BAB III

DIAGNOSIS DEFISIENSI UNSUR HARA

Tujuan uji tanah telah dijelaskan oleh Tisdale dan Nelson (1966) dan oleh Melsted (1967), yaitu :

  1. Untuk mengevaluasi status kesuburan sebidang lahan tertentu,
  2. Meramalkan peluang untuk mendapatkan respon yang menguntungkan terhadap penggunaan kapur dan pupuk,
  3. Menyediakan landasan untuk rekomendasi pengapuran dan pemupukan, dan
  4. Mengevaluasi status kesuburan tanah suatu wilayah.

Dengan kata lain, uji tanah dapat digunakan untuk diagnosis, untuk pendugaan dosis pupuk, atau untuk pemupukan tanaman (Pizer,1965). Diagnosis defisiensi unsur hara dalam tanaman dapat dilakukan atas dasar analisis daun atau analisis tanah. Pemisahan dua macam pendekatan ini semata-mata hanya bersifat “keyakinan” saja, karena keduanya tidak “mutually exclusive”.

Secara umum ada empat fase dalam uji tanah, yaitu :

  1. Sampling tanah,
  2. Analisis tanah,
  3. Penyusunan rekomendasi, dan
  4. Interpertasi rekomendasi bagi petani.

Petani merupakan pengguna akhir dari informasi uji tanah, meskipun informasi tersebut harus diolah terlebih dahulu sebelum sampai kepadanya.

 

3.1       Sampling Tanah

 

3.1.1.   Banyaknya Sampel

            Dalam memutuskan berapa jumlah sampel yang harus diambil, harus dilakukan pemufakatan antara jumlah yang banyak yang diperlukan oleh kaidah statistic dengan jumlah yang lebih sedikit yang dikendalai oleh biaya. Reduksi biaya sampling dapat dikurangi kalau petani sendiri mampu mengambil sampel tanah.

            Beckett (1967), McIntyre (1967), Vimpany (1967) During dan Mountier (1967), Mountier dan During (1967), Smith dan Storrier (1966) serta Skene (1960); telah melaporkan adanya variasi spasial dalam tanah. Variasi ini dapat cukup besar, Harper (1965) hanya menemukan 45% analisis P dari contoh tanah duplo termasuk ke dalam kategori yang sama, dan 48% berbeda satu kategori.

 

3.1.2.   Waktu Sampling

            Kandungan hara tersedia dalam tanah beragam sepanjang tahun (Rixon dan Melville, 1969; Ahmad, 1967; Child dan Jeneks, 1967; Semb, 1966; Mountier dan During, 1966; Smith dan Storrier, 1966). Karena adanya variasi musiman inilah maka semua tanah harus diambil contohnya pada waktu yang sama dalam setahun. Akan tetapi untuk efisiensi kerja laboratorium rutin maka diharuskan ada contoh tanah secara kontinyu. Kedua hal ini menjadi persyaratan yang tidak saling menenggang.

 

3.1.3.   Kedalam Sampling

            Kalau unsur hara dalam tanah bersifat tidak mobile, seperti fosfat, maka secara teoritis tidak sulit untuk mendapatkan kedalaman sampling yang memuaskan. Akan tetapi kalau hara dalam tanah bersifat mobile maka diperlukan kompromi antara apa yang seharusnya dan apa yang mungkin dilakukan.

 

3.1.4.   Penyiapan dan Penyimpanan Sampel Tanah

            Pengeringan contoh tanah sebelum preparasi dan penyimpanannya akan mengubah ketersediaan fosfat (Ghosh dan Wiklander, 1966; Wiklander dan Koutler Anderson, 1966) dan nitrogen (Storrier, 1966). Pengaruh pengeringan terhadap ketersediaan kalium juga cukup besar sehingga seringkali analisis kalium tanah dilakukan dengan menggunakan lumpur yang disiapkan di lapangan.

 

3.1.5.   Frekuensi Sampling Tanah

            Mountier dan During (1967) menyimpulkan bahwa jalan pintas untuk mereduksi ragam ialah mengulang setiap sampling, tetapi hal inisulit untuk dipraktekkan. Sampling tahan setiap tahun mungkin telah dapat dianggap ideal kalau variasi di antara ulangan dalam suatu tahun jauh lebih rendah dibandingkan dengan variasi di antara tahun. Hal yang sering terjadi ialah bahwa variasi anatar ulangan lebih besar daripada variasi antar tahun, sehingga dalam kondisi seperti ini akan diperoleh nilai hara yang tersedia yang lebih rendah setelah aplikasi pupuk.

