Gambar

 

PRAKTIKUM 1       

Judul : Struktur benih dikotil dan monokotil

Latar Belakang

Perkecambahan merupakan tahap awal perkembangan suatu tumbuhan , khususnya tanaman berbiji. Tahap perkembangan ini disebut perkecambahan. Perkecambahan biji monokotil dan dikotil memiliki perbedaan. Baik dari segi struktur maupun  pertumbuhannya.

Pertumbuhan dan perkembangan pada pertumbuhan biji dimulai dengan perkecambahan. Perkecambahan  adalah munculnya plantula (tanaman kecil dari biji). Embrio yang merupakan calon individu baru terdapat di dalam biji. Jika suatu biji tanaman ditempatkan pada lingkungan yang menunjang dan memadai,biji tersebut akan berkecambah.

 

Tujuan Pratikum

  • mempelajari struktur benih dikotil dan monokotil

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Dikotil

Adapun yang dimaksud dengan biji keeping dua (dikotil) adalah tumbuhan yang apabila kita belah, pada biji itu akan terdapat dua keeping. Namun, ada kalanya antara keeping yang satu dengan yang lain tidak sama besarnya. Apabila tumbuhan mempunyai banyak dahan dan ranting, maka dapat dipastikan tumbuhan tersebut memiliki biji berkeping dua (dikotil). Tumbuhan biji berkeping dua memiliki jenis akar yang berbeda dengan tumbuhan biji berkeping satu (monokotil). Tumbuhan biji berkeping dua akan memiliki akar tunggang. Tumbuhan monokotil dikelompokkan menjadi 5 suku, yaitu:

  • Rumput-rumputan (Graminae), ex : jagung, padi
  • Pinang-pinangan (Palmae), ex : kelapa, sagu
  • Pisang-pisangan (Musaceae), ex : pisang ambon, raja
  • Anggrek-angrekan (Orchidaceae), ex : anggrek, vanili
  • Jahe-jahean (Zingiberaceae), ex : jahe, kunyit

 

Pegertian Monokotil 

Monokotil adalah tumbuhan berkeping biji 1…seperti pada jagung,padi,dll……Ciri monokotil, yaitu (1) tulang daun umumnya sejajar (2) batang tak berkambium (3) akar serabut (4) bagian-bagian bunga kelipatan 3.Tumbuhan monokotil dikelompokan menjadi 5 suku, :Rumut-rumputan (Graminae), ex : jagung, padiPinang-pinangan (Palmae), ex : kelapa, saguPisang-pisangan (Musaceae), ex : pisang ambon, rajaAnggrek-angrekan (Orchidaceae), ex : anggrek, vaniliJahe-jahean (Zingiberaceae), ex : jahe, kunyit. Tumbuhan dikotil dikelompokkan menjadi 5 suku, yaitu:

  • Jarak-jarakan (Euphorbiaceae), ex : jarak, ubi, karet
  • Polong-polongan (Leguminoceae), ex : pete, kacang
  • Terung-terungan (Solanaceae), ex : terong, cabe, tomat
  • Jambu-jambuan (Myrtaceae), ex : jambu biji, jambu air
  • Komposite (Compositae), ex : bunga matahari

 

Perbedaan ciri pada tumbuhan monokotil dan dikotil berdasarkan ciri fisik pembeda yang dimiliki :

1. Bentuk akar
– Monokotil : Memiliki sistem akar serabut
– Dikotil : Memiliki sistem akar tunggang

2. Bentuk sumsum atau pola tulang daun
– Monokotil : Melengkung atau sejajar
– Dikotil : Menyirip atau menjari

3. Kaliptrogen / tudung akar
– Monokotil : Ada tudung akar / kaliptra
– Dikotil : Tidak terdapat ada tudung akar

4. Jumlah keping biji atau kotiledon
– Monokotil : satu buah keping biji saja
– Dikotil : Ada dua buah keping biji

5. Kandungan akar dan batang
– Monokotil : Tidak terdapat kambium
– Dikotil : Ada kambium

6. Jumlah kelopak bunga
– Monokotil : Umumnya adalah kelipatan tiga
– Dikotil : Biasanya kelipatan empat atau lima

7. Pelindung akar dan batang lembaga
– Monokotil : Ditemukan batang lembaga / koleoptil dan akar lembaga / keleorhiza
– Dikotil : Tidak ada pelindung koleorhiza maupun koleoptil

8. Pertumbuhan akar dan batang
– Monokotil : Tidak bisa tumbuh berkembang menjadi membesar
– Dikotil : Bisa tumbuh berkembang menjadi membesar

 

Pada umumnya biji terdiri atas bagian-bagian seperti berikut.
a. Kulit biji
b. Tali pusar
c. Inti biji atau isi biji

Kulit biji merupakan bagian terluar biji dan berasal dari selaput bakal biji.Pada umumnya, kulit biji dari tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) terdiri atas dua lapisan sebagai berikut.

 

 

 

 

Berdasarkan posisi kotiledon dalam proses perkecambahan dikenal perkecambahan hipogeal dan epigeal. Hipogeal adalah pertumbuhan memanjang dari epikotil yang meyebabkan plumula keluar menembus kulit biji dan muncul di atas tanah.Kotiledon relatif tetap posisinya.Contoh tipe ini terjadi pada kacang kapri dan jagung.Pada epigeal hipokotillah yang tumbuh memanjang, akibatnya kotiledon dan plumula terdorong ke permukaan tanah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

METODE PRATIKUM

 

Waktu dan Tempat

 pelaksanaan pratikum kali ini di lakukan pada :

            Tempat        :di lab teknologi benih pertanian fakultas pertanian universitas jambi

            Hari/tanggal : kamis/4-april -2013

            Waktu         : 12.30 wib-13.30

 

Bahan dan Alat

A. Bahan

      benih jagung

      benih kedelai

      benih kacang tanah

      benih padi

      buah tomat

      buah cabe

      buah coklat

      buah pinang

      buah mentimun

B.Alat

      pisau cater/silet

      tissue gulung

      kamera

      alat tulis

 

Cara Kerja

           

  • ambil benih yang akan di amati seperti jagung,kedelai,kacang tanah,dan padi
  • kemudian benih di belah secara melintang dan membujur
  • kemudian di lihat bagian-bagian dalam benih dan di dokumentasikan
  • ambil buah dan biji yang akan di amati
  • kemudian buah dan biji di buat irisan melintnag dan membujur
  • kemudian buah dan biji di amati struktur dari bentuk morfologi dan di dokumentasikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Gamabar benih jagung, padi, kacang tanah dan kedelai

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pembahasan

Pada struktur buah monocotyl seperti : jagung dan padi kulit buahnya dapat terlihat secara terpisah – pisah dan dapat dibedakan secara jelas, sedangkan pada struktur buah dikotil memiliki system perkecambahan perkepingan dua, jadi letak pericarp nya lebih spesifik lagi dan sulit untuk dibedakan secara visual.

Pada benih jagung terdapat seed coat, endosperm, koleoptil, plumule, radicle, coleorhiza dan embrio. Pada serealia dan rumputan monocot seperti embrio terdiri atas kotiledon (skutellum) dan embryonic axis.

Embryonic axis terdiri atas koleoptile, plumule, seminal roots (seperti jagung), radicle dan koleorhiza. Pada beberapa species yang termasuk serealia dan rumputan monocot seperti padi, gandum, sorgum, oats dan barley tidak terdapat seminal roots dan endosperm merupakan bagian yang terbesar. Endosperm dan embrio dibungkus oleh kulit biji.

 

PERTANYAAN

Dilihat dari struktur buahnya,apa perbedaan yang prinsip antara struktur benih dicotyil dan monokotil?

“Pada buah dikotil memiliki struktur benih pada saat perkecambahan ialah berkeping dua, sedangkan pada monocotyl ia memiliki satu keeping lembaga dan pada bagain buah nya terdapat serabut sebagai penguhubung lapisan dalam sehingga memudahkan kita untuk membedakan antar lapisan baik itu mesocarp, endocarp, maupun eksocarpnya.”

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://www.wikipedia.com./perkecambahan Perbedaan-monokotil-dan-dikotil.html

Pujiyanto, Sri.2008. Menjelajah Dunia Biologi 3. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

Sudjadi, Bagod. 2005. Biologi, Sains dalam Kehidupan 3A. Surabaya: Yudhistira.

Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. Malang: Fakultas Pertanian UNIBRAW

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM  II

Judul  : Struktur biji dan buah

Latar Belakang

Buah dan biji adalah bagian dari organ reproduksi tumbuhan tingkat tinggi. Pada hakekatnya keberadaan buah hanya dapat dijumpai pada tumbuhan yang memiliki fungsi dan tujuan yang sama yaitu untuk menjamin kehindupannya. Tumbuhan berbiji terbagi menjadi dua kelas yakni angiospermae (tumbuhan berbiji terbuka) dan gymnospermae (tumbuhan berbijitertutup).Angiospermae terdiri dari monokotiledon dan dikotiledon.

Struktur biji dikotil dan monokotil memiliki struktur biji yang berbedadengan fungsinya masing-masing.Struktur biji erat kaitannya dengan cadangan makanan karenaakumulasi cadangan makanan berhubungan dengan tempat dimanacadangan tersebut akan disimpan. Derajat dan macam variasi komponen dalam perkembangannya sama atau tidak semua tergantung denganbeberapa struktur dasar yang berbeda untuk masing-masing tipe biji.Pengetahuan tentang struktur biji akan memberikan pemahaman yang baik tentang perbedaan struktur biji antara tanaman monokotil dan dikotil.Maka dari itu, diadakan praktikum mengenai struktur biji.

Buah adalah suatu hasil dari proses akhir yang mulai dari penyerbukan atau persarian. Pada hakikatnya buah hanya dibedakan kedalam 2 jenis, yang pertama adalah buah semu dan yang kedua adalah buah sejati. Tak lepas dari penamaan buah tersebut menjadi buah sejati dan buah semu dapat dilihat dari struktur buahdan bagian-bagian buah yang ada pada buah.

Misalnya dikatakan buah sejati atau buah sebenarnya adalah ketika bentuk buah tidak terhalangi oleh bagian-bagianbuah yang ada, pengecualian tetap ada, seperti pada buah jambu mete terlihat tangkai bunga yang membesar seperti buah, padahal bagian yang membesar itu bukan buah tapi tangkai buah.. Dikatakan buah semu karena terlihat bagian-bagian yang menghalangi ataumembungkus buah yang sebenarnya, seperti pada buah ciplukan bagian buahnyaterhalang oleh kelopak bunga yang ikut tumbuh dalam proses pembuahan dankemudian tumbuh dan membungkus bagian buah yang sebenarnya .Selain itu, ada juga pengkhususan-pengkhususan pada buah, seperti buahsemu dibagi lagi menjadi buah semu tunggal, buah semu ganda, dan buah semu majemuk. pada buah semu kadangkala bentuknya dapat menipu dan membuat keliru khususnya bagi orang-orang awam yang tidak mengenal bagian mana yangdisebut buah pada buah semu, kadang kita juga suka tertipu oleh bentuk buah.

Teknologi benih adalah suatu ilmu pengetahuan mengenai cara-cara untuk dapat memperbaiki sifat- sifat genetic dan fisik dari benih yang mencakup kegiatan seperti pengembangan varietas, penilaian dan pelepasan varietas, produksi benih, pengolahan, penyimpanan, serta sertifikasi benih. Benih memiliki tipe perkecambahan yang berbeda-beda. Terdapat dua tipe perkecambahan yaitu epigeal dan hipogeal. Pada tanaman dikotil kebanyakan memiliki tipe perkecambahan epigeal sedangkan tanaman monokotil mempunyaitipe perkecambahan hipogeal.

 

Tujuan           : Untuk mempelajari struktur biji dan buah.  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TINJAUAN PUSTAKA

Buah adalah organ pada tumbuhan berbunga yang merupakan perkembangan lanjutan dari bakal buah (ovarium). Buah biasanya membungkus dan melindungi biji. Aneka rupa dan bentuk buah tidak terlepas kaitannya dengan fungsi utama buah, yakni sebagai pemencar biji tumbuhan.

Pengertian buah dalam lingkup pertanian (hortikultura) atau pangan adalah lebih luas daripada pengertian buah di atas dan biasanya disebut sebagai buah-buahan. Buah dalam pengertian ini tidak terbatas yang terbentuk dari bakal buah, melainkan dapat pula berasal dari perkembangan organ yang lain. Karena itu, untuk membedakannya, buah yang sesuai menurut pengertian botani biasa disebut buah sejati.

Dalam pandangan botani, buah adalah sebagaimana tercantum pada paragraf pertama di atas. Pada banyak spesies tumbuhan, yang disebut buah mencakup bakal buah yang telah berkembang lanjut beserta dengan jaringan yang mengelilinginya. Bagi tumbuhan berbunga, buah adalah alat untuk menyebar luaskan biji-bijinya; adanya biji di dalam dapat mengindikasikan bahwa organ tersebut adalah buah, meski ada pula biji yang tidak berasal dari buah.

Dalam batasan tersebut, variasi buah bisa sangat besar, mencakup buah mangga, buah apel, buah tomat, cabai, dan lain-lain. Namun juga bulir (kariopsis) padi, ‘biji’ (juga merupakan bulir!) jagung, atau polong kacang tanah. Sementara, dengan batasan ini, buah jambu monyet atau buah nangka tidak termasuk sebagai buah sejati.

