dalam banyak hal.

1. Untuk mempertahankan status kesuburan tanah disuatu bidang lahan.

2. Untuk mempertahankan peluang respon yang menguntungkan terhadap kapur dan pupuk.

3. Untuk memberikan landasan bagi rekomendasi dosis kapur dan pupuk.

4. Untuk mengevaluasi status kesuburan tanah di suatu wilayah.

            Dengan demikian secara sederhana tujuan uji tanah adalah untuk mendapatkan “suatu nilai” yang akan membantu meramalkan jumlah unsur hara yang diperlukan untuk menunjang suplai unsur hara dalam tanah. Misalnya, tanah yang menunjukkan nilai uji tanah “ tinggi” tidak akan memerlukan banyak tambahan pupuk.

      Pengambilan Contoh Tanah

Salah satu aset yang sangat penting dari uji tanah adalah cara mendapatkan contoh tanah yang dapat mewakili daerah yang dapat diuji. Biasanya contoh tanah komposit sebanyak 500-1000g diambil dari suatu bidang lahan. Dengan demikian prosedur pengambilan contoh tanah harus benar-benar diikuti.

3.6.1.1. Peralatan Sampling Tanah

Ada dua persyaratan penting bagi peralatan sampling, yaitu:

a. Dapat ‘mengiris dan mengambil contoh’ tanah secara seragam mulai dari permukaan hingga kedalaman tertentu.

b. Dapat mengambil sejumlah contoh tanah yang sama dari setiap area. Salah satu peralatan yang lazim digunakan adlah bor tanah.

3.6.1.2. Daerah Sampling

Luas daerah yang dapat diwakili oleh satu contoh tanah sangat beragam, sangat dipengaruhi oleh keragaman kondisi wilayah dan tujuan evaluasi

3.6.1.3.Banyaknya Sub-sampel

Setiap contoh tanah merupakan contoh komposit yang terdiri atas tanah dari hasil pemboran yang dilakukandi beberapa titik. Satu contoh tanah komposit untuk meakili area tertentu disarankan terdriri atas 15-20 titik pemboran.

3.6.1.4. kedalaman sampling

Untuk tanaman budidaya seara umum contoh tanah biasanya diambil  hingga kedalaman olah yaitu 15-25 cm.  Akan tetapi dalam beberapa hal kedlaman pengolahan tanah hingga 30 cm, sehingga hal ini juga harus diperhatika dalam sampling tanah.

3.6.1.5. waktu pengambilan contoh

Contoh tanah dapat diambil setiap saat asalkan kondisi tanahnya memungkinkan. Adakalanya contoh tanah diambil kala tanaman sedang tumbuh’

3.6.1.6. menganalisis contoh tanah

Suatu uji tanah secara kimiawi ahrus dirancang untuk memungkinkan perkiraan jumlah unsur hara yang berhubungan dengan fraksi pertukran kation, fraksi yang mengikat fosfat dan dalam kondisi tertentu diharapkan  juga mampu memperkirakan unsur hara yang berhubungan dengan dekomposisi bahan organik.

Tingkat kehandalan metode ekstraksi ini ditentukan oleh tiga hal, yaitu :

      Harus mampu mengekstrak semua atau sebagia bentuk unsur hara tersedia dalam tanah yang cirinya berbeda

      Prosedur ekstraksinya harus cepat dan akurat

      Jumlah unsur hara yang terekstrak harus berkorelasi dengan pertumbuhan

Keasaman tanah juga merupakan karakteristik penting dan seringkali mampu menjadi indeks yang baik untuk menggambarkan beberapa kondisi tanah. Ia merupakan indikator kejenuahn basa, memungkinkan keracunan atau defisiensi unsur – unsur tertentu.