 

3.2.      Analisis Contoh Tanah

            Metode analisis apapun yang digunakan, tampaknya kesalahan analitik masih jauh lebih kecil daripada kesalahan sampling. Di New Zealand, variasi anatar laboratorium jauh lebih besar daripada variasi di dalam suatu laboratorium (Mountier et al., 1966). Analisis tanah paling sering dilakukan adalah Ph, P-tersedia, Nitrogen, dan bahan organic.

 

3.3.      Model Evaluasi Kesuburan Tanah dan Rekomendasi Pemupukan

            Penentuan dosis unsure hara yang tepat dipengaruhi oleh pengetahuan mengenai kebutuhan unsure hara tanaman dan kemampuan tanah untuk mensuplai unsure hara. Kalau tanah tidak mampu menyediakan sejumlah unsure hara yang cukup untuk pertumbuhan tanaman yang normal, maka diperlukan tambahan unsure hara dalam bentuk pupuk atau bentuk lainnya. Keadaan seperti ini mendorong upaya penemuan metode-metode yang dapat digunakan untuk menentukan defisiensi unsure hara.

 

3.3.1.   Pendekatan yang Digunakan

            Analisis tanah secara kimiawi ini sangat tergantung kepada pereaksi-pereaksi kimia untuk menentukan jumlah unsure hara yang tersedia. Selain itu juga ada metode biologis yang melibatkan tanaman sebagai agen pengekstraks unsure hara, cara ini sering digunakan untuk menduga jumlah unsure hara yang tersedia dalam tanah. Secara umum ternyata uji tanah secara biologis ini ada dua tipe, yaitu; (i) menggunakan tanaman tinggi, dan (ii) menggunakan tanaman rendah, seperti bakteri dan fungi. Empat macam teknik yang lazim digunakan untuk menduga status kesuburan suatu tanah adalah:

  1. Gejala defisiensi unsure hara tanaman
  2. Analisis jaringan tanaman yang sedang tumbuh
  3. Uji biologis dimana pertumbuhan tanaman tinggi atau mikroorganisme tertentu digunakan sebagai ukuran status kesuburan tanah
  4. Uji tanah secara kimiawi

 

3.3.2. Gejala Defisiensi Unsur Hara

            Suatu wujud yang tidak normal dari tanaman yang sedang tumbuh mungkin dapat disebabkan oleh defisiensi satu atau lebih unsure hara tanaman. Kalau tanaman kekurangan unsure hara tertentu, maka gejala defisiensi yang spesifik akan muncul. Metode visual ini sangat unik karena tidak memerlukan perlengkapan yang mahal dan banyak serta dapat digunakan sebagai penunjang bagi teknik-teknik diagnostic lainnya.

 

3.3.2.1. Terjadi Gejala

            Gejala defisiensi unsure hara pada umumnya dapat dikelompokkan menjadi

  1. Kegagalan tanaman secara lengkap pada fase kecambah
  2. Pertumbuhan tanaman sangat kerdil
  3. Munculnya gejala spesifik pada daun selama periode waktu yang berbeda-beda dalam musim pertumbuhan
  4. Abnormalitas internal, seperti tersumbatnya jaringan pembuluh
  5. Penangguhan kemasakan atau kemasakan tidak normal
  6. Perbedaan hasil, dengan atau tanpa gejala pada daun
  7. Kualitas tanaman yang buruk, termasuk penyimpangan komposisi kimia, seperti kadar protein, minyak, pati daya awet atau daya simpan
  8. Perbedaan hasil yang hanya dapat dideteksi melalui percobaan yang serius.

 

3.3.2.2 Perhatian Khusus

            ‘Kelaparan tersembunyi’ (“hidden hunger”) menyatakan situasi dimana tanaman memerlukan lebih banyak unsure hara tertentu. Meskipun belum menunjukkan gejala defisiensi tertentu. Kadar unsure hara masih di atas zone defisiensi tetapi berada di bawah batas yangf diperlukan untuk menghasilkan pertumbuhan dan produksi tanaman yang paling menguntungkan.

            Permasalahan yang kemudian dihadapi adalah bagaimana cara terbaik untuk mengeliminir kelaparan tersembunyi. Uji tanaman akan membantu kea rah perencanaan program pemupukan tahun berikutnya, dan uji tanah akan membantu mengeliminir problem tanaman yang sedang tumbuh. Dalam kedua macam pendekatan ini harus senantiasa diperhatikan praktek pengelolaan sebelumnya.

 

3.4.      Efek-efek Musiman

            Kekurangan unsure hara dalam tanah dapat diperparah oleh kondisi cuaca yang tidak normal. Unsure hara dapat tersedia dalam jumlah yang cukup pada kondisi ideal, tetapi dalam kondisi kekeringan, kelebihan air, atau suhu yang ekstrim tanaman mungkin tidak mampu menyerap dalam jumlah yang cukup. Misalnya pada suhu dingin akan lebih sedikit N, P, dan K yang dapat terserap oleh tanaman tomat.