Buah-buah itu sedemikian beragam, sehingga sukarlah rasanya untuk menyusun suatu skema pengelompokan yang dapat mencakup semua macam buah yang telah dikenal orang. Belum lagi adanya kekeliruan-kekeliruan yang mempertukarkan pengertian biji dan buah (misal: ‘biji’ jagung, yang sesungguhnya adalah buah secara botani).

Baik buah sejati (yang merupakan perkembangan dari bakal buah) maupun buah semu, dapat dibedakan atas tiga tipe dasar buah, yakni:

  • buah tunggal, yakni buah yang terbentuk dari satu bunga dengan satu bakal buah, yang berisi satu biji atau lebih.
  • buah ganda, yakni jika buah terbentuk dari satu bunga yang memiliki banyak bakal buah. Masing-masing bakal buah tumbuh menjadi buah tersendiri, lepas-lepas, namun akhirnya menjadi kumpulan buah yang nampak seperti satu buah. Contohnya adalah sirsak (Annona).
  • buah majemuk, yakni jika buah terbentuk dari bunga majemuk. Dengan demikian buah ini berasal dari banyak bunga (dan banyak bakal buah), yang pada akhirnya seakan-akan menjadi satu buah saja. Contohnya adalah nanas (Ananas), bunga matahari (Helianthus).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat  

Praktikum Teknologi Benih ini dilaksanakan pada :

Hari                :Kamis, 4 april 2013,pukul 13:00 s/d 14:30 wib

Tempat            :Di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian universitas jambi.

Alat dan Bahan        

 Alat                 : Pisau Silet, LUP, Cutter

 Bahan             : Buah coklat, timun, jagung, padi, kedelai, kacang tanah, tomat.

Cara Kerja  : Gambarkan pandangan luar dan pandangan dalam dengan membuat irisan melintang atau membujur dari buah-buah serta biji yang diamati. Kemudian beri nama bagian-bagiannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar buah coklat, mentimun, jagung, padi,kedelai, kacang tanah, dan pinang

 

 

 

 

 

PERTANYAAN

Kelompokkanlah buah-buah yang saudara amati, berdasarkan type buahnya !

      Jawaban    :

  1. Buah basah :mentimun, coklat, tomat,jagung
  2. Buah kering :kedelai,kacang tanah dll

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM III

Judul : Tipe Pemunculan Bibit dan Struktur Bibit

Latar Belakang

Benih disni adalah biji tanaman yang digunakan untuk tujuan pertanaman. Sehingga masalah teknologi benih berada dalam ruang lingkup agronomi. Agronomi sendiri diartikan sebagain suatu gugus ilmu pertanian yang mempelajari pengelolaan lapang produksi dengan segenap unsur alam (iklim, tanah, air), tanaman, hewan, dan manusia untuk mencapai produksi tanaman secara maksimal. Berarti benih yang baik disini merupakan salah satu sarana untuk mendapatkan produksi yang setinggi-tingginya.Benih adalah simbol dari suatu permulaan, ia merupakan inti dari kehidupan di alam semesta dan yang paling penting adalah kegunaannya sebagai penyambung dari kehidupan tanaman. Untuk itu sangat dibutuhkan benih-benih yang berkualitas. Berbicara mengenai kualitas benih, istilah ini dapat ditafsirkan secara umum bahwa kualitas benih harus mewakili penampilan kemampuan pada faktor-faktor seperti kebenaran varietas, presentase perkecambahan, presentase biji rerumputan, kekuatan tumbuh, bebas dari hama dan penyakit serta kontaminan-kontaminan lainnya.

Perkecambahan adalah munculnya plantula (tanaman kecil) dari dalam biji yang merupakan hasil pertumbuhan dan perkembangan embrio. Pada perkembangan embrio saat berkecambah, bagian plumula tumbuh dan berkembang menjadi batang, sedangkan radikula menjadi akar. Menurut Kamil., (1982) perkecambahan merupakan pengaktifan kembali aktivitas pertumbuhan embryonic axis didalam biji yang terhenti untuk kemudian membentuk bibit. Berdasarkan letak kotiledon pada saat perkecambahan dikenal dua tipe perkecambahan yaitu hypogeal dan epigeal.

Tujuan Pratikum

      Melihat tipe pemunculan bibit yang epigeal dan hypogeal.

      Mengetahui struktur-struktur penting dari bibit.

TINJAUAN PUSTAKA

Perkecambahan adalah munculnya plantula (tanaman kecil) dari dalam biji yang merupakan hasil pertumbuhan dan perkembangan embrio. Pada perkembangan embrio saat berkecambah, bagian plumula tumbuh dan berkembang menjadi batang, sedangkan radikula menjadi akar.

Tipe perkecambahan ada dua macam, tipe itu sebagai berikut.

  1. Tipe perkecambahan di atas tanah (Epigeal)
    Tipe ini terjadi, jika plumula dan kotiledon muncul di atas permukaan tanah
  2.  (perhatikan Gambar 1.2)
    Contoh: perkecambahan kacang hijau (Vigna radiata)

 

 

b. Tipe perkecambahan di bawah tanah (Hipogeal)
Tipe ini terjadi, jika plumula muncul ke permukaan tanah sedangkan kotiledon tinggal di dalam tanah (perhatikan Gambar 1.3)
Contoh: perkecambahan kacang kapri (Pisum sativum), Jagung (Zea mays)

 

Makanan untuk pertumbuhan embrio diperoleh daricadangan makanan karena belum terbentuknya klorofil yang diperlukan dalam fotosintesis. Pada tumbuhan dikotil makana diperoleh dari kotiledon, sedangkan pada tumbuhan monokotil diperoleh dari endospe

 

 

METODE PRATIKUM

Waktu dan Tempat

Praktikum dilaksanakanpadahari kamis,18-april-2013, Pukul 13.00 WIB – selesai. Bertempat di Laboratoriumteknologi benih Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

 

Bahan dan Alat

  • Bahan
  1. Benih padi
  2. Benih jagung
  3. Benih kedelai
  4. Benih padi

 

  • Alat
  1. Pot
  2. Tanah
  3. Pasir
  4. Cawan
  5. Oven
  6. Moisture tester
  7. Timbangan analitik
  8. Alat-alat tulis

Cara Kerja

  1. Amati kapan masing-masing bibit muncul di atas permukaan medium (hst)dan tentukan struktur apa yang pertama kali muncul .
  2. Amati struktur-struktur penting dari masing-masing bnibit.
  3. Mana bibit yang bertype hypogeal dan epigeal serta gamabar dan bagian-bagianya
  4. Perbedaan biji,benih,buah dan serta kecambah.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

 

 

Terdapat 2 tipe perkecambahan yaitu hypogeal dan epygeal. Pada perkecambahan hypogeal terjadi pertumbuhan memanjang dari plumula yang menyebabkan plumula keluar menembus kulit biji dan muncul diatas tanah sedangkan kotiledon tetap berada di dalam tanah, contohnya jagung. Biji jagung bertipe biji hipokotil dan komponen bijinya adalah seminal root, biji, coleoptil, radikel, leaf, dan adventif root. Sedangkan biji kedelai bertipe biji epikotil dan komponen biji kedelai terdiri dari cotyledon, plimule, radikel, epokotil, hipokotil, primary root, secondary root serta leaf.

Epigeal
Pada perkecambahan ini hipokotil tumbuh memanjang akibatnya kotiledon dan plumula terdorong ke permukaan tanah, sehingga kotiledon berada diatas tanah, contohnya kacang tanah

KESIMPULAN

Perkecambahan biji dapat dibekan menjadi 2, yaitu :

  1. Epigeal

            Perkecambahan epigeal adalah apabila terjadi pembentangan ruas batang di bawah daun lembaga atau hipokotil sehingga mengakibatkan daun lembaga dan kotiledon terangkat ke atas tanah, misalnya pada kacang hijau (Phaseoulus radiatus).

  1. Hipogeal

            Perkecambahan hipogeal adalah apabila terjadi pembentangan ruas batang teratas (epikotil) sehingga daun lembaga ikut tertarik ke atas tanah, tetapi kotiledon tetap di bawah tanah. Misalnya pada biji kacang kapri (Pisum sativum).Dan yang termasuk tanaman epigeal yaitu jagung, padi dan yang termasuk tanaman hypogeal yaitu kacang tanah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bass N. Louis. 1994. Prinsip dan Praktek Penympangan Benih. PT Raja Grafirdo Persada. Jakarta.

Kartasapoetra G, Ance. 2003. Teknologi Benih Pengolahan Benih dan Tuntunan Praktikum. PT Rineka Cipta. Jakarta.

Pramono, Eko. 2009. Penuntun Praktikum Teknologi Benih. Bandarlampung. Universitas Lampung.
Sadjad, Sjamsoe’oed. 1999. Parameter Pengujian Vigor Benih. Grasindo. Jakarta.

tolong kasih komentarnya yaaa.. sama jangan lupa join site ini😀 salam blogger😀 GOMAWOYO

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM IV

Judul : Pengukuran Kadar Air Benih

Latar Belakang

Seperti yang diketahui pada umumnya, benih merupakan material yang higroskopis, yang memiliki susunan yang komples dan heterogen. Air merupakan bagian yang fundamental terdapat demikian rupa dalam benih, artinya terdapat di setiap bagian dalam benih. Kadar air benih tergantung pada lembab relative dan temperatur. Kadar air benih adalah jumlah air yang terkandung dalam benih. Pengukurannya dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara langsung atau tidak langsung. Pengukuran dengan cara langsung yaitu dengan menguapkan seluruh air yang terkandung oleh benih. Penguapan itu biasa dilakukan mengunakan oven. kadar air adalah selisih antar bobot benih sebelum dikeringkan (Bo) dan bobot benih setelah dikeringkan semua air nya (B1).

Pengukuran kadar air benih dengan cara tak langsung adalah pengukuran kadar air menggunakan alat pengukur kadar air elektronik, misalnya dengan moister terster tipe steinlet, dengan alat pengukur kadar air, kita mengetahui kadar air benih tidak langsung mengukur jumlah air yang terkandung benih tetapi melalui nilai setaraan antara daya hantar listrik benih akibat adanya air didalamnya. Jika alat ukurnya bekerjadengan baik, maka hasil pengukuran kadar air dari kedua cara itu tidak berbeda.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengujian kadar air benih ini adalah contoh kerja yang digunakan merupakan benih yang diambil dan ditempatkan dalam wadah yang kedap udara, sehingga kadar airnya tidak berubah. Apabila contoh kerja terkontaminasi udara maka kemungkinan besar kadar air benih yang diuji bukan merupakan kadar air yang sebenarnya.

Tujuan

Mempelajari dua cara pengukuran kadar air benih dengan metode langsung dan tidak langsung

TINJAUAN PUSTAKA

Pada hakekatnya vigor benih harus relevan dengan tingkat produksi, artinya dari benih yang bervigor tinggi akan dapat dicapai tingkat produksi yang tinggi. Vigor benih yang tinggi dicirikan antara lain tahan disimpan lama, tahan terhadap serangan hama penyakit, cepat dan merata tumbuhnya serta mampu menghasilkan tanaman dewasa yang normal dan berproduksi baik dalam keadaan lingkungan tumbuh yang sub optimal. Pada umumnya uji vigor benih hanya sampai pada tahapan bibit. Karena terlalu sulit dan mahal untuk mengamati seluruh lingkaran hidup tanaman. Oleh karena itu digunakanlah kaidah korelasi misal dengan mengukur kecepatan berkecambah sebagai parameter vigor, karena diketahui ada korelasi antara kecepatan berkecambah dengan tinggi rendahnya produksi tanaman. Rendahnya vigor pada benih dapat disebabkan oleh beberapa hal antara lain faktor genetis, fisiologis, morfologis, sitologis, mekanis dan mikrobia (Sutopo, 1984).

Komposisi kimia benih mempengaruhi kadar air keseimbangan benih dengan lingkungannya. Jumlah kelembaban benih pada saat keseimbangan berkaitan langsung dengan kimia benih (Sadjad, 1993).

Penentuan kadar air benih dan suatu kelompok benih sangat penting untuk dilakukan karena laju kemunduran suatu benih dipengaruhi pula oleh kadar airnya (Sutopo, 1984).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengujian kadar air benih ini adalah contoh kerja yang digunakan merupakan benih yang diambil dan ditempatkan dalam wadah yang kedap udara, karena itu penetapan kadar air, jika contoh kerja yang digunakan telah terkontaminasi udara luar maka kemungkinan besar kadar air benih yang diuji bukan merupakan kadar air benih yang sebenarnya karena telah mengalami perubahan akibat kontaminasi udara dari lingkungan (Anonymous, 2011).

Umumnya pada tanaman legume dan padi-padian, ovule atau tepatnya embryosac yang sedang mengalami proses fertilisasi mempunyai kadar air kira-kira 80%. Dalam berapa hari kemudian kadar air ini meningkat sampai kira-kira 85%, dan pelan-pelan menurun secara teratur (Kamil, 1986).