  1. Kation
  2. Fosfor
  3. Unsur mikro
  4. Bahan organik dan nitrogen
  5. Balerang
  6. Kemasaman tanah dan kebutuhan kapur

3.6.2. Korelasi dan Kalibrasi Uji Tanah

Aspek-aspek yang sulit dalam proses evaliasi kesuburan tanah adalah korelasi, interpretasi dan rekomendasi, karena melibatkan fenomena yang rumit. Pada hakekatnya tujuan pokok dari kajian korelasi dirumah kaca adalah untuk  membandingkan berbagai metode ekstraksi dan menentukan tingkat kritis “ tentatif”. Sedangkan kajian lapangan bertujuan untuk meningkatkan tingakat kritis yang “ definit” untuk suatu metode ekstraksi yang terpilih.

Pengelompokan hasil analisis  dikelompokan menjadi tiga kategori, yaitu rendah, medium dan tinggi. Dosis rekombinasi didasarkan pertimbangan jumlah pupuk yang diperlukan untuk manaikan  nilai analisis P-tanah menjadi kategori tinggi. Cate dan Nelson mengemukakan suatu metode plotting hasil relatif sebagai fingsi dari nalia-nali analisis tanah. Keuntungan dari metode ini ialah sejalan dengan keterbatasan  uji tanah, metode ini hanya memisahkan tanah-tanah yang resppon terhadap penambahan pupuk dari tanah yang tidak respon. Selain itu metode ini juga mampu menunjukan tanah-tanah yang tidak sesuai ddengan metode ekstraksi yang digunakan.

3.7 Interprestasi dan Rekomendasi

 

3.7.1. Filosofi Interprestasi Uji Tanah

Derajat ketelitian ditentukan oleh banyak faktor, termasuk pengetahuan tentang tanah, tingkat hasil yang diharapkan, taraf pengelolaan dan cuaca. Konsepsi tentang persentase hasil didasarkan pada gagasan bahwa hasil yang diharapkan (sebagai persentase dari hasil maksimum) diramalkan dari analisis P dan K tanah. Pupuk ditambahkan secukupnya untuk meningkatkan hasil hingga kondisi mencapai hasil relatif 95 % atau lebih. Konsepsi ini dapat diterapkan pada berbagai kondisi, tetapi interaksi-interaksi diantara unsur hara dapat menyebabkan penyimpanan.

 

3.7.3 Model-model Matematik

Tujuan dari interprestasi uji tanah ialah menetapkan banyaknya unsur hara harus diberikan untuk mencapai respon hasil tertentu di dalam kategori tanah-tanaman yang di perkirakan (Waugh et al 1973). Suatu kategori tanah-tanaman manyatakan bahwa interprestasi harus dibedakan antara tanah-tanah yang terletak di atas dan di bawah tingkat krisis dan juga harus dibedakan antara jenis tanaman.

Dalam kajian-kajian korelasi uji tanah, ada dua model matematik yang lazim digunakan yaitu (i) model kontinyu (kurvilinear) dan model diskontinyu (linear). Model-model kontinyu klasik berdasarkan pada hukum tambahan hasil yang semakin menurun, dimana suatu fungsi kurvi-linear yang cocok digunakan untuk mendekati data respons hasil. Model linear response and plateau telah dikembangkan oleh Waugh, Cate dan nelson. Model ini berdasarkan pada hukum minimum Liebig dan model korelasi Cate-nelson, model respon ini pada hakikatnya terdiri dari dua garis lurus. Garis pertama mencerminkan daerah respon tinggi dan garis kedua yang mengikutinya mencerminkan daerah tidak respon (garis horizontal). Hasil ambang adalah hasil tanaman yang tidak di beri pupuk, sedangkan hasil konstan menyatakan hasil tanaman dimana unsur hara tidak lagi menjadi faktor pembatas . hasil relatif adalah hasil ambang dibagi dengan hasil konstan. Dosis rekomendasi adalah hasil pupuk yang diperlukan untuk mencapai hasil konstan. Hasil ambang terakhir mencerminkan efek faktor pembatas genetik dan peubah lain.