            Di daerah yang tidak menunjukkan gejala defisiensi maka kita harus menggunakan lebih banyak diagnostic kimiawi untuk mengevaluasi kebutuhan unsure hara tanaman secara lebih tepat (Tidale dan Nelson, 1975).

 

3.5. Analisis Jaringan Tanaman

            Analisis tanaman mempunyai keuntungan pokok yaitu bahwa ia mengintegrasikan pengaruh tanah, tanaman, iklim dan peubah-peubah pengelolaan. Dengan cara ini maka hasil analisis tanaman dipandang sebagai ukuran akhir dari ketersediaan unsure hara. Akan tetapi kelemahan yang pokok dari cara ini adalah berkaitan dengan “waktu”, seringkali sudah terlambat untuk menyembuhkan kekurangan hara tanpa mengalami kehilangan hasil.

            Lazimnya analisis tanaman digunakan untuk tiga maksud penting, yaitu; (i) identifikasi problematic unsure hara tanaman dan mengkuantifikasikan koreksinya melalui penetepan tingkat kritis unsure hara, (ii) menghitung nilai serapan hara untuk menunjang program pemupukan, dan (iii) memonitor status hara tanaman permanen, atau yang secara praktis disebut “crop logging”.

 

3.5.1.   Analisis Jaringan Tanaman

            Uji cepat untuk menentukan unsure hara dalam cairan sel dari jaringan tanaman segar ternyata mempunyai posisi penting dalam diagnosis kebutuhan tanaman. Dalam uji ini hasilnya di sajikan dalam bentuk “sangat rendah”, “rendah”, “medium”, atau “tinggi”. Tujuannya adalah untuk menduga taraf umum unsure hara tanaman.

            Konsentrasi hara dalam cairan sel biasanya merupakan indikasi yang baik tentang suplai hara pada saat pengujian.

 

3.5.1.1. Bagian Tanaman yang Diuji

            Hal penting yang harus diperhatikan adalah bagian tanaman yang akan memberikan indikasi terbaik bagi status hara tanaman. Kalau suplai nitrogen menurun, bagian pucuk tanaman tempat digunakannya nitrogen dalam proses metabolism akan menunjukkan nilai uji nitrat yang rendah. Dalam hal P dan K akan terjadi hal yang sebaliknya, dimana bagian tanaman sebelah bawah akan defisien lebih dahulu.

 

 

 

3.5.1.2. Waktu Analisis

            Fase kemasakan merupakan hal yang sangat penting dalam analisis jaringan tanaman. Rata-rata tanaman budidaya tumbuh selama periode 100 – 150 hari, dan status haranya akan berubah selama periode tersebut.

            Tanaman muda yang cukup hara mungkin saja akan kekurangan pada akhir pertumbuhannya. Akan tetapi kalau diperkirakan akan terjadi defisiensi dan tanaman diuji lebih awal maka aka nada peluang untuk mengkoreksinya.

            Pada umumnya fase pertumbuhan yang kritis untuk analisis jaringan ialah pada saat pembungaan hingga awal fase pembuahan. Selama periode ini penggunaan unsure hara mencapai tingkat maksimumnya. Misalnya pada tanaman jagung seringkali diambil daun di dekat tongkol pada saat muncul bunga jantan.

 

3.5.1.3. Keguaan

            Uji jaringan tanaman dan analisis tanaman dilakukan karena alasan-alasan berikut ini :

  1. Untuk membantu menentukan kemampuan tanah dalam mensuplai unsure hara.
  2. Untuk membantu mengidentifikasikan gejala defisiensi dan menentukan saat-saat kekurangan unsure hara sebelum muncul gejala defisiensi.
  3. Untuk membantu menentukan efek perlakuan kesuburan terhadap suplai unsure hara dalam tanaman. Hal ini akan sangat berguna untuk mengukur efek tambahan pupuk meskipun tidak ada informasi tentang respon hasil.
  4. Untuk mengkaji hubungan antara status unsure hara tanaman dan penampilan tanaman.
  5. Untuk mensurvei daerah yang luas.

 

3.5.2.   Interpretasi

            Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam kaitannya dengan interpretasi diagnosis status hara tanaman adalah:

  1. Penampilan dan kesuburan tanaman secara umum
  2. Kadar hara-hara lain dalam tanaman
  3. Gangguan hama dan penyakit
  4. Kondisi tanah, aerasi dan kelembaban yang buruk
  5. Kondisi iklim, dan
  6. Waktu dalam seharian.