Benih merupakan material yang higroskopis, memiliki susunan yang kompleks dan heterogen. Air merupakan bagian yang fundamental terdapat demikian rupa dalam benih, artinya terdapat di setiap bagian benih. Kadar air benih karena keadaan yang higroskopis itu tergantung pada lembab relative dan temperature. Apabila tekanan uap dalam benih ternyata lebih besar daripada tekanan udara disekitarnya, maka uap air akan menerobos dan keluar dari dalam benih, dan begitu pula sebaliknya. Apabila tekanan uap di dalam benih sama kuatnya dengan tekanan uap di luar benih, maka dalam keadaan demikian tidak akan terjadi pergerakan. Kondisi ini dikatakan kadar air yang seimbang ( Katrasapoetra, 1986).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat

Praktikum Teknologi Benih ini dilaksanakan pada :

Hari                : Kamis 18 april 2013,pukul 13:00 s/d 14:30 wib.

Tempat            : Di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

Alat dan Bahan        

 Alat                 : Cawan, oven, moisture tester, timbangan analitik, OGA digital model TD-5, alat tulis dll.

 Bahan             : Benih kedelai

Cara Kerja  : 1. Kadar air benih diukur dengan alat pengukur kadar air benih, yaitu moisture tester dan OGA digital TD-5. Sebelum kadar air benih ditentukan terlebih dahulu alat dikalibrasikan. Berat contoh kerja disesuaikan dengan kebutuhan alat yang digunakan, bck diambil secara random. Setelah itu catat hasil pengamatannya. Percobaan diulang 3 kali.

   2. Ambil 25-50 biji kedelai secara acak. Kemudian tentukan kadar airnya dengan oven pada suhu 105o C selama 1 x 24 jam. Percobaan diulang tiga kali. Untuk mengukur kadar air benih dengan metoda oven digunakan rumus sebagai berikut :

Berat basah   –   berat kering

                                                                 X 100 %

              Berat kering

Keterangan : Berat basah adalah berat sampel sebelum dioven.

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Metode

Kadar Air Benih

Keterangan

Jenis Tanaman

U1

Tidak Langsung

Kel 1

Kacang Tanah

8,1 %

 

Jagung

22,9 %

Padi

9,8 %

Kedelai

12,8 %

Tidak Lansung

Kel 2

Kacang Tanah

8,1 %

 

Jagung

22,6 %

Padi

9,6 %

Kedelai

12,5 %

Tidak Langsung

Kel 3

Kacang Tanah

8,2 %

 

Jagung

20,3 %

Padi

9,5 %

Kedelai

12,1 %

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Dari hasil dan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa untuk kedelai dengan varietas Anjasmoro yang diperoleh dari Bapak Dimas tersebut memiliki kadar air 19,8 %. Benih murni yang terdapat dalam satu kantong benih yang diperoleh adalah 98,78%. Kotoran benih hanya 1 gram atau senilai 0,25 % dan tidak ada benih varietas lain maupun benih rumputan yang dapat mengurangi kemurnian benih.

PERTANYAAN

1. Isilah tabel dibawah ini berdasarkan tabel pengamatan saudara!

2. berikan komentar saudara berdasarkan data yang saudara peroleh dari masing-masing metode!

3. mana metode langsung atau tidak langsung pada pelaksanaan praktikum Ini.

4. metode mana yang paling baik menurut saudara, berikan alasannya!

JAWABAN :

No 1 & 2 pada hasil dan pembahasan

3. Metode langsung adalah metode dengan menggunakan alat pengukur kadar air yaitu Grain Moesture, sedangkan secara tidak langsung mengunakan oven.

4. Metode yang paling baik dalam mengetahui kadar air suatu benih, yang paling baik adalah metode secara langsung, yaitu dengan mengunakan Alat pengukur kadar air, yaitu Grain moesture. Dengan mengunakan alat ini keta bisa mengetahui secara tepat kadar air benih yang kita ukur tanpa adanya kesalahan seperti dalam pengukuran secara tidak langsung. Dan juga metode ini lebih praktis dibandingkan dengan metode secara tidak langsung

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2011. Pengujian Kadar Air Benih. (http//wikipedia.com). Diakses pada Kamis, 03 November 2011, pukul 18:38).

Kamil, J. 1986. Teknologi Benih. Padang : Angkasaraya. Kartasapoetra, Ance G. 1986. Teknologi Benih, Pengolahan Benih, dan Tuntunan Praktikum. Jakarta :PT Rineka Cipta.

Sadjad, Sjamso’oed. 1993. Dari Benih Kepada Benih. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Sutopo, Lita. 1984. Teknologi Benih. Jakarta : CV Rajawali Pers.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM V

Judul : Pengujian Kemurnian Benih

Latar Belakang

            Benih murni merupakan salah satu komponen dalam pengujian benih sangat penting dalam menghasilkan benih yang berkualitas tinggi. Pada pengujian daya berkecambah, benih yang diuji diambil dari fraksi benih murni.Benih murni yang merupakan salah satu komponen dalam pengujian benih, sangat penting dalam menghasilkan benih yang berkualitas tinggi.Pada pengujian daya berkecambah, benih yang diuji diambil dari fraksi benih murni.Dengan demikian hasil pengujian kemurnian benih dan daya kecambah benih mempengaruhi nilai benih untuk tujuan pertanaman. Pengujian kemurnian digunakan untuk mengetahui komposisi contoh kerja, kemurnian, dan identitasnya yang akan mencerminkan komposisi lot benih yang didasarkan pada berat komponen pengujian.

 

Tujuan Pratikum

  1. Untuk menentukan komposisi contoh kerja benih yang di uji.
  2. Untuk mengetahui identitas  macam spesies benih dan bagian-bagian kotoran benih dalam contoh kerja benih yang di uji.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TINJAUAN PUSTAKA

 

            Pengujian kemurnian benih merupakan kegiatan-kegiatan untuk menelaah tentang kepositifan fisik komponen-komponen benih termasuk persentase berat dari benih murni (pure seed), benih tanaman lain, benih varietas lain, biji-bijian herba (weed seed), dan kotoran-kotoran pada masa benih. (Kartasapoetra, Ance. 2003).

Pengujian benih merupakan metode untuk menentukan nilai pertanaman di lapangan. Oleh karena itu, komponen-komponen mutu benih yang menunjukan korelasi dengan nilai pertanaman benih di lapang harus dievaluasi dalam pengujian. Dalam pengujian benih mengacu dari ISTA, dan beberapa penyesuaian telah diambil untuk mempertimbangkan kebutuhan khusus (ukuran, struktur, pola perkecambahan) jenis-jenis yang dibahas di dalam petunjuk ini. Beberapa penyesuaian juga telah dibuat untuk menyederhanakan prosedur pengujian benih. Pengujian benih mencakup pengujian mutu fisik fisiologi benih. Petunjuk ini menjelaskan bagaimana mempersiapkan contoh yang mewakili lot benih untuk keperluan pengujian, dan bagaimana melakukan pengujian benih, salah satunya yaitu analisis kemurnian.

Tujuan analisis kemurnian adalah untuk menentukan komposisi benih murni, benih lain dan kotoran dari contoh benih yang mewakili lot benih. Untuk analisis kemurnian benih, maka contoh uji dipisahkan menjadi 3 komponen sebagai berikut :

a)                   Benih murni, adalah segala macam biji-bijian yang merupakan jenis/ spesies yang sedang diuji. Yang termasuk benihmurni diantaranya adalah :

–                      Benih masak utuh

–                      Benih yang berukuran kecil, mengkerut, tidak masak

–                      Benih yang telah berkecambah sebelum diuji

–                     Pecahan/ potongan benih yang berukuran lebih dari separuh benih yang sesungguhnya, asalkan dapat dipastikan bahwa pecahan benih tersebut termasuk kedalam spesies yang dimaksud

–                      Biji yang terserang penyakit dan bentuknya masih dapat dikenali

b)                  Benih tanaman lain, adalah jenis/ spesies lain yang ikut tercampur dalam contoh dan tidak dimaksudkan untuk diuji.

c)                   Kotoran benih, adalah benih dan bagian dari benih yang ikut terbawa dalam contoh. Yang termasuk kedalam kotoran benih adalah:

–                      Benih dan bagian benih

  • Benih tanpa kulit benih
  • Benih yang terlihat bukan benih sejati
  • Bijihampa tanpa lembaga pecahan benih ≤ 0,5 ukuran normal
  • Cangkang benih
  • Kulit benih

–                      Bahan lain

  • Sekam, pasir, partikel tanah, jerami, ranting, daun, tangkai, dll.

Dalam pengambilan contoh kerja untuk kemurnian benih ada dua metode yang dapat dilakukan, yaitu:

a)      Secara duplo, adalah pengambilan contoh kerja yang dilakukan dua kali.

b)      Secara simplo, adalah pengambilan contoh kerja yang dilakukan satu kali.

Setelah dilakukan pengabilan contoh kerja maka dilakukan penimbangan untuk mengetahui berat awal benih sebelum dilakukan pengujian kemurnian. Tahap selanjutnya adalah analisis kemurnian, setiap benih diidentifikasi satu persatu secara visual bedasarkan penampakan morfologi. Semua benih tanaman lain dan kotoran benih dipisahkan. Setelah itu dilakukan penimbangan pada setiap komponen tersebut.

METODE PRATIKUM

Tempat dan Waktu

Praktikum dilaksnakan pada hari kamis, 11-april-2013, Pukul 13.00 WIB – selesai. Bertempat di Laboratorium teknologi benih Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

 

Alat dan Bahan

      Alat

  1. Timbangan analitik
  2. Kantong plastik kecil/besar
  3. Meja analisis
  4. Alat tulis/label nama

 

      Bahan

  1. Benih kedelai
  2. Benih kacang tanah
  3. Benih padi
  4. Benih jagung

 

Cara Kerja

  1. Timbang contoh kerja seberat 500 gram
  2. Letakan contoh kerja tersebut di atas meja analisis yang di lapisi dengan plastik.
  3. Tentukan (pisahkan) komponen-komponen sebagai berikut :
    1. Berat murni (pure seed),BM dalam %
    2. Kotoran benih (inert matter)Kbdalam %
    3. Benih tanaman lain?varietas lain (other crop seed ),BL dalam %.
    4. Benih rerumpun /gulma (weed seed),Br dalam %.

4.timbang masing-masing komponen dan tentukan komponen dan tentukan persentasenya.pengamtan di buatdalam bentuk tabel.agar hasil tidak tercecer,maka hasil pemisahan tersebut di letakan didalam kantong plastikkecil.

  1. hasil 1; BM =…………….%

KB =…………….%

BL =…………….%

BR =…………….%

Berat komponen setelah di timbang hendaknya tidak berselisih  lebih dari 1% dengan berat awal ,seandainya terjadi selisih lebih nbesar 1%pengujian harus di ulang lagi.

Perhitungan :karena bck > 25 gram,maka cara menghitung persentase komponen-komponen tersebut sebagai berikut :

  1. Persentase berat dari masing-masing komponen (kecuali berat benih murni)di hitung terhadap berat asli contoh kerja.
  2. Komponen benih murni di hitung dengan mengurangi angka 100%dengan jumlah %berat -3 komponen lainya.

A / bck x 100%

 

A= berat komponen

Bck =berat contoh kerja

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pengamatan

           

Nama benih

Benih kedelai

Benih jagung

Benih kacang tanah

Benih padi

Berat keseluruhan

500 grm

500 gram

500 grm

500 grm

Berat murni

440 grm

488 grm

410 grm

486 grm

Berat kotor

50 grm

12 grm

90 grm

15 grm

 

Pembahasan

            Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan mengenai pengujian kemurnian benih yang mana disini kita melakukan pengamatan sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan.Didalam praktikum ini kita melakukan pekerjaan memisahkan benih yang mana nantinya akan didapatkan kemurnian benih, disini ada 3 hal yang dilakukan untuk mengetahui mutu benih murni diantaranya, penimbangan bobot awal dari macam benih padi, jagung,kedelai,dan kacang tanah (benih murni), bobot bersih, dan berat kotoran. Dari ketiga hal yang dilakukan ini, yang nantinya kita harapkan untuk mendapatkan pemilhan mutu benih.Dari penimbangan bobot awalpada masing- masing benih  benih keseluruhan 500 grm benih kedelai didapatkan beratnya yaitu, bobot bersih 440 grm dan berat kotor50 grm.   Pada penimbangan benih jagung beratnya yaitu500 grm, bobot bersih 488 grm, dan berat kotor12 grm.Pada penimbangan benih padi didapatkan berat awal yaitu 500 grm, bobot bersih 486 grm, dan berat kotor15 grm.pada kacng tanh berat awal di dapat 500 grm,dan berat bersih 410 grm,dan berat kotornya dio dapat 15 grm.