 

3.7.3 Rekomendasi untuk berbagai tingkat hasil

Interprestasi hasil-hasil uji tanah melibatkan evaluasi ekonomi tentang hubungan antara nilai uji tanah dengan pupuk, akan tetapi pada kenyataannya respons potensial beragam dengan faktor tanah, cuaca dan kemampuan budidaya oleh petani. Rekomendasi pupuk bisa beragam sesuai dengan tingkat hasil yang diinginkan. Dosis rekomendasi pupuk N tergantung pada pola tanam sebelumnya dan sasaran hasil. Kalau teknologi dan praktek pengelolaan tanaman menjadi lebih baik dan intensif ekonomi meningkat, maka potensial hasil dan rekomendasi pupuk dapat ditingkatkan.

 

3.8 Tipe-tipe rekomendasi

Pada umumnya ada empat macam alternatif tindakan kalau tanah miskin P dan K

 

3.8.1 Pupuk dasar

Pemupak dengan maksud korektif dilakukan untuk meningkatkan ketersediaan unsur hara dalam tanah hingga taraf tertentu. Misalnya tambahan pupuk 10 Kg P2O5 akan meningkatkan nilai uji P1 sebesar satu Kg, dan penambahan sekitar 3 Kg K2O akan meningkatkan nilai uji tanah K sebesar atu Kg. Akan tetapi sering kali jumlah pupuk yang harus ditambahkan sangat beragam terbgantung pada tekstur tanah. Tanah di uji kembali dalam 2-3 tahun untuk melihat apakah koreksi pemupukan diperlukan lagi, kemudian penambahan dosis pupuk dilakukan untuk menggantikan kehilangan hara dari tanah melalui panen, erosi, pencucian dan fiksasi.

 

 

3.8.2. Pemupukan Musiman

Pupuk N, P dan K dapat ditambah kepada setiap musim tanam dalam sistem rotasi tanaman. Praktek seperti ini mungkin dapat mengakibatkan peningkatan ketersediaan hara dalam tanah atau paling tidak mempertahankan tiongkat ketersediaan unsur hara dalam tanah, pendekatan pemupukan seperti ini mungkin lebih sesuai kalau kapital petani terbatas, lahan yang di pupuk masih baru diusahakan, atau lahan sewaan. Hasil tanaman akan tidak terlalu tinggi, dan keuntungan perhektar lahan lebih rendah, tetapi keuntungan persatuan biaya akan lebih tinggi dibandingkan dengan metode pemupukan dasar.

 

3.8.3. Rotasi Tanaman

Dalam program pemupukan sistem rotasi tanaman harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Pupuk diberikan sebelum tanaman yang paling responsif dan menguntungkan.
  2. Pupuk fosfat di berikan di dekat tanaman.
  3. Tanaman hijauan pakan menyerap banyak kalium, sehingga pemupukan musiman diperlukan untuk mempertahankan hasil.
  4. Tanaman lebih respon terhadap tingkat kesuburan tanah yang tinggi daripada pemupukan langsung.

3.8.4  Sistem penggantian

Kalau ketersediaan P dan K tanah ditingkatkan hingga taraf yang dibutuhkan, maka rekomendasi pupuk selanjutnya dilakukan dengan tujuan untuk menggantikan kehilangan unsur hara sesuai dengan tingkat hasil yang diharapkan.

Konsekwensi dari strategi pemupukan yang bertumpu kepada penggantian unsur hara yang hilang adalah bahwa tanah harus di pantau secara periodik. Pemantauan ini dilakukan untuk menentukan apakah tingkat kesuburan tanah menurun atau meningkat.

 

v Nitrogen

Rekomendasi pemupukan nitrogen sangat tergantung pada banyak faktor termasuk jumlah nitrat dalam frofil tanah, jenis tanaman musim sebelumnya, sasaran hasil dan pemupukan yang dilakukan pada musim sebelumnya, kalau hasil potensi meningkat, kebutuhan nitrogen juga sangat meningkat karena unsur ini bersifat mobil.