 

3.5.2.1. Tingkat Kritis Unsur Hara

            Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, istilah “tingkat kritis” biasanya berhubungan dengan ambang batas defisiensi dan kecukupan. Tingkat kritis pada analisis tanaman ini mengikuti hokum minimum, dan pada hakekatnya menggunakan pendekatan yang sama dengan konsepsi yang dikembangkan oleh Cate dan Nelson.

 

3.5.2.2. Serapan Hara Sebagai Sarana Penduga

            Kekurang-akuratan uji tanah untuk menangani problemtik nitrogen telah mendorong berkembangnya pendekatan lain dalam mengestimasi dosis pupuk nitrogen. Bartholomew (1972) mengungkapkan adanya hubungan yang konstan anatara hasil biji serealia dengan total serapan nitrogennya (termasuk serapan akar)

 

3.5.3. Analisis Total

Analisis total dilakukan pada keseluruhan tanaman atau pada bagian-bagian tanaman. Teknik-teknik analisis yang tepat digunakan pengukuran berbagai unsur setelah material tanaman dikeringkan, dihaluskan dan diabukan. Spektrograf dapat menentukan beberapa unsur secara simultan dan “ atom absorbption” menjadi semakin penting. Dengan teknik analisis total ini dapat diukur berbagai macam unsur hara seperti N,P,K,Ca,Mg,S Mn,Fe,Zn,B,Mo,Co,Si dan Al.

3.5.3.1. Hasil tanaman vs Kadar Hara dalam Tanaman

Hingga taraf tertentu, penigkatan dosis hara tanaman (seperti misalnya nitrogen), akan meningkatkan kadar unsur dalam tanaman dan hasil tanaman.

 

3.5.3.2. Keseimbangan Unsur Hara

Salah satu masalah penting yang dihadapi dalam menginterpretasikan analisis tanaman adalah keseimbangan diantara unsur hara. Pada kondisi lingkungan yang seragam tanaman akan cenderung untuk menyerap jumlah yang konstan kation-kation har, termasuk ammonium, atas dasar kesetaraan.

3.5.3.3. Waktu Sampling

Kadar beberapa macam unsur hara dalam tubuh tanaman dapat menurun dengan cepat dari periode awal musim hingga akhir musim perumbuhan tanaman. Dengan demikian fase pertumbuhan untuk sampling harus dipilih dan diidentifikasikan dengan hati-hati.

3.5.3.4. Survei

Pengumpulan sampel-sampel tanaman dari banyak lapangan, dengan analisis selanjutnya dengan spektograf, akan memberikan indikasi umum tentang kadar unsur hara. Memang untuk memungkinkan interpretasi atas kadar –kadar hara nin harus dibandigkan dengan tingkat kritis yang diperoleh dari peta-petak (daerah) yang terkontrol. Metode ini sangat berguna untuk mendapatkan informasi pendahuluan entang unsur hara seperti Zn, B, Co, dan Cu.

 

3.5.3.5. Penggunaan rutin (Crop Logging)

Analisis tanaman secara kuantitatif telah banyak digunakan dalam penelitian untuk mendapatkan ukuran-ukuran lain dari efek perlakuan. Akan tetapi tanaman komersial seperti tebu, cengkeh, kopi, dan lainnya di analisis secara periodik. Dalam hal seperti ini analisis tanaman harus dibarengi dengan analisis tanah dan informasi tentang praktek budidaya tanaman.

3.5.4. Uji Biologis

3.5.4.1. Uji Lapangan

Metode petak-lapangan merupakan salah satu uji biologis yang paling banyak dikenal. Serangkaian perlakuan yang dicobakantergantung pada permasalahan penelitian yang akan dikaji jawabannya.

Percobaan-percobaan lapangan seperti ini berguna untuk memformulasikan rekomendasi umum. Percobaan lapangan sangat mahal dan memerlukan banyak waktu dan tidak dapat mengendalikan faktor-faktor iklim dan faktor lainnya secara penuh.

 

3.5.4.2. Petak Uji Dilahan Petani

Uji multi-lokasi seringkali sangat diperlukan. Pada umumnya hasil-hasil percobaan ini menunjukan bahwa peningkatan hasil moderat dicapai pada dosis pupuk yang moderat. Metode seperti ini mempunyai daya prediksi yang sangat terbatas karena mengabaikan varibilitas lokal kondisi tanah, oleh karena itu tidak dapat disusun rekomendasi yang sifatnya spesifik untuk suatu lokasi.

3.5.4.3. uji Laboratorium dan Rumah Kaca

Salah satu pendekatan yang pernah dikembangkan adalah didasarkan pada identifikasi defisiensi unsur hara dengan menggunakan teknik ‘missing element” atau “minus one test” atau “ plus one test” . pada “minus one test” perlakuan lengkap dianggap sebagai control, sedangkan perlakuan-perlakuan lainnya merupakan perlakuan lengkap dikurangi satu macam satu macam unsur hara secara berturut-turut.