 

Dari hasil penimbangan yang di lakukan, yang pertama diperoleh untuk masing-masing benih penghitungnnya sebagai berikut :

 

Benih kedelai

            Benih murni (%)          =          bobot benih murni (gr)               x 100%

                                                                        Bobot akhir pengukuran (gr) 

                                    =       440             x 100% = 88 %

                                             500

            Kotoran (%)               =           bobot kotoran                         x 100%

                                                                         Bobot akhir pengukuran

                                                            =     50             x100 % = 10 %

                                                                  500           

 

 Benih jagung

            Benih murni (%)          =          bobot benih murni (gr)               x 100%

                                                                        Bobot akhir pengukuran (gr) 

                                    =      488              x 100% = 97,6 %

                                            500

            Kotoran (%)               =           bobot kotoran                         x 100%

                                                                         Bobot akhir pengukuran

                                                            =     12 x100 % = 2,4 %

                                                                   500          

Benih padi

            Benih murni (%)          =          bobot benih murni (gr)               x 100%

                                                                        Bobot akhir pengukuran (gr) 

                                    =      486              x 100% = 97 %

                                            500

            Kotoran (%)               =           bobot kotoran                         x 100%

                                                                         Bobot akhir pengukuran

                                                            =     15             x100 % = 3%

                                                                   500          

 

Benih kacang tanah

Benih murni (%)          =          bobot benih murni (gr)               x 100%

                                                                        Bobot akhir pengukuran (gr) 

                                    =      410              x 100% = 82 %

                                            500

            Kotoran (%)               =           bobot kotoran                         x 100%

                                                                         Bobot akhir pengukuran

                                                            =     90             x100 % = 18%

                                                                   500

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

 

            Tujuan analisis kemurnian adalah untuk menentukan komposisi benih murni, benih lain dan kotoran dari contoh benih yang mewakili lot benih. Dengan mengetahui kemurnian benih kita dapat menentukan mutu benih tersebut.

Faktor kehilangan benih dalam pengujian ini lebih kecil dari 5%, sehingga pengujian itu dapat dikatakan benih yang digunakan pada praktikum ini bermutu fisik baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ir. Marwanto , Msc, Ph.d .2010,penuntun praktikum mata kuliah teknologi benih. Jurusan budidaya pertanian.Fakultas pertanian. Universitas Bengkulu. Bengkulu

 

Copeland LO dan McDonald MB. 1985. Principles of Seed Science and Technology. 2­­­nd edn. New York: Mcmillan Publishing Co.

 

Rashid MA dan Singh DP. 2000. A Manual on Vegetable Seed Production. Bangladesh Agricultural Research Instititute

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM VI

Judul : Uji Daya Berkecambah

Latar Belakang

Daya berkecambahnya benih dapat diartikan sebagai berkembangnya bagian-bagian penting dari embrio suatu benih yang menunjukkan kemampuannya untuk tumbuh secara normal pada lingkungan yang sesuai. Dengan demikian, pengujian daya tumbuh atau daya berkecambah benih ialah pengujian akan sejumlah benih, beberapa persentase dari jumlah benih tersebut yang dapat atau mampu berkecambah pada jangka waktu yang telah ditentukan.Kemampuan tumbuh secara normal, yaitu dimana perkecambahan benih tersebut menunjukkan kemampuan untuk tumbuh dan berkembang menjadi bibit tanaman dan tanaman yang baik dan normal, pada lingkungan yang telah disediakan yang sesuai bagi kepentingan pertumbuhan dan perkembangannya.

Beberapa penilaian yang kurang atau tidak baik terhadap benih, yaitu apabila:
a) Dalam perkecambahannya,tunas keluar terlebih dahulu dari pada akarnya.
b) Benih sama sekali tidak mengeluarkan akar, hanya tunas.
c) Akar kecambah berbentuk spiral, ujungnya tumpul atau membesar serta mengkilat.
d)  Akar kecambah yang keluar bukan akar utama, melainkan akar samping.
Faktor dalam yang mempengaruhi perkecambahan yaitu sebagai berikut :

Tujuan Pratikum

  • Menentukan persentase dari perkecambahan benih
  • Untuk menentukan  daya berkecambah benih(seed vaibility)
  • Untuk menentukan kekuatan tumbuh benih (seed vigor)

 

 

TINJAUAN PUSTAKA

Pengujian daya kecambah adalah mengecambahkan benih pada kondisi yang sesuai untuk kebutuhan perkecambahan benih tersebut, lalu menghitung presentase daya berkecambahnya. Persentase daya berkecambah merupakan jumlah proporsi benih-benih yang telah menghasilkan perkecambahan dalam kondisi dan periode tertentu. Tujuan dari pengujian daya berkecambah adalah :

a) Memperoleh informasi nilai penanaman benih dilapangan

b) Membandingkan kualitas benih antar seed lot (kelompok benih)

c) Menduga storabilitas (daya simpan) benih

d) Memenuhi apakah nilai daya berkecambah benih telah memenuhi peraturan yang berlaku.

Hal yang pertama dilakukan untuk uji daya kecambah yaitu, menentukan contoh kerja untuk uji daya kecambah. Contoh kerja yang dibutuhkan untuk uji daya kecambah ini memiliki ketentuan sebagai berikut:

a) Contoh kerja berasal dari fraksi benih murni

b) Berjumlah 400 butir

c) Terdiri dari 4 ulangan @ 100 butir

d) Bila kapasitas wadah perkecambahan terbatas/ kecil, tiap ulangan dibagi lagi menjadi 2 sub ulangan @ 50 butir atau sub ulangan @ 25 butir

Setelah contoh kerja didapat maka langkah selanjutnya adalah pengujian daya berkecambah. Pengujian daya berkecambah ini dapat dilakukan dalam beberapa metode. Untuk menentukan metode apa yang digunakna hal tersebut tergantung pada jenis dan karakter tumbuh benih. Metode yang biasa dilakukan adalah:

a) Uji pada kertas

b) Uji antar pasir

c) Uji pasir

Setelah penanaman dilakukan maka langkah selanjutnya adalah mengevaluasi kecambah. Evaluasi kecambah dilakukan 2 kali tergantung pada jenis benih yang di uji. Contohnya pada benih padi evaluasi pertama dilakukan pada hari ke 7 dan evaluasi hari kedua dilakukan pada hari ke 14. Pada evaluasi yang pertama hanya dilihat kecambah normal saja. Kriteria untuk kecambah normal diantaranya adalah:

a) Kecambah dengan pertumbuhan sempurna, ditandai dengan akar dan batang yang berkembang baik, jumlah kotiledon sesuai, daun berkembang baik dan berwarna hijau, dan mempunyai tunas pucuk yang baik

b) Kecambah dangan cacat ringan pada akar, hipokotil/ epikotil, kotiledon, daun primer, dan koleoptil

c) Kecambah dengan infeksi sekunder tetapi bentuknya masih sempurna

Dengan kriteria tersebut kecambah normal diambil lalu dipisahkan dari benih yang belum berkecambah. Jumlah kecambah normal tersebut kemudian dihitung. Pada evaluasi kedua yaitu melihat adanya kecambah normal, kecambah abnormal, benih yang tidak berkecambah (benih keras, benih segar tidak tumbuh, benih mati/ busuk). Kecambah abnormal adalah kecambah yang tidak memperlihatkan potensi untuk berkembang menjadi kecambah normal. Kecambah di bawah ini digolongkan ke dalam kecambah abnormal :

a) Kecambah rusak: kecambah yang struktur pentingnya hilang atau rusak berat. Plumula atau radikula patah atau tidak tumbuh.

b) Kecambah cacat atau tidak seimbang: kecambah dengan pertumbuhan lemah atau kecambah yang struktur pentingnya cacat atau tidak proporsional. Plumula atau radikula tumbuh tidak semestinya yaitu plumula tumbuh membengkok atau tumbuh kebawah, sedangkan radikula tumbuh sebaliknya.

c) Kecambah lambat: kecambah yang pada akhir pengujian belum mencapai ukuran normal. Jika dibandingkan dengan pertumbuhan kecambah benih normal kecambah pada benih abnormal ukurannya lebih kecil.

Benih yang tidak berkecambah adalah benih yang tidak berkecambah sampai akhir masa pengujian, yang digolongkan menjadi:

a) Benih segar tidak tumbuh: Benih, selain benih keras, yang gagal berkecambah namun tetap baik dan sehat dan mempunyai potensi untuk tumbuh menjadi kecambah normal. Benih dapat menyerap air, sehingga dapat terlihat benih tampak mengembang. Namun tidak ada pemunculan struktur penting dari perkecambahan benih. Dan jika waktu penyemaian diperpanjang benih akan tumbuh normal.

b) Benih keras: Benih yang tetap keras sampai akhir masa pengujian. Benih tersebut tidak mampu menyerap air terlihat dari besarnya benih tidak mengembang, dan jika dibandingkan dengan benih segar tidak tumbuh ukuran benih keras lebih kecil. Hal ini disebabkan karena kulit benih yang impermeabel terhadap gas dan air.

c) Benih mati: Benih yang sampai pada akhir masa pengujian tidak keras, tidak segar, dan tidak berkecambah. Benih mati dapat dilihat dari keadaan benih yang telah membusuk, warna benih terlihat agak kecoklatan. Hal ini disebabkan karena adanya penyakit primer yang menyerang benih. Disebabkan karena pada saat kultur teknis dilepangan tanaman yang menajdi induk talah terserang hama dan penyakit sehingga pada benih tersebut berpotensi membawa penyakit dari induknya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

METODE PRATIKUM

Waktu dan Tempat

Adapun tempat dan waktu dilaksanakan pratikum pada kali ini yaitu praktikum dilaksanakan pada hari kamis, 25-april-2013, Pukul 13.00 WIB – selesai. Bertempat di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

 

Bahan dan Alat

  • Bahan
  • Benih padi
  • Benih jagung
  • Benih kedelai
  • Benih kacang tanah

 

  • Alat
  • Media kertas stensil
  • Germinator
  • Plastic
  • Air
  • Oven
  • Alat tulis
  • Kamera

Cara Kerja

  1. Letakan lembaran kertas subtrat (3 lembar) yang telah di basahi di atas meja kerja.
  2. Ambil 2 lembar subtrat kertas tersebut dan tanam di atasnya 25 benih denganjarak tanam tidak berdekatan satu sama lainya.
  3. Tutup subtrat yang sudah di tanami dengan lembaran subtrat yag satu lagi dan gulung dan di buat 3 ulangan.
  4. Kemudian masukan kedalam germinator
  5. Setelah kering dan seminggu kemudian kertas di buka dan di amati daya kecambah normal dan abnormal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

NAMA BENIH

ULANGAN

NORMAL

ABNORMAL

 

PADI

1

6

19

2

11

14

3

14

11

 

KACANG TANAH

 

 

1

14

11

2

17

8

3

5

10

 

JAGUNG

1

24

1

2

16

9

3

20

9

KEDELAI

1

15

10

2

10

15

3

22

3

 

Pembahasan

Rata-rata kecambah normal pada praktikum ini adalah 75 %, rata rata kecambah -abnormal pada percobaan ini adalah 25 %, sedangkan rata-rata kecambah mati yaitu 0%. Jika dilihat dari percobaan, kecambah normal paling dominant pada pecobaan ini yaitu 75 %. Berarti lingkungan untuk menumbuhkan benih serba memadai. Baik sumber airnya yang berdasarkan kertas merang yang lembab, cahaya, kelembaban, suhu, dan tempah pengecambahan benih.
Ketika pengamatan,Suhu dan kadar air tinggi merupakan faktor penyebab menurunnya daya berkecambah dan vigor.Jumlah kecambah normal dihitung dalam persen terhadap semua benih yang ditanam dan menjadi gambaran persentase tanaman yang mampu tumbuh secara normal di lapang yang berkondisi optimum. Benih yang abnormal dianggap tidak berpotensi tumbuh di lapang, sama nilainya dengan benih yang mati.

 

PERTANYAAN

Mengapa perlunya di lakukan pengujian daya berkecambah?

Pengujian benih merupakan pekerjaan yang sangat penting dilakukan dalam penanganan benih. Pengujian benih dilakukan untuk mengetahui mutu atau kualitas dari benih. Keterangan yang diperoleh dari hasil pengujian benih ini sangat bermanfaat bagi pengguna benih sebagai informasi yang dapat dipercaya tentang materi benih sebagai bahan dasar dalam produksi tanaman, dan bagi produsen benih dapat digunakan sebagai jaminan kualitas benih yang diproduksi. Dan Pengujian daya kecambah benih merupakan menguji kemampuan benih berkecambah secara normal dari sejumlah benih pada jangka waktu yang telah ditentukan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang didapat dari praktikum ini adalah :
1.    Daya berkecambah benih dapat mempengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor luar dan faktor dalam. Faktor dalam yaitu kemasakan benih, ukuran benih dan dormansi, sedangkan faktor luar yaitu air, intensitas cahaya dan suhu.
2.    Benih yang abnormal dianggap tidak berpotensi tumbuh di lapang, sama nilainya dengan benih yang mati.
3.    Lama waktu simpan dapat mempengaruhi kemampuan benih untuk dapat berkecambah dengan normal.
4.    Umumnya kenormalan perkecambahan ditentukan berdasarkan ketegaran struktur tumbuh yang terdiri dari akar primer, akar seminal sekunder, hipokotil, kotiledon, koleoptil.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

GAMBAR DOKUMENTASI

PADI

   

KACANG TANAH

 

JAGUNG

 

 

KEDELAI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Bass N. Louis. 1994. Prinsip dan Praktek Penympangan Benih. PT Raja Grafirdo Persada. Jakarta.

Kartasapoetra G, Ance. 2003. Teknologi Benih Pengolahan Benih dan Tuntunan Praktikum. PT Rineka Cipta. Jakarta.