 

v Metode reswep

Metode resep untuk menyusun rekomendasi pupuk pada hakikatnya didasrkan pada gagasan bahwa tanaman dapat hidup aman dengan memanfaatkan jumlah tertentu N, P, dan K yang terkandung dalam tanah, rabuk dan pupuk. Kalau unsur hara yang diperlukan untuk mencapai tingkat hasil tertentu dapat diketahui, maka jumlah tambahan lewat pupuk dan atau rabuk dapat diperhitungkan. Prinsip yang melandasi petode ini ialah mempormulasikan rekomendaasi pupuk yang sesuai dengan kebutuhan. Kebutuhan ini ditentukan oleh sistem rotasi tanaman, pengelolaan tanaman, analisis tanah dan tanaman yang akan di tanam.

 

 

 

DIAGNOSIS DEFISIENSI UNSUR HARA

Komentar yang dapat saya simpulkan yaitu :

      Sampling tanah meliputi :

  • Banyaknya sampel
  • Waku sampling
  • Kedalaman sampling
  • Penyiapan dan penyimpanagan sampel tanah
  • Frekuensi sampling tanah

      Analisis contoh tanah

Analisis tanah dilakukan untuk memantau perilakunya dalam tanah,kehilangan dari tanah dan mengestimasi kemampuan tanah untuk mnsuplai nitrogen bagi tanaman.

Gejala defisiensi unsur hara

Gejala ini di maksudkan untuk mewujudkan tanaman yng normal dari tanaman yang sedang tumbuh dan untuk menghindari suatu kejadian tanaman yang tidak normal yang di sebabkan kelebihan unsur hara tanaman.

  • Terjadinya gejala

Terjadinya gejala defisiensi  ini di sebabkan unsur hara yang tidak secara langsung dapat menimbulkan gejala.apabila terjadi kekurangan unsur hara maka proses-proses metabolisme tanaman tidak normal yang dapat disebut dengan “gejala”.dan apabila terjadinya suatu gejala defisiensi unsur hara ini mengakibatkan beberapa fungsi metabolik,fisiologis,dapat terganggu dan meninggalkan gejala-gejalanya.

  • Perhatian khusus

Dalam kasus hal seperti ini kita dapat sulit untuk membedakan antara gejala-gejala defisiensi unsur hara,dengan gangguan hama dan penyakit menyerupai defisiensi unsur hara.dalam al ini kita dapat melihat gejala defisiensi unsur hara hanya muncul setelah suplai unsur hara begitu rendah sehingga tanaman tidak dapat lagi berfungsi sebagiaman mestinya.

  • Kelaparan tersembunyi(hidden hunger)

Di sini di jelaskana tentang bagaimana tanaman sangat memerlukan unsur hara lebih banyak meskipun belum menunjkan tentang gejal defisiensi.

Dari jaminan terhadap kelaparan tersembunyi dapat di jelaskan :

Dari optimum fisiologis yaitu dari gejala-gejala yang di timbulkan secara fisiologis seperti terjadi defisiensi nitrogen atau menguningnya daun-daun pada tanaman dan dapat menurunkan kuantitas nitrogen,produksi klrofil akan di reduksi.dan di dalam optimum fisioogis ini dapat dikendalikn dengan pengendalian-pengendalian dengan perilaku sesuai dengan dosis yanag di butuhkan dalam menggunkanya.setelah terjadinya optimum fisiologis dan di ikuti dengan optimum ekonomis dalam hal ini apabila adnya gejala atau kelaaran yang tersembuny ini terjadi pasti akan membutuhkan biaya untuk mengendalikanya dan menjadikan tanaman yang hidup normal lagi.dan adanya gejala yang di timbulkan seperti kekurangan unsur hara pokok yang harus ada pada tanaman kadar unsur hara masih harus diatas zone defisiensi agar dapat menghasilaknan pertumbuhan dan hasil produksi tanaman yang paling menguntungkan.hal ini terjadi juga dalam pemberian pupuk yang di butuhakan pada tanaman unutuk mencapai hasil tanaman yang menguntungkan.