Menurut Chaminade (1972), percobaan pot dengan teknik “minus one test” ini dapat memberikan tiga macam informasi, yaitu :

1. unsur hara apa yang defisiensi

2. kepentingan relatif defisiensi

3. laju penurunan kesuburan tanah pada panen yang berurutan kalau digunakan indikator tanaman rerumputan.

3.5.4.4. Kultur Pot Mitscherlich

      Metode mikrobiologis

Wingradsky adalah salah seorang pakar yang pertama kali mengamati perilaku mikroorganisme yang serupa dengan perilaku tanaman tinggi nkalau mengalami kekurangan hara.

      Teknik sackett dan stewari

Teknik nini disusun berdasarkan hasil kerja Winogradisky dan digunakan untuk mengkaji ketersediaan P dan K tanah-tanah di Colorado. Suatu kultur dipersiapkan untuk masing-masing tanah. Dibagi menjadi tiga bagian untuk perlakuan P.K dan PK. Kultur ini kemudian di diinkubasi selama 72 jam. Kemudian tanah ini diklasifikasikan menjadi sangat efisien hingga tidak efisien, berdasarkan jumlah pertumbuhan koloni.

      Teknik Aspergilus Niger

Untuk menentukan status P dan K maka sedikit tanah diinkubasikan selama empat hari dalam gelas yang mengandung larutan hara yang sesuai. Bobot misselium atau jumlah kaliam yang diserapnya digunakan sebagai ukuran defisiensi unsur hara.

      Metode Mehlich

Tanah dicampur dengan larutan hara dan dibuat menjadi struktur pasta, kemudian ditaburkan pada cawan khusus, diinokulasi dipermukaan pasta tepat ditengah-tengahnya, kemudian diinkubasi selama 4-5 hari. Diameter peretumbuhan miselium digunakan sebagai dugaan ketersediaan posfor.

3.6. Uji Tanah

Uji ntanah merupakan uji kimiawi untuk mengestimsi kemampuan tanah mensuplai unsur hara. Sebaliknya uji tanah secara kimiawi, jauh lebih cepat dan mempunyai keuntungan dibandingkan dengan gejala difisiensi dan analisis tanaman karena metode ini dapat menentukan dugaan kebutuhan hara sebelum tanaman ditanam.

 

3.6.1. Tujuan Uji Tanah

Informasi yang diperoleh dari uji tanah yang digunakan dalam banyak hal.

1. Untuk mempertahankan status kesuburan tanah disuatu bidang lahan.

2. Untuk mempertahankan peluang respon yang menguntungkan terhadap kapur dan pupuk.

3. Untuk memberikan landasan bagi rekomendasi dosis kapur dan pupuk.

4. Untuk mengevaluasi status kesuburan tanah di suatu wilayah.

            Dengan demikian secara sederhana tujuan uji tanah adalah untuk mendapatkan “suatu nilai” yang akan membantu meramalkan jumlah unsur hara yang diperlukan untuk menunjang suplai unsur hara dalam tanah. Misalnya, tanah yang menunjukkan nilai uji tanah “ tinggi” tidak akan memerlukan banyak tambahan pupuk.

      Pengambilan Contoh Tanah

Salah satu aset yang sangat penting dari uji tanah adalah cara mendapatkan contoh tanah yang dapat mewakili daerah yang dapat diuji. Biasanya contoh tanah komposit sebanyak 500-1000g diambil dari suatu bidang lahan. Dengan demikian prosedur pengambilan contoh tanah harus benar-benar diikuti.

3.6.1.1. Peralatan Sampling Tanah

Ada dua persyaratan penting bagi peralatan sampling, yaitu:

a. Dapat ‘mengiris dan mengambil contoh’ tanah secara seragam mulai dari permukaan hingga kedalaman tertentu.

b. Dapat mengambil sejumlah contoh tanah yang sama dari setiap area. Salah satu peralatan yang lazim digunakan adlah bor tanah.

3.6.1.2. Daerah Sampling

Luas daerah yang dapat diwakili oleh satu contoh tanah sangat beragam, sangat dipengaruhi oleh keragaman kondisi wilayah dan tujuan evaluasi

3.6.1.3.Banyaknya Sub-sampel

Setiap contoh tanah merupakan contoh komposit yang terdiri atas tanah dari hasil pemboran yang dilakukandi beberapa titik. Satu contoh tanah komposit untuk meakili area tertentu disarankan terdriri atas 15-20 titik pemboran.