Pramono, Eko. 2009. Penuntun Praktikum Teknologi Benih. Bandarlampung. Universitas Lampung.
Sadjad, Sjamsoe’oed. 1999. Parameter Pengujian Vigor Benih. Grasindo. Jakarta.

tolong kasih komentarnya yaaa.. sama jangan lupa join site ini😀 salam blogger😀 GOMAWOYO

 

 

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM VII

Judul  : Uji Kecepatan Berkecambah ( Index Value Test )

Latar Belakang

Uji kecepatan berkecambah atau tumbuh benih dapat di golongkan kedalam daya vigor benih. Vigor merupakan kekuatan tumbuh benih pada kondisi lingkungan yang sub optimum. Benih yang memiliki vigor tinggi apabila benih mampu tumbuh pada keadaan yang sub optimum, atau tidak mendukung.

Pengujian kecepatan berkecambah atau tumbuh benih ini dapat di lakukan dengan media buatan seperti pada kertas substrat. Benih akan semakin cepat berkecambah bila benih memiliki kualitas dan mutu benih yang tinggi, selain itu juga keadaan yang mendukung untuk benih berkecambah akan mempercepat proses perkecambahan.

Dari adanya kenyataan bahwa benih yang kecepatan berkecambahnya tinggi, maka tanaman yang akan di hasilkan akan lebih tahan terhadap keadaan atau lingkungan yang kurang menguntungkan. Dengan demikian jelas bahwa kecepatan berkecambah merupakan factor penting dari vigor, serta memberi indeks vigor dari setiap kelompok benih.

Tujuan

 Menentukan presentasi dari perkecambahan benih.

 Untuk menentukan daya berkecambah benih ( seed viability )

 

 

 

 

 

 

METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat  

Praktikum Teknologi Benih ini dilaksanakan pada :

Hari                :Kamis,18 april 2013,pukul 13:00 s/d 14:30 wib.

Tempat            :Di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian universitas jambi.

Alat dan Bahan        

 Alat                 :Media kertas, germinator, plastic, pensil air , semprotan air,dll

 Bahan              :Benih kedelai dan benih padi

Cara Kerja : 1. Benih dikecambahkan seperti cara SGT dengan metode UKDp sebanyak 150  benih dengan 3 kali ulangan.

  2. Pengamatan dilakukan setiap hari dengan kriteria benih berkecambah dua kali panjang benih. Pengamatan dilakukan selama hari yang diperlukan ( tidak ada perkecambah lagi)

  3. Setalah itu dilakukan perhitungan Index Value Test ( IVT )

IVT = ∑ Benih Berkecambah

                                                    Hari Berkecambah

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil    :

Pengamatan 1

Benih

Ulangan

IVT

I

II

III

Padi

1

1

0

9,2

Kacang tanah

3

2

0

12

Jagung

2

3

1

12,3

Kedelai

4

3

3

12

Pengamatan 2

Benih

Ulangan

IVT

I

II

III

Padi

6

7

9

9,6

Kacang tanah

13

12

12

10,6

Jagung

20

21

20

7,6

Kedelai

12

16

17

12,5

Pengamatan 3

Benih

Ulangan

IVT

I

II

III

Padi

23

24

24

9,5

Kacang tanah

22

23

23

9,6

Jagung

24

23

24

11,8

Kedelai

24

25

25

12,6

 

Perhitungan:

IVT + = ∑     benih berkecambah

                      Hari berkecambah

 

Pembahasan:

Dari data diatas, maka dapat dikatakan benih yang memiliki daya kecepatan berkecambah yaitu kemapuan benih untuk berkecambah dengan cepat pada waktu yang telah ditentukan serta mengamati keserentakan benih ini muncul. dalam hal ini , terdapatlah benih yang normal. Benih dikatakan berkecambah normal ialah benih yang memiliki perkembangan system perakaran yang baik terutama akar primer , terdapat pula perkembangan jaringan dan hipokotilnya serta pertumbuhan plumulanya pun dikatakan baik sehingga dapat menopang perkecambahannya hingga menjadi cepat.

Sedangkan benih lain yang tidak normal, dapat dikatakan bahwa benih itu berkecambah secara abnormal dan mati. Dimana dalam proses perkecambahannya, benih itu pertumbuhannya sedikit lebih rendah dibandingkan benih dengan kecambah yang normal . dapat berupa kecambah nya yang rusak, tanpa kotiledon, kecambah yang bentuknya cacat, busuk, dsb.

Benih yang tidak tumbuh ini kemungkinan mempunyai factor gentik atau factor fisik yang tidak bisa untuk melakukan proses perkecambahan dan oleh factor lingkungan .

Adapun factor – factor yang mempengaruhi kecepatan benih untuk berkecambah , yaitu :Suhu,Kelembapan, Oksigen,Cahaya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PERTANYAAN

Apa yang dimaksud dengan perkecambahan dan factor apa yang mempengaruhi?

Jawaban    :

Perkecambahan adalah proses tumbuh suatu tanaman dari benih menjadi tanaman mini yang memiliki plumula dan radikula.

Faktor – faktor yang mempengaruhinya adalah :

a) Adanya air yang cukup untuk melembabkan biji

b) Suhu yang pantas

c) Cukup oksigen. Kekurangan salah satu di antara syarat diatas umumnya biji tidak akan berkecambah.

d) Adanya cahaya, terutama ini adalah esensial untuk kebanyakan biji rerumputan dan beberapa biji tanaman tertentu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan diatas, dapat simpulkan bahwa, kecepatan berkecambah benih dapat menentukan kualitas dan mutu benih , dimana dalam hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa factor seperti keadaan kualitas benih itu sendiri baik dari segi fisik maupun genetinya yang tidak mampu untuk melakukan perkecambahan, suhu, kelembapan. Oksigen, temperature, dan lain- lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM VIII

Judul  : Uji Daya Berkecambah / Daya Tumbuh Dengan Substrat pasir dan tanah.

Latar Belakang

Benih merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam peningkatan produksi pertanian. Oleh sebab itu mutu dan jumlahnya perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak yang terkait terutama pada saat musim tanam ( pemakaian ). Mutu benih yang sering dijadikan ukuran adalah meliputi bentuk dan ukuran benih, daya tumbuh, vigor, serta kemurnian benih. Mutu dan kualitas benih sangat ditentukan oleh kondisi tanaman pada waktu dilapangan, saat panen serta saat proses setelah panen. Selain itu mutu benih sering juga dinilai berdasarkan mutu genetik dan ciri – ciri fisiologis yang dibawa oleh benih.

Jagung yang merupakan tanaman pangan terpenting ke dua setelah padi, kiranya perlu mendapatkan perhatian yang sungguh – sungguh dari para ahli agar cita – cita Bangsa Indonesia untuk berswasembada jagung dapat segera terealisasi. Sebenarnya untuk mewujutkan swasembada jagung bagi Indonesia tidaklah terlalu sulit, sebab dengan melipat duakan penggunaan benih jagung hibrida tanpa memperluas areal tanam, cita – cita tersebut sudah dapat terwujud. Dari gambaran ini terlihat bahwa pengaruh penggunaan benih sangat besar terhadap produktifitas lahan. Untuk dapat menghasilkan benih yang berkualitas khususnya benih jagung terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi dan harus mendapat perhatian dari produsen benih, adalah: Hubungan perlakuan prapanen terhadap mutu benih, ketepaan saat panen, cara pemanenan, penanganan pasca panen.

Tujuan Praktikum

  • Untuk menentukan Presentase perkecambahan benih
  • Untuk Menentukan daya tumbuh Benih ( Viability Seed)

           

 

 

 

METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat  

Praktikum Teknologi Benih ini dilaksanakan pada :

Hari                :Kamis,25 April,Pukul 13:00 s/d 14:30 wib

Tempat            :Di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian universitas jambi.

Alat dan Bahan        

 Alat                 :bak petak perkecambahan, pasir dan tanah Sprayer, kertas label,

 Bahan             :benih padi dan benih kedelai, air

Cara Kerja  :1.Isi bak / baskom petak perkecambahan dengan pasir dan tanah

   2.Basahi secukupnya substrat tersebut.

   3.Tanam sebanyak 50 benih per baskom,dan di buat 4 ulangan

   4.dalam penanaman untuk padi 1 cm dan kedelai 2,5 cm

  5.lakukan penyiraman 2 kali sehari sampai berakhir pengamatan

Pengamantan

1.Pengamatan I : 5 x 24jam

        Pengamatan II : 7 x 24 jam

        Pengamatan III : 9 x 24 jam

 2.Pengamatan dilakukan terhadap benih yang berkecambah normal, abnormal dan mati. Benih yang telah berkecambah normal dibuang .

                               Perhitungan : Sama dengan SGT.

 

 

PERTANYAAN

1.Jelaskan secara rinci perbedaan antara daya berkecambahan dan daya tumbuh ?

Setelah kita lakukan uji daya berkecambah benih dengan subtract kertas dan pasir./tanah , menurut pendapat saudara mana diantaranya yang memberikan informasi yang tepat unutuk menentukan mutu benih yang diuji ( yang mendekati kenyataan di lapangan ditinjau dari viabilitas benih). Berikan alas an saudara?

      Jawaban    :

Perkecambahan adalah proses tumbuh suatu tanaman dari benih menjadi tanaman mini yang memiliki plumula dan radikula.

Faktor – faktor yang mempengaruhinya adalah :

a) Adanya air yang cukup untuk melembabkan biji

b) Suhu yang pantas

c) Cukup oksigen. Kekurangan salah satu di antara syarat diatas umumnya biji tidak akan berkecambah.

d) Adanya cahaya, terutama ini adalah esensial untuk kebanyakan biji rerumputan dan beberapa biji tanaman tertentu.

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Kacang Tanah

 

Daya  kecambah (SGT)       = 

 

                                                                     =   

                                                                     = 64 %

  • Jagung

 

Daya  kecambah (SGT)       = 

                                             = 

                                                                     =  48 %

  • Kacang kedelai

 

Daya  kecambah (SGT)       = 

         = 

         =  72 %

  • Padi

Daya  kecambah (SGT)       = 

         = 

         =  68 %

 

Pembahasan

Dari data diatas, maka dapat dikatakan benih yang memiliki daya kecepatan berkecambah yaitu kemapuan benih untuk berkecambah dengan cepat pada waktu yang telah ditentukan serta mengamati keserentakan benih ini muncul. dalam hal ini , terdapatlah benih yang normal. Benih dikatakan berkecambah normal ialah benih yang memiliki perkembangan system perakaran yang baik terutama akar primer , terdapat pula perkembangan jaringan dan hipokotilnya serta pertumbuhan plumulanya pun dikatakan baik sehingga dapat menopang perkecambahannya hingga menjadi cepat.

Sedangkan benih lain yang tidak normal, dapat dikatakan bahwa benih itu berkecambah secara abnormal dan mati. Dimana dalam proses perkecambahannya, benih itu pertumbuhannya sedikit lebih rendah dibandingkan benih dengan kecambah yang normal . dapat berupa kecambah nya yang rusak, tanpa kotiledon, kecambah yang bentuknya cacat, busuk, dsb.

Benih yang tidak tumbuh ini kemungkinan mempunyai factor gentik atau factor fisik yang tidak bisa untuk melakukan proses perkecambahan dan oleh factor lingkungan .

Adapun factor – factor yang mempengaruhi kecepatan benih untuk berkecambah , yaitu :

1. Suhu

2. Kelembapan

3. Oksigen

4. Cahaya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan diatas, dapat simpulkan bahwa :

Kecepatan berkecambah benih dapat menentukan kualitas dan mutu benih , dimana dalam hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa factor seperti keadaan kualitas benih itu sendiri baik dari segi fisik maupun genetinya yang tidak mampu untuk melakukan perkecambahan, suhu, kelembapan. Oksigen, temperature, dan lain- lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM X

Judul  : Uji Keserempakan Berkecambah

Latar Belakang

Proses perkecambahan benih dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Faktor genetik yang berpengaruh adalah susunan kimawi benih yang berhubungan dengan daya hidup benih. Sifat ketahanan ini meliputi masalah kadar air benih, kegiatan enzim dalam benih dan kegiatan-kegiatan fisik atau biokimiawi dari kulit benih, sedangkan faktor lingkungan yang sangat berpengaruh adalah air, gas, suhu dan oksigen (Bewley dan Black, 1985).

Perkecambahan benih dapat dipengaruhioleh faktor dalam yang meliputi tingkat kemasakan benih, ukuran benih, dormansi,dan penghambat perkecambahan, serta faktor luar yang meliputi air, temperatur, oksigen dan cahaya ( Sutopo, 1993).

Pada dasarnya perkecambahan merupakan suatu proses pertumbuhan dari biji setelah mengalami masa dormansi. Bila bila kondis-kondisi sekelilingnya memungkinkan ( Novijanto, 1996).