  • Waktu analisis

Bagian tanaman yang di gunakan untuk analisis jaringan tanaman

Tanaman

Nitrigen

Fosfor

Kalium

Jagung

Batang utama atau tulang daun

Tulang daun dekat tongkol

Helai atau tulang daun dekat tongkol

Kedelai

Tangkai daun bagian atas

Tangkai daun

 

Kentang

Batang atau tangkai daun

Tangkai daun bagian bawah

Tangkai daun

Sirih merah

 

 

 

Kelor

 

 

 

Mawar

 

 

 

asoka

 

 

 

 

HIDDEN HUNGER PADA TANAMAN

‘Tersembunyi kelaparan’ mengancam banyak tanaman, peneliti mengatakan

WEST LAFAYETTE, Ind – Acres tanaman gagal mencapai potensi hasil setiap tahun, dan Universitas Purdue ahli patologi tanaman, mengatakan alasan sering dapat ditelusuri ke sumber yang sama yang merampas manusia dari kinerja yang optimal: pola makan yang buruk.

Ambil Foto Berikut
Photo caption di bawah ini

Patolog Don Huber mengatakan tanaman biasanya mendapatkan cukup fosfor, kalium dan mineral umum lainnya untuk tumbuh, tetapi sering tidak bisa menarik mikronutrien yang cukup dari tanah untuk menangkis penyakit. Nutrisi tersebut termasuk mangan logam, tembaga, seng, besi dan boron.

Gejala tidak selalu jelas. Ilmuwan menyebut fenomena “hidden hunger.”

“Gizi Tanaman memiliki pengaruh besar pada kerentanan tanaman terhadap penyakit,” kata Huber. “Mikronutrien mengatur fisiologi tanaman. Tidak banyak mikronutrien yang dibutuhkan untuk memobilisasi resistensi penyakit tanaman, tetapi sangat penting.”

Komposisi tanah sering diabaikan dalam produksi tanaman, Huber mengatakan. Petani dan agronomi biasanya lebih memperhatikan pengendalian serangga dan vegetasi alien, atau prakiraan cuaca. Huber menunjukkan nutrisi tanah memainkan peran yang sama penting dalam perkembangan tanaman.

Dalam studi di empat peternakan penelitian pertanian Purdue dan di pusat-pusat agronomi di Alberta, Kanada, Huber dan peneliti Kanada menemukan bahwa defisiensi mikronutrien memiliki baik dampak langsung dan tidak langsung pada tanaman.

“Mangan, dari sudut pandang penyakit, memainkan peran penting,” kata Huber. “Ini tidak hanya secara langsung terlibat dalam fotosintesis tanaman, tetapi juga dalam pertahanan terhadap penyakit.” Kedelai, gandum, gandum dan barley sangat rentan terhadap kekurangan mangan.

Gandum dan jagung juga membutuhkan jumlah yang cukup seng, Huber mengatakan.

Jagung sensitif terhadap ketidakseimbangan mangan dan nitrogen, yang bekerja di konser dalam pabrik. Dalam kasus ekstrim ketidakseimbangan dapat memicu rantai peristiwa yang dihasilkan di pabrik makan dari cadangan nutrisi dalam dinding sel sendiri untuk memastikan pengembangan kernel, Huber mengatakan. Kanibalisasi melemah tanaman, penyakit mengundang.

“Ketika tanaman mulai makan pada jaringan sendiri, tangkai membusuk dapat menjadi parah,” kata Huber.

Contoh lain dari defisiensi mikronutrien, dan masalah yang mereka dapat menyebabkan, antara lain:

• Boron – pertumbuhan kerdil dan perkembangan akar miskin di alfalfa.

• Klorin – Stunting, ujung layu, kadar asam amino yang tinggi dalam berbagai tanaman.

• Tembaga – kematian ujung daun, reaksi parah terhadap beberapa herbisida, penginapan tanaman yang tidak biasa, melanosis (kecoklatan) dari batang atas dan kepala, kemandulan dan berat ujian yang rendah dalam gandum dan barley.

• Besi – Stunting, klorosis (menguning) dan akar pendek dan bercabang di berbagai kacang-kacangan, kacang lapangan dan pohon buah-buahan.