3.6.1.4. kedalaman sampling

Untuk tanaman budidaya seara umum contoh tanah biasanya diambil  hingga kedalaman olah yaitu 15-25 cm.  Akan tetapi dalam beberapa hal kedlaman pengolahan tanah hingga 30 cm, sehingga hal ini juga harus diperhatika dalam sampling tanah.

3.6.1.5. waktu pengambilan contoh

Contoh tanah dapat diambil setiap saat asalkan kondisi tanahnya memungkinkan. Adakalanya contoh tanah diambil kala tanaman sedang tumbuh’

3.6.1.6. menganalisis contoh tanah

Suatu uji tanah secara kimiawi ahrus dirancang untuk memungkinkan perkiraan jumlah unsur hara yang berhubungan dengan fraksi pertukran kation, fraksi yang mengikat fosfat dan dalam kondisi tertentu diharapkan  juga mampu memperkirakan unsur hara yang berhubungan dengan dekomposisi bahan organik.

Tingkat kehandalan metode ekstraksi ini ditentukan oleh tiga hal, yaitu :

      Harus mampu mengekstrak semua atau sebagia bentuk unsur hara tersedia dalam tanah yang cirinya berbeda

      Prosedur ekstraksinya harus cepat dan akurat

      Jumlah unsur hara yang terekstrak harus berkorelasi dengan pertumbuhan

Keasaman tanah juga merupakan karakteristik penting dan seringkali mampu menjadi indeks yang baik untuk menggambarkan beberapa kondisi tanah. Ia merupakan indikator kejenuahn basa, memungkinkan keracunan atau defisiensi unsur – unsur tertentu.

  1. Kation
  2. Fosfor
  3. Unsur mikro
  4. Bahan organik dan nitrogen
  5. Balerang
  6. Kemasaman tanah dan kebutuhan kapur

3.6.2. Korelasi dan Kalibrasi Uji Tanah

Aspek-aspek yang sulit dalam proses evaliasi kesuburan tanah adalah korelasi, interpretasi dan rekomendasi, karena melibatkan fenomena yang rumit. Pada hakekatnya tujuan pokok dari kajian korelasi dirumah kaca adalah untuk  membandingkan berbagai metode ekstraksi dan menentukan tingkat kritis “ tentatif”. Sedangkan kajian lapangan bertujuan untuk meningkatkan tingakat kritis yang “ definit” untuk suatu metode ekstraksi yang terpilih.

Pengelompokan hasil analisis  dikelompokan menjadi tiga kategori, yaitu rendah, medium dan tinggi. Dosis rekombinasi didasarkan pertimbangan jumlah pupuk yang diperlukan untuk manaikan  nilai analisis P-tanah menjadi kategori tinggi. Cate dan Nelson mengemukakan suatu metode plotting hasil relatif sebagai fingsi dari nalia-nali analisis tanah. Keuntungan dari metode ini ialah sejalan dengan keterbatasan  uji tanah, metode ini hanya memisahkan tanah-tanah yang resppon terhadap penambahan pupuk dari tanah yang tidak respon. Selain itu metode ini juga mampu menunjukan tanah-tanah yang tidak sesuai ddengan metode ekstraksi yang digunakan.

3.7 Interprestasi dan Rekomendasi

 

3.7.1. Filosofi Interprestasi Uji Tanah

Derajat ketelitian ditentukan oleh banyak faktor, termasuk pengetahuan tentang tanah, tingkat hasil yang diharapkan, taraf pengelolaan dan cuaca. Konsepsi tentang persentase hasil didasarkan pada gagasan bahwa hasil yang diharapkan (sebagai persentase dari hasil maksimum) diramalkan dari analisis P dan K tanah. Pupuk ditambahkan secukupnya untuk meningkatkan hasil hingga kondisi mencapai hasil relatif 95 % atau lebih. Konsepsi ini dapat diterapkan pada berbagai kondisi, tetapi interaksi-interaksi diantara unsur hara dapat menyebabkan penyimpanan.

 

3.7.3 Model-model Matematik

Tujuan dari interprestasi uji tanah ialah menetapkan banyaknya unsur hara harus diberikan untuk mencapai respon hasil tertentu di dalam kategori tanah-tanaman yang di perkirakan (Waugh et al 1973). Suatu kategori tanah-tanaman manyatakan bahwa interprestasi harus dibedakan antara tanah-tanah yang terletak di atas dan di bawah tingkat krisis dan juga harus dibedakan antara jenis tanaman.