Kulit benih dan struktur disekitarnya dapat mempengaruhi kemampuan perkecamabahan benih melalui penghambatan terhadap penyerapan air, pertukaran gas, difusi inhibitor endogenous atau penghambatan pertumbuhan embrio. Sementara jika penghambatan perkecambahan terjadi pada benih yang tidak mempunyai kulit keras atau tidak memerlukan skarifikasi untuk penyerapan air, maka kemungkinan penyebabnya adalah penghambat bagian lain dari benih misalnya endosperma (Watkins dan Cantliffe, 1985)

Uji keserempakan benih merupakan suatu metode ataupun cara menguji kemapuan benih untuk berkecambah secara serentak dan seragam dengan pertumbuhan yang normal. Dalam hal ini terdapat pengujian benih yang berperan dalam :

1. Untuk menilai kualitas benih

2. Untuk mendapatkan informasi tentang pertumbuhan benih di lapangan

3. Untuk menghitung kebutuhan benih dalam penanaman

Dalam hal ini kita menggunakan suatu pengujian Pengujian benih dapat dilakukan pada tahapan yang berbeda dari penanganan benih, pemrosesan benih dan penyimpanan benih. Tolok ukur baku seperti berat benih, kemurnian, dan perkecambahan sangatlah penting dalam perhitungan kebutuhan benih.

Karena itu, tolak ukur tersebut sangat penting bagi pengguna benih sebagai bahan pertimbangan sebelum memesan benih. Karena benih dijual berdasarkan beratnya, tolok ukur mutu benih juga merupakan tolok ukur ekonomi yang penting. Kadar air terutama sangat penting pada saat sebelum dan selama penyimpanan benih.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu disusun suatu petunjuk tenis pengujian mutu benih tanaman hutan berdasarkan kebenaran sumber benih dan mutu fisik – fisiologi benihnya salah satu caranya ialah dengan metode keserempakan benih yang memiliki harapan agar mutu dan kualitas benih yang nantinya akan ditanam dilapangan memiliki kualitas cdan mutu benih.

Faktor lingkungan yang mendukung perkecambahan benih. Syarat dari suatu benih dapat berkecambah dengan baik, apabila keadaan lingkungannya mendukung. Namun dari masing-masing benih menghendaki lingkungan yang berbeda untuk perkecambahan. Agar dalam pelaksanaan pengujian keserempakan kecambah dapat terstandar maka beberapa faktor lingkungan yang mendukung perkecambahan harus diperhatikan, antara lain :

1) Air

Air merupakan salah satu faktor penting yang diperlukan bagi berlangsungnya proses perkecambahan benih. Banyaknya air yang diperlukan untuk masing-masing benih untuk dapat berkecambah bervariasi, tergantung kepada jenis benih. Umumnya keperluan air untuk berkecambah tidak melampaui dua atau tiga kali berat keringnya atau kadar akhir setelah mengalami imbibisi mencapai 50- 60%. Air yang diberikan pada perkecambahan benih berfungsi sebagai berikut :

  • Air yang diserap oleh benih berguna untuk melunakkan kulit benih dan menyebabkan berkembangnya embrio dan endosperm
  • Air berguna mengaktifkan protoplasma sehingga dapat mengaktifkan proses pencernaan, pernafasan, asimilasi dan tumbuh.
  • Air sebagai alat transportasi larutan makanan dari endososperma atau cotilendon ke titik tumbuh pada embrio.

2) Temperatur

Setiap jenis benih untuk dapat berkecambah dengan baik membutuhkan temperatur yang berbeda. Umumnya benih dalam perkecambahan berada pada temperatur optimum pada kisaran antara 26,5–35 0C. Pada temperatur ini sistem enzym dapat berfungsi dengan baik dan stabil untuk waktu lama,sehingga berkecambahnya benih dapat terpacu dengan baik. Pada temperatur minimum antara 0–5 0C kebanyakan benih mengalami chilling hingga menghambat aktifitas kerja enzim sehingga benih menjadi rusak dan bahkan mati tidak berkecambah.

Untuk jenis benih tanaman musim dingin temperatur minimumnya 4,5 0C. dan untuk benih tanaman musim panas temperature minimumnya 10 – 150C. Adapun temperatur tertinggi kebanyakan benih masih dapat berkecambah adlah antara 30 – 400C, namun pada temperatur maximum antara 450C, 480C, benih tidak dapat berkecambah akibat suhu tinggi.

3) Oksigen

Benih selama masih hidup akan melakukan respirasi. Pada saat perkecambahan berlangsung proses respirasi akan meningkat yang disertai dengan meningkatnya pengambilan oksigen dan pelepasan karbon dioksida air, dan energi panas. Terbatasnya persediaan oksigen akan berakibat pada proses perkecambahan menjadi terlambat.

4) Cahaya

Cahaya yang dibutuhkan untuk setiap benih dalam perkecambahan berbeda, tergantung pada jenis benih. Cahaya mempengaruhi respon perkecambahan terhadap phytochrome. Phytochrome memiliki dua bentuk yang sifatnya bolak-balik, yaitu phytokrom merah yang mengabsorpsi sinar merah dan phytochrome infra merah. Bila pada benih yang kadang berimbibisi diberikan cahaya merah maka akan menyebabkan phychrome merah berubah menjadi phytochrome infra merah. Hal ini akan menimbulkan reaksi yang merangsang perkecambahan, sebaliknya bila diberi cahaya infra merah akan menyebabkan perubahan dari phytochrome infra merah menjadi phytochrome merah yang menghambat perkecambahan.

 

Tujuan : Untuk menentukan kekuatan tumbuh tumbuh ( seed vigor ) benih yang di uji     

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat  

Praktikum Teknologi Benih ini dilaksanakan pada :

Hari                :Kamis 18 April 2013,pukul 13:00 s/d 14:40 wib

Tempat            :Di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian universitas jambi.

Alat dan Bahan        

 Alat                 :germinator,kertas stensil,kantong plastic kertas label.

 Bahan              :benih padi dan benih kedelai

Cara Kerja

sama seperti uji daya berkecambah (praktikum VIII) tapi bedanya di sini memakai metode UKDdp, di buat 4 ulangan

pengamatan di lakukan 5×24 jam,4×24 jam,untuk perkecambahan normal dan kuat. 5×24 jam untuk perkecambahan lemah + kuat  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil   

Tabel hasil pengamatan uji keserempakan berkecambah pada perkecambahan kacang tanah, kedelai,  padi, jagung sebagai berikut :

Benih

Tanggal 25 April 2013

Kecambah normal

Kecambah lemah

Jagung

U1 : 18

U2 :21

U3 :17

U1 : 4

U2 : 4

U3 :8

Padi

U1 : 22

U2 :16

U3 :12

U1 :3

U2 :9

U3 : 13

Kedelai

U1 : 22

U2 : 20

U3 : 24

U1 : 3

U2 : 5

U3 : 1

Kacang tanah

U1 : 20

U2 : 19

U3 : 21

U1 : 5

U2 : 6

U3 : 4

 

Pembahasan

Benih kecambah kuat(normal) ialah benih yang memilki daya hidup ataupun kekuatan tumbuh yang kuat yang bias mempertahankan kelangsungan hidupnya ,dimana pada keserempakan benih ini dapat dipengaruhi oleh :

  • mutu dan daya benih kedelai yang digunakan (genetic dari benih kedelai itu sendiri)
  • kadar air benih
  • suhu dan tempat pelaksanaan penanaman benih,dsb

Mutu benih yang memiliki kecambah dua kali lebih panjang dari benih awalnya, dan memiliki keserempakan daya tumbuh yang tinggi ,memiliki system perakaran yang baik, hipokotilnya membuka secara sempurna, tidak terdapat kerusakan pada jaringannya, plumulanya tumbuh dengan baik, maka dapat dikatakan sebagai benih yang memiliki kecambaah kuat. Didalam tubuh benih itu sendiri terdapat pula vigor atau kekuatan tumbuh benih yang dapat memberikan informasi akan kemungkinan kemampuan benih yang tinggi untuk dapat tumbuh menjadi tanaman yang normal dan berproduksi secara wajar, meskipun keadaan biofisik lapangan produksi dalam keadaan yang optimum.

Bila contoh benih yag menggunakan substrat kertas, terdapat benih yang tidak mampu untuk melangsungkan hidupnya dan tidak dapat dinilai, kecambahnya rusak, bentuknya cacat,dan terdapat gigitan hama maupun penyakit, tidak memiliki keserempakan tumbuh karena ia busuk maupun pertumbuhannya abnormal, maka benih itu dapat dikatakan sebagai kecambah lemah.

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan diatas, dapat simpulkan bahwa :

Benih yang memiliki keserempakan daya tumbuh tinggi, dapat dinamakan sebagai benih yang tumbuh secara normal dan berdiri secara sempurna , sedangkan benih yang tidak mampu menjalankan kehidupannya dengan cara penyesuaian hidup yang sama dengan tanaman-tanaman yang lainnya, maka benih maupun kecambahnya dinamakan kecambah yang lemah. Perbedaan kemampuan dalam keserempakan daya tumbuhnya ini dapat disebabkan oleh factor genetic pada benih kedelai itu sendiri mapupun factor lingkungannya. Dengan adanya uji keserempakan benih ini, diharapkan kita dapat mengetahui mutu dan kualitas benih yang dapat tumbuh secara serentak, sehingga didalam penerapan dilapangan nya tidak menghadapi kendala yang cukup berat, baik dalam awal proses penanaman hingga sampai saat pemanenan dan kita akan mendapatkan hasil yang maksimal.

Pertanyaan :

1.Mengapa perlu dilakukan uji keserempakan tumbuh ?

2. Hubungan keserempakan tumbuh / berkecambah terhadap mutu benih.

 

Jawaban :

  1. Untuk menguji kemapuan benih untuk berkecambah secara serentak dan seragam dengan pertumbuhan yang normal dalam penanaman.
  2. Hubungan uji keserempakan benih terhadap mutu benih, diharapkan kita dapat mengetahui mutu dan kualitas benih yang dapat tumbuh secara serentak, sehingga didalam penerapan dilapangan nya tidak menghadapi kendala yang cukup berat, baik dalam awal proses penanaman hingga sampai saat pemanenan dan kita akan mendapatkan hasil yang maksimal.

 

DAFTAR PUSTAKA

Tim Pengampu Mata Kuliah Teknologi Benih. 2007. Pengantar Praktikum Teknologi Benih. Jambi. Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

http://www.google.com

Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. Malang: Fakultas Pertanian UNBRAW
Kartasapoetra, Ance G.Teknologi Benih. 2003. Jakarta: Rineka Cipta
http://ramadhan.20m.com/whats_new.html
http://www.wikipedia.com/perkecambahan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM XI

Judul  : Uji Berat Kering Kecambah

Latar Belakang

Pengujian benih laboratories bertujuan untuk mendapatkan keterangan tentang mutu suatu kelompok benih yang digunakan untuk penanaman . dan salah satu cara pengujian dilaboratorium ini ialah berat kering kecambah. Pengujian benih dapat dilakukan pada tahapan yang berbeda dari penanganan benih, pemrosesan benih dan penyimpanan benih. Tolok ukur baku seperti berat benih, kemurnian, dan perkecambahan sangatlah penting dalam perhitungan kebutuhan benih.

Didalam pengukuran kadar air suatu benih dengan metode oven itu sendiri, kita terlebih dahulu harus mengetahui apa itu kadar air benih. Kadar air benih adalah berat air yang hilang karena pemanasan atau yang dapat dikumpulkan baik dalam proses destilasi yang dapat dinyatakan dalam persen terhadap berat asli contoh benih. Ada beberapa hal yang menjadi hal terpenting didalam pengecambahan benih sebelum benih itu kita oven, yaitu : kebutuhan air, temperature, oksigen,dll. Dalam hal ini air merupakan salah satu faktor penting yang diperlukan bagi berlangsungnya proses perkecambahan benih. Banyaknya air yang diperlukan untuk masing-masing benih untuk dapat berkecambah bervariasi, tergantung kepada jenis benih. Umumnya keperluan air untuk berkecambah tidak melampaui dua atau tiga kali berat keringnya atau kadar akhir setelah mengalami imbibisi mencapai 50- 60%.

Setiap jenis benih untuk dapat berkecambah dengan baik membutuhkan temperatur yang berbeda. Umumnya benih dalam perkecambahan berada pada temperatur optimum pada kisaran antara 26,5–35 0 C.

Ketika benih masih dalam keadaan hidup, ia akan melakukan respirasi. Pada saat perkecambahan berlangsung proses respirasi akan meningkat yang disertai dengan meningkatnya pengambilan oksigen dan pelepasan karbon dioksida air, dan energi panas. Terbatasnya persediaan oksigen akan berakibat pada proses perkecambahan menjadi terlambat.

Tujuan           : Untuk menentukan kekuatan Tumbuh benih (seed Vigor) yang di uji.       

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat  

Praktikum Teknologi Benih ini dilaksanakan pada :

Hari                :Kamis,25 april 2013,pukul 13:00 s/d 14.30 wib

Tempat            :Di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian universitas jambi.

Alat dan Bahan        

 Alat                 :oven,timbangan,kertas label

 Bahan              : Kecambah normal dari uji keserempakan tumbuh benih 4 x 24 jam dan 5 x 24 jam.

Cara kerja  : Kecambah tersebut dibuang cotyledonnya, kemudian di jemur pada suhu +600 C selama 2 hari,setelah itu dioven dan setelah itu ditimbang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

 

                     

 

 

 

 

 

 

 

 

Pembahasan:

Uji berat kering kecambah (bobot kecambah) merupakan uji dari vigor benih yang secara tidak langsung di lihat dari pertumbuhan benih. Berat kering yang di hasilkan dari suatu perkecambahan akan mencerminkan kondisi fisiologis dari benih tersebut, sebab benih dengan mutu fisiologis tinggi maka akan menghasilkan vigor yang tinggi pula.