• Molybdenum – Stunting, klorosis, kerusakan dan layu daun di kacang-kacangan dan gandum.

Petani tidak harus menganggap semua penyakit yang terhubung ke kekurangan gizi, Huber mengatakan, tetapi malnutrisi tanaman terjadi lebih sering daripada yang bisa dipercaya.

“Kau lihat ini kelaparan tersembunyi di banyak tanah, dan gejala tidak selalu muncul dalam beberapa tanaman,” kata Huber. “Anda mungkin memiliki pabrik yang sedikit terhambat dan hasilnya tidak sama besar, dan Anda tidak tahu mengapa. Defisiensi Mikronutrien mungkin menjadi alasan.”

Bagi petani yang menduga tanaman mereka nutrisi kelaparan, analisis sampel tanaman mungkin di urutan.Jika analisis menunjukkan kekurangan gizi, ada beberapa langkah petani dapat dilakukan untuk meningkatkan kekebalan tubuh tanaman: menerapkan nutrisi ke tanah atau tanaman, mengubah tingkat pH tanah itu, kelembaban dan pengolahan tanah, bibit tanaman dengan karakteristik penyerapan nutrisi yang lebih baik, atau bercocok tanam selama musim ketika kondisi cenderung membuat stres tanaman.

Petani juga dapat mempertimbangkan memeriksa tingkat nitrogen di bidang mereka, karena ada hubungan antara nitrogen dan gizi mikronutrien pada tanaman, Huber mengatakan.

“Tahun ini di Indiana kita telah kehilangan hingga 200 pon nitrogen per hektar dari beberapa tanah kami, hampir semua dari denitrifikasi – pergerakan nitrogen dari tanah kembali ke atmosfer,” kata Huber. “Di mana kita telah menghambat nitrifikasi kita sudah kehilangan kurang dari seperempat dari jumlah itu.”

Penelitian Huber menunjukkan bahwa ketika inhibitor nitrifikasi diterapkan pada tanah untuk mempertahankan nitrogen yang memadai dan tingkat mangan untuk jagung, hasil panen naik 14 bushel per acre. Hasil kedelai setelah jagung meningkat sebanyak 22 bushel per acre dari nitrifikasi penggunaan inhibitor.

Aplikasi inhibitor nitrifikasi biaya sekitar $ 7,50 hektar untuk jagung, Huber mengatakan.

Penelitian mikronutrien Huber akan muncul dalam Encyclopedia of Plant Pathology (John Wiley & Sons Inc, New York, NY). Dia cowrote sebuah bab yang berjudul “Tanaman Penyakit Defisiensi,” dengan Ieuan Evans dan Elston Solberg, peneliti agronomi di Alberta Pertanian, Pangan dan Pembangunan Pedesaan.

Ensiklopedia ini akan keluar musim gugur ini.

Sumber: Don Huber, (765) 494-4652;huber@btny.purdue.edu

Penulis: Steve Leer, (765) 494-8415,sleer@aes.purdue.edu

Purdue News Service: (765) 494-2096;purduenews@purdue.edu

PHOTO CAPTION:
Sebuah ketidakseimbangan dalam nitrogen dan kadar mangan dalam jagung dapat menyebabkan tangkai untuk memberi makan pada nutrisi dalam dinding sel sendiri, mengundang penyakit seperti Gibberella tangkai membusuk. Daerah merah muda pada tangkai adalah jamur Gibberella. Purdue ahli patologi tanaman Don Huber mengatakan hektar tanaman gagal mencapai potensi hasil setiap tahun karena mereka tidak bisa menarik mikronutrien yang cukup dari tanah untuk menangkis penyakit. (Photo courtesy of Don Huber)

Sebuah foto publikasi berkualitas tersedia di News Service situs Web dan pada situs ftp . Photo ID: Huber.deficiency

Hara yang dibutuhkan tanaman

Unsur hara esensial ada 17 macam . Hara makro diantaranya C, H, O, N, P, K, Ca, Mg, dan S. Hara mikro diantaranya Fe, Mn, Zn, Cu, B, Mo, Cl, dan Ni. Unsur hara yang mobil diantaranya N, P, K, Mg . unsur hara yang immobil diantaranya Ca, S, Fe, Zn, Cu, B, Mo.