Dalam kajian-kajian korelasi uji tanah, ada dua model matematik yang lazim digunakan yaitu (i) model kontinyu (kurvilinear) dan model diskontinyu (linear). Model-model kontinyu klasik berdasarkan pada hukum tambahan hasil yang semakin menurun, dimana suatu fungsi kurvi-linear yang cocok digunakan untuk mendekati data respons hasil. Model linear response and plateau telah dikembangkan oleh Waugh, Cate dan nelson. Model ini berdasarkan pada hukum minimum Liebig dan model korelasi Cate-nelson, model respon ini pada hakikatnya terdiri dari dua garis lurus. Garis pertama mencerminkan daerah respon tinggi dan garis kedua yang mengikutinya mencerminkan daerah tidak respon (garis horizontal). Hasil ambang adalah hasil tanaman yang tidak di beri pupuk, sedangkan hasil konstan menyatakan hasil tanaman dimana unsur hara tidak lagi menjadi faktor pembatas . hasil relatif adalah hasil ambang dibagi dengan hasil konstan. Dosis rekomendasi adalah hasil pupuk yang diperlukan untuk mencapai hasil konstan. Hasil ambang terakhir mencerminkan efek faktor pembatas genetik dan peubah lain.

 

3.7.3 Rekomendasi untuk berbagai tingkat hasil

Interprestasi hasil-hasil uji tanah melibatkan evaluasi ekonomi tentang hubungan antara nilai uji tanah dengan pupuk, akan tetapi pada kenyataannya respons potensial beragam dengan faktor tanah, cuaca dan kemampuan budidaya oleh petani. Rekomendasi pupuk bisa beragam sesuai dengan tingkat hasil yang diinginkan. Dosis rekomendasi pupuk N tergantung pada pola tanam sebelumnya dan sasaran hasil. Kalau teknologi dan praktek pengelolaan tanaman menjadi lebih baik dan intensif ekonomi meningkat, maka potensial hasil dan rekomendasi pupuk dapat ditingkatkan.

 

3.8 Tipe-tipe rekomendasi

Pada umumnya ada empat macam alternatif tindakan kalau tanah miskin P dan K

 

3.8.1 Pupuk dasar

Pemupak dengan maksud korektif dilakukan untuk meningkatkan ketersediaan unsur hara dalam tanah hingga taraf tertentu. Misalnya tambahan pupuk 10 Kg P2O5 akan meningkatkan nilai uji P1 sebesar satu Kg, dan penambahan sekitar 3 Kg K2O akan meningkatkan nilai uji tanah K sebesar atu Kg. Akan tetapi sering kali jumlah pupuk yang harus ditambahkan sangat beragam terbgantung pada tekstur tanah. Tanah di uji kembali dalam 2-3 tahun untuk melihat apakah koreksi pemupukan diperlukan lagi, kemudian penambahan dosis pupuk dilakukan untuk menggantikan kehilangan hara dari tanah melalui panen, erosi, pencucian dan fiksasi.

 

 

3.8.2. Pemupukan Musiman

Pupuk N, P dan K dapat ditambah kepada setiap musim tanam dalam sistem rotasi tanaman. Praktek seperti ini mungkin dapat mengakibatkan peningkatan ketersediaan hara dalam tanah atau paling tidak mempertahankan tiongkat ketersediaan unsur hara dalam tanah, pendekatan pemupukan seperti ini mungkin lebih sesuai kalau kapital petani terbatas, lahan yang di pupuk masih baru diusahakan, atau lahan sewaan. Hasil tanaman akan tidak terlalu tinggi, dan keuntungan perhektar lahan lebih rendah, tetapi keuntungan persatuan biaya akan lebih tinggi dibandingkan dengan metode pemupukan dasar.

 

3.8.3. Rotasi Tanaman

Dalam program pemupukan sistem rotasi tanaman harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Pupuk diberikan sebelum tanaman yang paling responsif dan menguntungkan.
  2. Pupuk fosfat di berikan di dekat tanaman.
  3. Tanaman hijauan pakan menyerap banyak kalium, sehingga pemupukan musiman diperlukan untuk mempertahankan hasil.
  4. Tanaman lebih respon terhadap tingkat kesuburan tanah yang tinggi daripada pemupukan langsung.

3.8.4  Sistem penggantian

Kalau ketersediaan P dan K tanah ditingkatkan hingga taraf yang dibutuhkan, maka rekomendasi pupuk selanjutnya dilakukan dengan tujuan untuk menggantikan kehilangan unsur hara sesuai dengan tingkat hasil yang diharapkan.

Konsekwensi dari strategi pemupukan yang bertumpu kepada penggantian unsur hara yang hilang adalah bahwa tanah harus di pantau secara periodik. Pemantauan ini dilakukan untuk menentukan apakah tingkat kesuburan tanah menurun atau meningkat.

 

v Nitrogen

Rekomendasi pemupukan nitrogen sangat tergantung pada banyak faktor termasuk jumlah nitrat dalam frofil tanah, jenis tanaman musim sebelumnya, sasaran hasil dan pemupukan yang dilakukan pada musim sebelumnya, kalau hasil potensi meningkat, kebutuhan nitrogen juga sangat meningkat karena unsur ini bersifat mobil.