Dengan adanya perbedaan kondisi fisioogis benih akan menghasilkan perbedaan pula pada berat kering kecambah. Uji berat kering ini di ambil dari hasil uji keserempakan berkecambah, karena antara keserempakan berkecambah dengan uji berat kering memiliki kaitan dengan vigor benih.

Benih vigor suatu benih akan tinggi apabila memiliki berat kering kecambah yang maksimum pula, dan bila vigor tinggi maka kualitas dan mutu benih akan tingggi, sehingga para petani yang akan menggunakan suatu benih tidak akan merasa di rugikan serta benih ini bisa di budidayakan dengan teknik yang baik.

 

PERTANYAAN

 1. Bagaimana pengaruh keserempakan tumbuh benih terhadap berat kering                             kecambah

 2.Hubungan berat kering kecambah terhadap mutu benih !

      Jawaban    :

1. Pengaruh keserempakan tumbuh dnegan berat kering adalah semakin tinggi keserempakan berkecambah yang di hasilkan maka berat kering yang akan di dapat akan tinggi pula, dan apabila berat kering kecambah tinggi, maka benih memiliki mutu yang tinggi.

2. Hubungan berat kering dengan mutu benih

– Mutu benih yang tinggi apabila memiliki berat kering yang tinggi

– Apabila mutu benih tinggi maka vaibilitas dan vigor benih akan tinggi pula

 

 

 

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan diatas, dapat simpulkan bahwa :

Berat kering suatu kecambah dapat menentukan mutu dari benih tersebut, apabila suatu benih memiliki berat kering kecambah yang besar, itu menandakan bahwa benih tersebut memiliki mutu yang baik. Karena benih tersebut bias menahan dan menyimpan cadanagan makanan dalam kondisi kekurangan air.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM XII

Judul  : Uji Kekuatan Tumbuh Benih Terhadap Kekeringan.

Latar Belakang

Kekutan tumbuh benih adalah kemampuan benih untuk berkecambah normal dalam kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan, sehingga diharapkan benih tersebut dapat menjadi tanaman normal meskipun kondisi lingkungan sib optimum.

Pada tanah yang mengandung kadar garam tinggi, terutama NaCl dapat menyababkan terhambatnya perkecambahan, hal ini terutama disebabkan oleh pengaruh tekanan osmose.

Semakin tinggi konsentrasi atau kental larutan itu (garam/NaCl) maka tekanan osmose yang semakin tinggi, dengan demikin semakin banyak molekul-molekul air diikat oleh NaCl tersebut, sehingga semakin sedikit air yang masuk ke dalam benih dalam proses imbibisinya.

Metode tekanan osmose tinggi dapat digunakan untuk menduga ketahanan benih terhadap salinitas. Benih yang kuat dapat tumbuh dengan kuat dan baik serta merata dalam kondisi kekurangan air, sedangkan benih yang tidak kuat tidak akan tumbuh.

Penilaian kekuatan tumbuh benih digolongkan atas kecambah kuat, kurang kuat, abnormal, dan mati. Untuk memudahkan penilaian kelompok kecambah yang dinilai, terlebih dahulu digolongkan atas kecambah kuat dan krang kuat. Kecambah yan abnomal digolongkan sebagai mati.

Penilaian kuat dan kurang kuat dilakukan dengan membandingkan kecambah satu dengan lainnya dalam satu substrat. Benih-benih yang dapat berkecambah normal dalam kondisi larutan NaCl yang demikian diharapkan juga dapat berkecambah normal dalam keadaan lingkungan kekeringan. Disamping itu juga dapat digunakan untuk uji pertanaman di daerah rawa dimana pada daerah ini salinitasnya tinggi.

 

Tujuan           : Untuk mengetahui ketahanan benih terhadap kekeringan dan selinitas tinggi.       

 

TINJAUAN PUSTAKA

Daya kecambah benih memberikan informasi kepada pemakai benih akan kemampuan benih tumbuh normal menjadi tanaman yang berproduksi wajar dalam keadaan biofisik lapangan yang serba optimum.

Parameter yang digunakan dapat berupa persentase kecambah normal berdasarkan penilaian terhadap struktur tumbuh embrio yang diamati secara langsung. Atau secara tidak langsung dengan hanya melihat gejala metabolism benih yang berkaitan dengan kehidupan benih. Persentase perkecambahan adalah persentase kecambah normal yang dapat dihasilkan oleh benih murni pada kondisi yang menguntungkan dalam jangka waktu yang sudah ditetapkan.

Metoda perkecambahan dengan pengujian di laboratorium hanya menentukan persentase perkecambahan total. Dan dibatasi pada pemunculan dan perkembangan struktur-struktur penting dari embrio, yang menunjukkan kemampuan untuk menjadi tanaman normal pada kondisi lapangan yang optimum. Sedangkan kecambah yang tidak menunjukkan kemampuan tersebut dinilai sebagai kecambah yang abnormal. Benih yang tidak dorman tetapi tidak tumbuh setelah periode pengujian tertentu dinilai sebagai mati.

Agar hasil persentase perkecambahan yang didapat dengan metoda uji daya kecambah di laboratorium mempunyai korelasi positif dengan kenyataan nantinya di lapangan maka perlu diperhatikan factor-faktor berikut ini:

1. Kondisi lingkungan di laboratorium harus menguntungkan bagi perkecambahan benih dan terstandardisasi.

2. Pengamatan dan penilaian baru dilakukan pada saat kecambah mencapai suatu fase perkembangan, di mana dapat dibedakan antara kecambah normal dan kecambah abnormal.

3. Pertumbuhan dan perkembangan kecambah harus sedemikian sehingga dapat dinilai mempunyai kemampuan tumbuh menjadi tanaman normal dan kuat pada keadaan yang menguntungkan di lapangan.

4. Lama pengujian harus dalam jangka waktu yang telah ditentukan.

Umumnya pelaksanaan uji perkecambahan berlangsung selama beberapa hari atau minggu sehingga kesimpulan dari suatu uji perkecambahan secara langsung tidak dapat segera diketahui.

Uji salinitas merupakan suatu cara pengujian daya kecambah benih di lingkungan yang tertekan atau merugikan bagi benih. Salah satunya dengan menggunakan larutan garam yang disemprotkan pada substrat tempat tumbuh benih sehingga lingkungan tempat tumbuh menjadi tidak menguntungkan bagi benih. Biasanya benih juga direndam dahulu ke dalam larutan garam. Dari pengujian ini kita dapat mengetahui persentase vigor benih, deterioasi benih, dan kualitas benih. Pengamatan terhadap benih dilakukan pada FDC sesuai dengan masing-masing jenis benih, misalnya untuk kedelai dari hari ke-4 hingga hari ke-8. Larutan garam yang digunakan tergantung pada penguji, misalnya dibandingkan antara benih yang dibasahi substrat media tumbuh atau direndam larutan garam 0,5% dengan 1%. Pengujian dapat dilakukan dengan metode UKDp. Prosedur pengujiannya sama, kecuali kertas merang dibasahi dengan larutan garam saja.

Untuk mengevaluasi kecambah digunakan criteria sebagai berikut:

a. Kecambah normal

1. Kecambah yang memiliki perkembangan system perakaran yang baik terutama akar primer dan untuk tanaman yang secara normal menghasilkan akar seminal maka akar ini tidak boleh kurang dari dua.

2. Perkembangan hipokotil yang baik dan sempurna tanpa ada kerusakan pada jaringan-jaringannya.

3. Pertumbuhan plumula yang sempurna dengan daun hijau dan tumbuh baik, di dalam ata muncul dari koleoptil atau pertumbuhan epikotil yang sempurna dengan kuncp yang normal.

4. Memiliki satu kotiledon untuk kecambah dari monokotil dan dua bagi dikotil.

Kekurangan lain yang masih dapat diterima untuk dinyatakan sebagai kecambah normal adalah:

– Untuk kecambah dari benih-benih Pisum, Vicia faba, Phaseolus, Lupinus, Vigna, Glycine, Arachis, Gossypium, Zea, dan Cucurbitaceae, tanpa akar primer atau dengan akar primer yang pendek ditambah dua akar seminal yang kuat.

– Hipokotil boleh memperlihatkan sedikit kerusakan atau kebusukan yang terbatas asalkan jaringan-jaringan penting tidak terganggu fungsinya.

– Untuk dikotil yang kehilangan satu kotiledonnya.

– Untuk benih pohon-pohonan dengan tipe perkecambahan epigeal dikatakan normal apabila panjang akar 4 x panjang benih dan mempunyai perkembangan struktur yang normal.

– Kecambah yang busuk karena infeksi oleh kecambah lain masih dianggap normal, kalau jelas bahwa sebelumnya bagian-bagian penting dari kecambah itu semua ada.

b. Kecambah abnormal

1. Kecambah yang rusak, tanpa kotiledon, embrio yang pecah dan akar primer yang pendek.

2. Kecambah yang bentuknya cacat, perkembangannya lemah atau kurang seimbang dari bagian-bagian yang penting. Plumula yang teputar, hipokotil, epikotil, kotiledon yang membengkok, akar yang pendek. Koleoptil yang pecah atau tidak mempunyai daun; kecambah yang kerdil.

3. Kecambah yang tidak membentuk klorofil.

4. Kecambah yang lunak.

5. Untuk benih pepohonan bila dari mikrofil keluar daun dan bukannya akr.

c. Mati

Criteria ini ditujukan untuk benih-benih yang busuk sebelum berkecambah atau tidak tumbuh setelah jangka waktu pengujian yang ditentukan, tetapi bukan dalam keadaan dorman.

d. Benih keras

Benih kacang-kacangan, kapas, Hibiscus spp yang pada akhir uji daya kecambah masih keras karena tidak menyerap air disebabkan kulit yang impermeable, dianggap sebagai benih yang berkulit keras. Persentase benih yang berkulit keras harus disebutkan tersendiri dalam analisa.

e. Benih yang belum busuk tetapi tidak berkecambah

Benih Leguminosae, Gossypium sp dan Hibiscus sp yang telah membengkak karena menyerap air tetapi belum berkecambah pada akhir pengujian harus dikategorikan tersendiri.

 

 

 

 

 

 

 

METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat

Praktikum Teknologi Benih ini dilaksanakan pada :

Hari                : Kamis,2 May 2013,pukul 13:00 s/d 14:30 wib.

Tempat            :Di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian universitas jambi.

Alat dan Bahan        

 Alat                 : Germminator, kertas stensil, pinset, garam dapur (NaCl),wadah tempat merendam  substrat kertas.

 Bahan              : Benih padi, kedelai dan jagung. Germminator, kertas stensil, pinset, garam

                          dapur (NaCl).

Cara Kerja  :

Buat 58,5 g NaCl per liter (1 M) setara dengan 49,2 atm tekanan osmose, NaCl 0,2 M (11,7 g NaCl per liter air) yang setara dengan 7,6 atm tekanan osmose.

Substrat kertas direndam dalam larutan garam NaCl sampai merata Sebanyak 3 lembar.

Taburkan benih diatas kertas tersebut masing-masing sebanyak 25 butir dengan memakai metode UKDdp, dibuat 4 ulangan.

Kemudian dikecambahkan pada alat perkecambahan (germinator).

Lakukan penyempotan dengan larutan garam, agar kondisi tetap lembab.

Sebagai indikator dibuat pembanding sebagai control (substrat dibasahi dengan air biasa).

Pengamatan ;Pengamatan hanya dilakukan satu kali yaitu 5 x 24 jam terhadap kecambah normal, kuat, lemah, mati.

Perhitungan :

(%) perkecambahan =        jumlah kecambah normal          x 100 %

                                    Jumlah benih yang di kecambahkan

Kecambah normal = normal kuat + normal lemah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 Hasil  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PERTANYAAN

1. Apabila masing-masing benih yang berkecambah normal 75% dikatagorikan vigor, maka termasuk vigorkah masing-masing benih yang saudara uji, berikan alasan jawaban saudara !

2. Hitung berat keing kecambah dari masing-masing perlakuan tersebut !

3. Apa yang dimaksud dengan salinitas dan apa hubungannya dengan vigor, dan dengan berat kering kecambah ?

      Jawaban    :

Dari data pengujian yang kami peroleh, maka benih yang kami kecambahkan memiliki kecambah yang rendah dan bervigor rendah pula, karena ia tidak bisa bertahan pada keadaan yang suboptimum Untuk berat kering kecambah tidak dapat dilakukan perhitungan karena banyak memakan waktu.

Salinitas merupakan tingkat kandungan garam air dalam perseribu.Semakin tinggi salinitas dalam suatu benih, maka semakin kecil air yang akan masuk kedalam benih, sehingga dapat berdampak pada pertumbuhan kecambah yang abnormal maupun mati . yang dalam hal ini menandakan vigor pada suatu benih itupun menjadi rendah .Sedangkan hubungan vigor dengan berat kering kecambah, ialah semakain tinggi vigor dari suatu tanaman, maka kekuatan kecambahnya semakin tinggi, sehingga dapat berdampak pada berat kering suatu kecambah itu sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan diatas, dapat simpulkan bahwa :

Kekuatan tumbuh benih merupakan kemampuan benih untuk berkecambah normal dalam kondisi lingkungan yang kurang meguntungkan. Pengaruh konsentrasi garam yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan kecambah beniuh kedelai , karena dapat mempengaruhi tekanan osmose dari tanaman bila dibandingkan dengan menggunakan konsentrasi garam yang rendah , dan dapat dibuktikan dengan adanya data- data yang diperoleh .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM XIII

Judul                : Pengujian Kekuatantumbuh Benih Dengan Media Bata Merah (Red Brick    Test), Vigor Fisiologis Dan Genetik.