1.      Nitrogen

Tanaman menyerap nitrogen dalam bentuk : NO3 dan NH4+. Pemberian N yang banyak dapat menyebabkan pertumbuhan vegetatif tanaman berlangsung hebat sekali dan warna daun menjadi hijau tua. Kelebihan N ini dapat memperpanjang umur tanaman dan memperlambat proses pematangan karena tidak seimbang dengan unsur lainnya seperti P, K dan S. Kekurangan N dapat menyebabkan daun tua menjadi kuning, karena N ini sangat mobil, maka gejala kuning dimulai dari daun tua menuju daun muda.

2.      Fosfor

Fosfat yang diserap oleh tanaman dalam bentuk HPO4 dan H2PO4. Fosfat mempengaruhi fase generatif tanaman. Beberapa peranan fosfat yang penting diantaranya proses fotosintesa, perubahan-perubahan karbohidrat dan senyawa-senyawa yang berhubungan dengannya, glikolisis, metabolisme lemak, metabolisme sulfur, oksidasi biologis dan sejumlah reaksi dalam proses hidup.

3.      Kalium

Kalium diserap tanaman dalam bentuk K+. Kebutuhan tanaman akan K cukup tinggi dan akan menunjukkan gejala kekurangan apabila kebutuhannya tidak tercukupi. Terjadi translokasi K dari bagian-bagian yang tua ke bagian yang muda. Peranan kalium dalam peristiwa fisiologis seperti : metabolisme karbohidrat, metabolisme nitrogen dan sintesa protein, mengawasi dan mengatur aktivitas beragam unsur mineral, netralisasi asam-asam organik yang penting bagi proses fisiologik, mengaktifkan berbagai enzim, mempercepat pertumbuhan jaringan meristematik dan mengatur pergerakan stoma dn hal-hal lain yang berhubungan dengan air. Kekurangan kalium menyebabkan daun-daun menjadi kuning, melemahkan batang dari tanaman biji-bijian, mengakibatkan mudah rebah, produksi tanaman berkurang dan mengurangi resistensi terhadap penyakit. Walaupun produksi berkurang sekali, tetapi gejala kekurangan tidak timbul, peristiwa ini dikenal dengan kelaparan yang tersembunyi (hidden hunger).

4.      Kalsium

Kalsium diserap tanaman dalam bentuk Ca2+. Kalsium ini banyak dijumpai di dalam daun. Kekurangan Ca menyebabkan terganggunya pembentukan pucuk dan ujung akar. Ca memegang peranan dalam pembentukan lamela tengah.

5.      Magnesium

Magnesium diserap tanaman dalam bentuk Mg2+. Sebagian besar Mg dijumpai dalam klorofil dan cukup banyak dijumpai dalam biji. Mg berperan dalam sintesa protein. Kekurangan Mg yaitu klorosis diantara tulang-tulang daun sedangkan tulang daun sendiri berwarna hijau. Pada tingkat yang lebih lanjut seluruh jaringan daun menjadi kuning kemudian coklat dan akhirnya nekrotik. Mg dibutuhkan dalam sinteas minyak dalam tanaman.

6.      Sulfur

Sulfur diserap tanaman dalam bentuk SO22- dan SO42-Kekurangan S mirip dengan N, penumpukan N-non protein akan berbahaya bagi ternak, klorosis seluruh tanaman, tanaman kerdil, batangnya kecil dan kurus. Sulfur sulit ditranslokasikan dari bagian yang tua ke bagian yang muda apabila terjadi kekurangan unsur ini. Peranan S dalam pertumbuhan : sintesa asam-asam amino yang mengandung S, mengaktifkan enzim-enzim protolytic, bagian dari vitamin-vitamin tertentu, serta menaikkan kadar minyak tanaman.

 

 

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