 

v Metode reswep

Metode resep untuk menyusun rekomendasi pupuk pada hakikatnya didasrkan pada gagasan bahwa tanaman dapat hidup aman dengan memanfaatkan jumlah tertentu N, P, dan K yang terkandung dalam tanah, rabuk dan pupuk. Kalau unsur hara yang diperlukan untuk mencapai tingkat hasil tertentu dapat diketahui, maka jumlah tambahan lewat pupuk dan atau rabuk dapat diperhitungkan. Prinsip yang melandasi petode ini ialah mempormulasikan rekomendaasi pupuk yang sesuai dengan kebutuhan. Kebutuhan ini ditentukan oleh sistem rotasi tanaman, pengelolaan tanaman, analisis tanah dan tanaman yang akan di tanam.

 

 

 

DIAGNOSIS DEFISIENSI UNSUR HARA

Komentar yang dapat saya simpulkan yaitu :

      Sampling tanah meliputi :

  • Banyaknya sampel
  • Waku sampling
  • Kedalaman sampling
  • Penyiapan dan penyimpanagan sampel tanah
  • Frekuensi sampling tanah

      Analisis contoh tanah

Analisis tanah dilakukan untuk memantau perilakunya dalam tanah,kehilangan dari tanah dan mengestimasi kemampuan tanah untuk mnsuplai nitrogen bagi tanaman.

Gejala defisiensi unsur hara

Gejala ini di maksudkan untuk mewujudkan tanaman yng normal dari tanaman yang sedang tumbuh dan untuk menghindari suatu kejadian tanaman yang tidak normal yang di sebabkan kelebihan unsur hara tanaman.

  • Terjadinya gejala

Terjadinya gejala defisiensi  ini di sebabkan unsur hara yang tidak secara langsung dapat menimbulkan gejala.apabila terjadi kekurangan unsur hara maka proses-proses metabolisme tanaman tidak normal yang dapat disebut dengan “gejala”.dan apabila terjadinya suatu gejala defisiensi unsur hara ini mengakibatkan beberapa fungsi metabolik,fisiologis,dapat terganggu dan meninggalkan gejala-gejalanya.

  • Perhatian khusus

Dalam kasus hal seperti ini kita dapat sulit untuk membedakan antara gejala-gejala defisiensi unsur hara,dengan gangguan hama dan penyakit menyerupai defisiensi unsur hara.dalam al ini kita dapat melihat gejala defisiensi unsur hara hanya muncul setelah suplai unsur hara begitu rendah sehingga tanaman tidak dapat lagi berfungsi sebagiaman mestinya.

  • Kelaparan tersembunyi(hidden hunger)

Di sini di jelaskana tentang bagaimana tanaman sangat memerlukan unsur hara lebih banyak meskipun belum menunjkan tentang gejal defisiensi.

Dari jaminan terhadap kelaparan tersembunyi dapat di jelaskan :

Dari optimum fisiologis yaitu dari gejala-gejala yang di timbulkan secara fisiologis seperti terjadi defisiensi nitrogen atau menguningnya daun-daun pada tanaman dan dapat menurunkan kuantitas nitrogen,produksi klrofil akan di reduksi.dan di dalam optimum fisioogis ini dapat dikendalikn dengan pengendalian-pengendalian dengan perilaku sesuai dengan dosis yanag di butuhkan dalam menggunkanya.setelah terjadinya optimum fisiologis dan di ikuti dengan optimum ekonomis dalam hal ini apabila adnya gejala atau kelaaran yang tersembuny ini terjadi pasti akan membutuhkan biaya untuk mengendalikanya dan menjadikan tanaman yang hidup normal lagi.dan adanya gejala yang di timbulkan seperti kekurangan unsur hara pokok yang harus ada pada tanaman kadar unsur hara masih harus diatas zone defisiensi agar dapat menghasilaknan pertumbuhan dan hasil produksi tanaman yang paling menguntungkan.hal ini terjadi juga dalam pemberian pupuk yang di butuhakan pada tanaman unutuk mencapai hasil tanaman yang menguntungkan.

  • Waktu analisis

Bagian tanaman yang di gunakan untuk analisis jaringan tanaman

Tanaman

Nitrigen

Fosfor

Kalium

Jagung

Batang utama atau tulang daun

Tulang daun dekat tongkol

Helai atau tulang daun dekat tongkol

Kedelai

Tangkai daun bagian atas

Tangkai daun

 

Kentang

Batang atau tangkai daun

Tangkai daun bagian bawah

Tangkai daun

Sirih merah

 

 

 

Kelor

 

 

 

Mawar

 

 

 

asoka