Latar Belakang

kemampuan benih untuk berkecambah normal dalam kondisi lingkingan yang sub optimum mencerminkan kekuatan tumbuh benih.kondisi sub optimum dengan menggunakan media bata merah dalam percobaan ini mencerminikan kondisi kekeringan,dan pada bata merah memiliki kemampuan mengikat air yang rendah.dan pada prinsipnya hanya pada vigor-vigor sajalah yang dapat mempunyai kekuatan cukup untuk mendorong diri nya sendiri melalui lapisan kerikil yang keras.

 

Tujuan

  • Untuk mengetahui ketahanan benih terhadap kekeringan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

METODE PRATIKUM

Waktu dan Tempat

Adapun tempat dan waktu dilaksanakan pratikum pada kali ini yaitu

Praktikum dilaksanakan pada hari kamis,2-Mei-2013, Pukul 13.00 WIB – selesai. Bertempat di Laboratoriumteknologi benih Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

 

Bahan dan Alat

  • Bahan
  • Benih Kedelai
  • Benih jagung
  • Benih padi
  • Benih kacang tanah
  • Media bata merah

 

  • Alat
  • Pot
  • Label
  • Alat tulis

Cara Kerja

kekuatan pada bata merah

  1. Tanam masing-masing benih pada kedalaman 2 cm
  2. Siram bata merah atau basahi sedikit dengan air bata merah tersebut samapai basah,kemdian baru benih ditanam.
  3. Dan amati setiap hari pada saat penyiraman dan catat hasil data tersebut dan dokumentasikan.

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

kekuatan tumbuh benih pada tanaman dengan media bata merah

Nama benih

Normal

abnormal

mati

Benih jagung

9

1

Benih kedelai

7

1

2

Benih kacang tanah

3

6

1

Benih padi

5

3

2

 

Pembahasan

Pada pratikum tentang kekuatan tumbuh benih pada bata merah pada benih jagung dapat tumbuh dengan baik dan kacang tanah juga dapat tumbuh dengan baik sedangkan pada kacang tanah dan padi pertumbuhan nya kurang baik hal ini di sebabkan karena pada pertumbuhan yang merupakan vigor saja yang mempunyai kekuatan cukup untuk mendorong diri nya sendiri melalui lapisan kerikil yang keras.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan diatas, dapat simpulkan bahwa :

Dari hasil yang di peroleh, dapat di simpulkan bahwa dengan adanya uji kekuatan benih dengan substrat pasir ini kita dapat mengetahui apakah benih yang kita tanam tersebut memiliki kekuatan benih yang baik dan tahan terhadap kekeringan, sehingga apabila kita tanam pada keadaan sebenarnya akan tumbuh dengan baik pula sehingga tidak merugikan bagi kita. Dari hasil pengujian ini benih kedelai yang ditumbuhkan memiliki kekuatan tumbuh yang kurang baik baik di lihat dari persentase benih normalnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM XVII

 Judul : Uji kekuatan tumbu benih dengan metode UHDp (uji hoppe diruba dalam plastik)

Latar Belakang

Caranya seperti pada UKDdP hanya bedanya sebelum substrat di tutup dengan substrat lain, ditaburi tanah bekas pertanaman yang terserang penyakit, seingga metode menjadi UHDp atau UHDdp. untuk UHDdp caranya seperti UKDdp bedanya di taburi tanah sebelum ditutup, di gulung.

 

Tujuan : Untuk menguji kekuatan tumbuh benih terhadap serangan suatu penyakit.          

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

METODE PRAKTIKUM

 Waktu dan Tempat 

Praktikum Teknologi Benih ini dilaksanakan pada :

Hari                :Kamis,02  mei 2013,pukul 13:00 s/d 14:30 wib.

Tempat            :Di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian universitas jambi.

Alat dan Bahan        

 Alat                 : – Substrat kertas berukuran 20 cm x 30 cm.

    – Plastic berukuran 20 cm x 30 cm

   – Pinset, alat pengecambah benih, benih jagung, kedelai, kacang tanah.

Bahan              : – Tanah bekas pertanaman yang terserang suatu penyakit yang telah  

                            dilembabkan.

Cara Kerja  : – Ambil kertas dan benih kedelai , setelah itu basahi dengan air

– Substrat yang telah dibasahi (3 lembar) diletakkan di atas plastic.

– Tanam benih memenuhi substrat tersebut (seperti pada UKDp)

– Tabur tanah yang telah di lembabkan pada substrat tersebut.

– Tutup dengan substrat lain, gulung.

– Letakkan di atas pengecambah secara di tidurkan.

Pengamatan : Untuk, kedelai dan sebagainya 4 x 24 jam.

Tugas ; Berikan kesimpulan saudara!!!

      Jawaban    :

Kemapuan suatu benih untuk hidup / berkecambah normal itu dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu genetis dan lingkungan . didalam vaktor genetis, terdapat pula salah satu nya ialah vigor yang sangat memegang peranan penting . sedangkan untuk factor lingkungan , kita dapat melihat dari penambahan perlakuan yang kita berikan serta dampak nya terhadap benih yang kita berikan. Dimana kedua factor ini sangat penting dan saling berkaitan satu sama lain .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Pembahasan

Perbedaan akan adanya benih yang sehat dan terserang penyakit setelah didalam germinator , menandakan kaitan suatu benih terhadap ketahanan dirinya yang biasa kita katakana benih yang memiliki vigor.

Vigor benih : suatu ukuran kemampuan potensial benih untuk berkecambah dan tumbuh cepat , serta menghasilkan kecambah normal pada saat kondisi yang kurang menguntungkan.

Ciri-ciri benih bervigor tinggi , yaitu :

  • Tahan disimpan dalam kurun waktu yang lama
  • Berkecambah cepat dan merata tumbuhnya
  • Bebas dari penyakit benih
  • Tahan terhadap serangan mikroorganisme
  • Bibit tumbuh kuat , baik ditanah basah maupun kering
  • Dapat mentimpan persedian makanan dalam benih semaksimum mungkin sehingga dapat menumbuhkan jaringan baru.
  •  Laju pertumbuhannya tinggi
  • Mampu menghasilkan tanaman dewasa yang normal dan berproduksi tinggi , baik dalam keadaan lingkungan tumbuh yang tidak optimum.
  • Bebih nya dapat tahan saingan , baik itu gulma,dsb
  • Tidak terdapat perbedaan yang mencolok, pada saat ditumbuhkan kelapang.

Ini menandakan bahwa benih yang terserang penyakit memiliki vigor rendah dan benih yang sehat memiliki vigor yang tinggi.

Sedangkan untuk jamur yang menyerang benih/ kecambah dapat merusak kotiledon maupun bagian dari benih maupun tanaman itu sendiri, sehingga ia sulit untuk hidup maupun mengecambahkan dirinya, yang nantinya akan berdampak pada suatu keadaan yang dinamakan kematian dan benih tidak mampu berkecambah sebagai mana mestinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan diatas, dapat simpulkan bahwa :

Vigor suatu benih itu dapat mencerminkan vigor suatu kecambah, vigor bibit, maupun vigor tanaman. Pada yang sebenarnya , vigor benih itu harus :

1. .Perkecambahan cepat

2. Perkecambahan serempak dan tanaman mampu tumbuh dalam kondisi subotimum

3. Kemampuan kecambah menembus tanah padat/keras

4. Mampu berkecambah pada kondisi suhu rendah, kelebihan air, atau tanah terinfeksi pothogen

5. Menghasilkan produksi tinggi

6. Daya simpan tinggi

Untuk itu benih yang terserang penyakit dapat dikatakan sebagai benih yang memiliki vigor yang rendah, sedangkan untuk benih yang sehat dikatakan benih yang memiliki vigor yang tinggi.

Selain dikarenakan vigor, benih yang tidak normal dapat diakibatkan oleh peran penambahan tanah yang terserang penyakit, sehingga berakibat pada kedelai terserang jamur putih .

 

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM XVIII

Judul  : Pengaruh serangan serangga hama terhadap perkecambahan benih.

Latar Belakang

Benih atau biji terdiri dari embrio dan bagian lain yang berfungsi sebagai tempat cadangan makanan yang di perlukan pada waktu benih berkecambah. bagian tersebut umumnya banyak mengandung karbohidrat, protein dan lemak, sehingga sering juga dimanfaatkan oleh organism lain sebagai makanannya. sala satu di antaranya ialah serangga. adanya serangan serangga hama di penyimpanan benih dapat menimbulkan berbagai kerusakan teradap benih misalnya, matinya embryo, menurunnya viabilitas benih, kehilangan berat atau biji berlubang. serangan hama dapat merusak benih sehingga beni mati atau vigornya menurun, tetapi dapat pula secara tidak langsung yaitu dengan meningkatkan suhu serta kelembaban lingkungan penyimpanan akibat hasil sampingan respirasi.

 

Tujuan : Mempelajari pengaruh serangan serangga hama terhadap perkecambahan benih. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat  

Praktikum Teknologi Benih ini dilaksanakan pada :

Hari                :Kamis,16 mei 2013,pukul 13:00 s/d 14:30 wib

Tempat            :Di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

Alat, bahan dan metode      

 Alat, bahan dan metode :

  • sejumlah benih jagung yang terserang serangga siophilus zeamais  motschulsky dibagi menjadi dua bagian.
  • satu bagian di gunakan untuk di uji perkecambahannya dengan menggunakan metode UKD sebanyak 2 ulangan dan 25 butir perulangan.
  • sebagian lagi digunakan untuk mengetahui persentase biji berlubang.
  • benih yang tidak diserang (asal, varietas dan disimpan dilingkungan yang sama ) di uji pula perkecambahannya untuk di gunakan sebagai pembanding, sebanding 2 ulangan dan 25 butir / ulangan
  •  pengamatan dilakukan pada hari ke 7.

 

 

 

 

 

 

Tugas

  • bandingkan perkembahan benih normal pada benih terserang dengan tidak terserang hama.
  • apakah ada persamaan antara jumlah biji berlubang dengan biji mati atau dengan jumlah mati ditambah abnormal.

 

 

Jawaban    :

Tidak terdapat persamaan antara biji yang berlubang, mati maupun abnormal . atau dengan jumlah mati ditambah abnormal.karena disini terjadi perbedaan yang sangat prinsip. Bahwa benih yang terserang hama masih bisa melanjutkan perkecambahannya asalkan benih yang terserang hama/ serangga masih dalam kisaran yang kecil, dan didalam benihnya masih terdapat cadangan makanan . berbeda dengan benih yang mati, ia tidak dapat melanjutkan kehidupannya karena pertahanan dari vigornya saja dapat digolongkan rendah, apalagi bila tidak didukung oleh keadaan lingkungan yang baik pula. Kemungikinan hidupnya pun dapat dikatakan tidak ada karena benihnya mati.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil    :

Benih padi yang terserang hama dan yang tidak terserang hama

 

BENIH SEHAT

 

BENIH TERSERANG

                                                              

Pembahasan

Benih yang terserang hama memiliki persentase yang rendah yaitu 38,52%, ini menandakan bahwa kemampuan suatu benih untuk tumbuh/ berkecambah sangatlah rendah. Adanya serangan serangga hama di penyimpanan benih dapat menimbulkan berbagai kerusakan teradap benih misalnya, matinya embryo, menurunnya viabilitas benih, kehilangan berat atau biji berlubang.

Serangan hama dapat merusak benih sehingga benih mati atau vigornya menurun, tetapi dapat pula secara tidak langsung yaitu dengan meningkatkan suhu serta kelembaban lingkungan penyimpanan akibat hasil sampingan respirasi dan berdampak pada benih itu sendiri menjadi mati dan dihinggapi jamur, sehingga benih jagung tidak dapat melangsungkan kehidupannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan diatas, dapat simpulkan bahwa :

Benih yang digunakan dalam pratikum ini memiliki persentase benih berlubang yang tinggi yang disebabkan oleh serangan dari serangga. Hal ini dapat terjadi karena faktor genetis benih yang dibawa oleh pratikan sangatlah rendah , sehingga keseuaian benihnya pun dapat tergolong rendah dan dihinggapi jamur.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Sutopo , lita. 1993. Teknologi Benih . Fakultas Pertanian UNIBRAW . Pt

Kamil , jurnalis . 1979 . Dasar Teknologi Benih . Angkasa Raya , Padang.

tim Pengampu Mata Kuliah Teknologi Benih. 2007. Pengantar Praktikum Teknologi Benih. Jambi. Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

www.google.com

Nasrudin. 2009. Kecambah normal dan abnormal. http://teknologibenih.blogspot.com/2009/08/yang-dimaksud-kecambah normal -abnormal-ialah.html

Rineka Cipta. 1986. Teknologi Benih. Pengolahan benih dan tuntunan praktikum. Rineka Cipta, Jakarta. hlm. 120-122.